Setiap lembar Al-Qur’an adalah samudera hikmah yang tak pernah kering. Di dalamnya terkandung petunjuk bagi setiap jiwa yang dahaga akan kebenaran. Namun, untuk menyelami kedalaman makna wahyu ini, kita diajak untuk tidak hanya membaca lafazhnya, melainkan juga memahami konteks di balik setiap ayat dan surah. Salah satu gerbang ilmu yang fundamental dalam menyingkap rahasia ini adalah memahami klasifikasi Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur’an.
Pembedaan antara surah Makkiyah (diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah) dan Madaniyah (diturunkan setelah hijrah) bukanlah sekadar pembagian administratif belaka. Lebih dari itu, ia adalah peta jalan yang menuntun kita memahami tahapan dakwah Nabi, evolusi syariat, serta perubahan kondisi sosial umat Islam. Dengan memahami kategori ini, kita diajak merenungkan betapa agungnya strategi ilahi dalam mendidik dan membimbing umat manusia.
Memahami Klasifikasi Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur’an: Pilar Ilmu Al-Qur’an
Mengapa pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah begitu esensial? Karena ia membantu kita menempatkan setiap ayat pada bingkai sejarah dan sosio-kultural yang tepat. Ini adalah ilmu yang memungkinkan kita untuk mengidentifikasi mana ayat yang berbicara tentang fondasi akidah dan tauhid yang kokoh (ciri khas Makkiyah), dan mana yang mengatur hukum-hukum muamalah, peradilan, perang, serta struktur masyarakat Islam (ciri khas Madaniyah).
Para ulama salaf telah mengabdikan diri mereka untuk mengkaji dan mengklasifikasikan surah-surah Al-Qur’an ini dengan detail. Di antara mereka adalah seorang ulama besar, Abu Al-Hasan bin Al-Hassar, yang dalam kitabnya An-Nasikh wal Mansukh, telah mengemukakan pembagian yang disepakati sekaligus yang diperselisihkan. Beliau menuturkan, “Dua puluh surah adalah Madaniyah berdasarkan kesepakatan, dua belas surah diperselisihkan (apakah Makkiyah atau Madaniyah), dan selain itu adalah Makkiyah berdasarkan kesepakatan.” Beliau bahkan menazhomkan kaidah ini dalam bait-bait syairnya untuk memudahkan pemahaman para penuntut ilmu:
يَا سَائِلِي عَنْ كِتَابِ اللَّهِ مُجْتَهِدًا
وَعَنْ ترتب مَا يُتْلَى مِنَ السُّوَرِ
وَكَيْفَ جَاءَ بِهَا الْمُخْتَارُ مِنْ مُضَرٍ
صَلَّى الْإِلَهُ عَلَى الْمُخْتَارِ مِنْ مُضَرِ
وَمَا تَقَدَّمَ مِنْهَا قَبْلَ هِجْرَتِهِ
وَمَا تَأَخَّرَ فِي بَدْوٍ وَفِي حَضَرِ
Wahai penanya tentang Kitab Allah yang bersungguh-sungguh,
Dan tentang susunan surah-surah yang dibaca,
Dan bagaimana pilihan dari Mudhar (Nabi Muhammad) membawanya,
Semoga Allah bershalawat atas pilihan dari Mudhar.
Dan apa yang diturunkan darinya sebelum hijrahnya,
Dan apa yang diturunkan sesudahnya, baik di pedalaman maupun di kota.
Surah Madaniyah dan Perdebatan Klasifikasi Surah dalam Al-Qur’an
Menurut nazhom Imam Abu Al-Hasan bin Al-Hassar, ada dua puluh surah yang secara umum disepakati sebagai Madaniyah. Di antaranya adalah empat surah awal dari tujuh surah terpanjang, yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, dan Al-Ma’idah. Kemudian disusul dengan surah Al-Anfal, At-Taubah, An-Nur, Al-Ahzab, Surah Muhammad, Al-Fath, Al-Hujurat, Al-Hadid, Al-Mujadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Al-Munafiqun (surah yang banyak menyingkap kaum munafik), Al-Jumu’ah, At-Talaq, At-Tahrim, dan An-Nasr.
Adapun surah-surah yang masih menjadi perdebatan para ulama mengenai status Makkiyah atau Madaniyah-nya, nazhom beliau menyebutkan contoh seperti:
- Ar-Ra’d
- Ar-Rahman (yang banyak menyertakan ucapan jin dalam khabar)
- As-Saff (dikenal juga sebagai Surah Al-Hawariyyin)
- At-Taghabun
- Al-Muthaffifin
- Al-Qadr
- Az-Zalzalah
- Al-Ikhlas (Qul Huwallahu Ahad)
- Al-Falaq dan An-Nas (Al-Mu’awwidzatain)
Sisa dari surah-surah Al-Qur’an yang tidak termasuk dalam kategori dua puluh yang disepakati Madaniyah, maupun dua belas yang diperselisihkan, maka secara umum disepakati sebagai surah Makkiyah. Pemahaman terhadap klasifikasi Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur’an ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam kekeliruan memahami sebuah hukum atau konteks ayat.
Hikmah di Balik Perbedaan Turunnya Surah
Lantas, apa hikmah di balik perbedaan penurunannya? Mengapa Allah ﷻ memilih untuk menurunkan Al-Qur’an secara bertahap dan dengan konteks yang berbeda? Ini adalah wujud kasih sayang Allah ﷻ dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas. Sebagaimana firman-Nya:
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا
Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya sebagian demi sebagian. (Q.S. Al-Isra’: 106)
Penurunan Al-Qur’an yang bertahap ini memungkinkan umat Islam untuk secara perlahan menginternalisasi ajaran-ajaran Islam, membangun fondasi akidah yang kuat di fase Makkiyah, dan kemudian mengimplementasikan syariat yang lebih kompleks di fase Madaniyah. Dengan demikian, ajaran Islam dapat diterima, dipahami, dan diamalkan secara bertahap, sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan masyarakat saat itu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang realistis, yang memahami kondisi manusia dan lingkungannya.
Merengkuh Hikmah Agung Melalui Klasifikasi Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur’an
Memahami klasifikasi Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur’an tidak hanya menambah wawasan keilmuan, tetapi juga mengantarkan kita pada perenungan mendalam akan keagungan kalamullah. Ia mengajarkan kita untuk tidak gegabah dalam menafsirkan ayat, melainkan senantiasa mempertimbangkan asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), serta kondisi sosial dan psikologis umat saat itu.
Sebagai contoh, ketika membaca ayat-ayat tentang jihad atau peperangan, pemahaman bahwa ia adalah surah Madaniyah akan memberikan konteks bahwa ayat-ayat tersebut turun pada masa di mana umat Islam telah membentuk sebuah negara dan menghadapi agresi dari musuh. Ini berbeda dengan surah-surah Makkiyah yang lebih fokus pada ketauhidan dan kesabaran di tengah penindasan. Al-Qur’an adalah petunjuk yang komprehensif, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah ﷻ:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (Q.S. An-Nahl: 89)
Dengan menyelami ilmu ini, kita tidak hanya menjadi pembaca Al-Qur’an yang pasif, melainkan menjadi perenung yang aktif, yang terus berusaha menggali mutiara hikmah dari setiap lafazh-Nya. Ini akan memupuk kecintaan kita kepada Al-Qur’an, memperkuat iman kita, dan menginspirasi kita untuk mengamalkan ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita terus bersemangat dalam mempelajari Al-Qur’an dengan segala aspek keilmuannya, termasuk klasifikasi Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur’an. Karena dengan pemahaman yang utuh, kita akan merasakan manisnya iman dan ketenangan jiwa yang hakiki. Jadikan setiap jejak langkah kita adalah upaya mendekatkan diri kepada-Nya melalui kalam suci-Nya. Jika Anda mendambakan bimbingan mendalam dalam memahami Al-Qur’an, Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk menemani perjalanan spiritual Anda meraih kemuliaan Al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surat Al-Isra’ Ayat 106
- Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 89
- As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Itqan fi Ulumil Quran. Kairo: Al-Hai’ah Al-Mishriyah Al-Ammah lil Kitab, 1394 H/1974 M.
