Lisan adalah anugerah terbesar sekaligus amanah yang paling berat. Dari lisanlah kebaikan tersebar, persaudaraan terjalin, ilmu dibagikan, hingga hidayah sampai kepada jiwa-jiwa. Namun, dari lisan pula, bisa muncul perpecahan, permusuhan, bahkan dosa yang menjerumuskan. Betapa perkataan kita mampu membentuk realitas, memengaruhi hati, dan meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Dalam Islam, kesopanan dan tutur kata yang baik bukanlah sekadar etika sosial biasa, melainkan cerminan dari keimanan, kedalaman spiritual, dan ketaatan kepada ajaran mulia.

Kita sering mendengar ungkapan “lisanmu adalah harimaumu”. Ungkapan ini menjadi pengingat yang sangat kuat tentang bagaimana perkataan yang tidak terkontrol dapat membawa bencana. Namun, jika kita mampu mengendalikan dan mengarahkannya pada kebaikan, lisan dapat menjadi jembatan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Memahami dan mengamalkan adab berbicara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ adalah langkah esensial bagi setiap Muslim yang ingin mencapai kemuliaan hidup.

Adab Berbicara yang Dicontohkan Rasulullah ﷺ

Baginda Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan sempurna dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam bertutur kata. Gaya bicara beliau adalah manifestasi dari akhlak Al-Qur’an. Kita bisa belajar banyak dari cara beliau berinteraksi, berdakwah, dan memberi nasihat. Pertama dan terpenting, beliau selalu berbicara dengan kebenaran. Tidak ada dusta atau manipulasi dalam setiap kalimat yang keluar dari lisan sucinya. Kejujuran adalah pondasi utama adab berbicara Islami.

Selain jujur, Rasulullah ﷺ juga dikenal karena kelembutan dan kesantunan perkataannya. Beliau tidak pernah kasar, mencela, atau merendahkan orang lain, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an menggambarkan sifat lembut beliau:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (Q.S. Ali ‘Imran: 159)

Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan adalah kunci untuk menarik hati dan menyatukan umat. Seandainya beliau ﷺ berbicara dengan kasar, niscaya orang-orang akan lari menjauh. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita, terutama bagi para pendidik, pemimpin, atau siapa saja yang ingin menyampaikan kebaikan. Kelembutan dan kesantunan dalam bertutur kata akan membuat pesan lebih mudah diterima dan dicerna.

Adab lain yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah berbicara sesuai kebutuhan dan menghindari perkataan sia-sia. Lisan beliau adalah lisan yang penuh hikmah, setiap kata memiliki makna dan tujuan. Beliau tidak menghabiskan waktu dengan berbincang hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi ghibah (menggunjing) atau fitnah. Kita diajarkan untuk menjaga lisan dari hal-hal yang tidak perlu, karena setiap perkataan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Rasulullah ﷺ juga selalu menjadi pendengar yang baik. Mendengar dengan saksama adalah bagian integral dari komunikasi yang efektif dan adab berbicara yang mulia. Dengan mendengarkan, kita menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara, memahami perspektif mereka, dan dapat memberikan respons yang lebih tepat dan bijaksana.

Pentingnya Kalimah Thayyibah (Perkataan Baik)

Dalam ajaran Islam, ada konsep yang sangat indah dan mendalam tentang “kalimah thayyibah”. Secara harfiah, kalimah thayyibah berarti perkataan yang baik, suci, dan indah. Ini mencakup segala bentuk ucapan yang mengandung kebaikan, kebenaran, manfaat, dan kemuliaan. Contoh kalimah thayyibah yang paling utama adalah kalimat tauhid “La ilaha illallah”, zikir, doa, bacaan Al-Qur’an, nasihat yang tulus, salam, sapaan ramah, hingga perkataan yang menenangkan hati.

Allah Swt. menggambarkan perumpamaan kalimah thayyibah ini dengan sangat indah dalam Al-Qur’an:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِ ۙ تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍۢ بِاِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah thayyibah (perkataan yang baik) seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon itu) menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (Q.S. Ibrahim: 24-25)

Perumpamaan ini menunjukkan bahwa perkataan yang baik memiliki akar yang kuat dalam iman dan kebenaran, cabangnya menjulang tinggi menuju kemuliaan Allah, dan buahnya senantiasa bermanfaat bagi siapa saja yang mendengarnya. Perkataan baik akan terus menghasilkan kebaikan dan pahala, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, kalimah khabitsah (perkataan buruk) diumpamakan seperti pohon yang akarnya tercabut dari bumi, tidak punya kekuatan, dan mudah tumbang, tidak memberikan manfaat sedikit pun.

Manfaat dari kalimah thayyibah sangat luas. Ia membangun hubungan, menenangkan jiwa, menyemangati yang lesu, mendamaikan yang berselisih, dan menyebarkan cinta. Dalam kehidupan bermasyarakat, perkataan baik akan menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh kedamaian. Di lingkungan keluarga, ia akan mempererat kasih sayang dan saling pengertian. Di hadapan Allah, kalimah thayyibah adalah amal saleh yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita.

Mengamalkan Tutur Kata yang Baik dalam Kehidupan Sehari-hari

Mewujudkan adab berbicara Rasulullah ﷺ dan membiasakan kalimah thayyibah dalam hidup kita bukanlah hal yang instan, melainkan sebuah proses yang membutuhkan kesadaran dan latihan terus-menerus. Ada beberapa langkah praktis yang bisa kita terapkan:

  • Berpikir Sebelum Berbicara: Sebelum mengeluarkan kata, biasakan untuk merenungkan apakah perkataan kita akan mendatangkan kebaikan, apakah ia benar, dan apakah ia tidak menyakiti orang lain. Filosofi “diam lebih baik daripada berkata yang sia-sia” adalah panduan utama.
  • Menjaga Lisan dari Perkara Buruk: Hindari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dusta, fitnah, sumpah palsu, perkataan kotor, dan ucapan yang mengandung kesombongan. Ini adalah pintu-pintu dosa besar yang harus kita jaga. Rasulullah ﷺ bersabda,

    “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini secara tegas menunjukkan korelasi antara iman dan kualitas perkataan.

  • Mengucapkan Salam dan Doa: Biasakan menyapa dengan salam, mendoakan kebaikan bagi sesama Muslim, dan mengucapkan kalimat-kalimat yang positif. Hal ini akan menyebarkan energi positif dan mempererat tali persaudaraan.
  • Berbicara dengan Santun dan Rendah Hati: Hindari nada bicara yang tinggi, arogan, atau meremehkan. Gunakan bahasa yang mudah dipahami, penuh empati, dan sesuai dengan konteks lawan bicara.
  • Menjadi Pendengar yang Baik: Berikan perhatian penuh saat orang lain berbicara. Ini adalah bentuk penghormatan dan menunjukkan bahwa kita menghargai pendapat mereka.
  • Membiasakan Zikir dan Tilawah: Memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an akan membersihkan hati dan secara otomatis memengaruhi kualitas perkataan kita. Lisan yang terbiasa basah dengan pujian kepada Allah akan sulit mengeluarkan kata-kata kotor.

Dengan membiasakan diri untuk berbicara yang baik dan santun, kita tidak hanya memperbaiki kualitas diri kita sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Setiap kalimat yang terucap adalah refleksi dari isi hati. Hati yang bersih, tulus, dan penuh iman akan melahirkan perkataan yang baik, insyaallah.

Mari kita jadikan lisan sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, mempererat silaturahim, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebab, lisan yang mulia akan mengantarkan kita pada kehidupan yang berkah, dunia dan akhirat. Mempelajari dan menghafal Al-Qur’an, kalamullah yang paling mulia, adalah salah satu cara terbaik untuk melatih lisan kita agar senantiasa mengeluarkan kalimah thayyibah, membersihkan hati, dan menyelaraskan perkataan dengan ajaran Islam yang hakiki. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kita akan dibimbing untuk memahami dan menghayati setiap ayat, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam setiap perkataan dan perbuatan.

Daftar Referensi

  • Q.S. Ali ‘Imran: 159
  • Q.S. Ibrahim: 24-25
  • H.R. Bukhari No. 6475 dan Muslim No. 47 (tentang berkata baik atau diam)

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,