Sahabat Qur’an yang hatinya semoga selalu bening karena Allah. Jujur saja ya, sebagai manusia biasa, siapa sih yang tidak senang dipuji? Rasanya ada desiran hangat di dada saat orang lain berkata, “Masya Allah, bacaanmu bagus sekali,” atau saat melihat notifikasi “Like” membanjiri postingan sedekah kita di media sosial. Wajar kok. Sangat manusiawi jika kita merasa “terbang” saat diapresiasi.
Tapi hati-hati, Sahabat. Di balik manisnya pujian itu, terselip racun yang sangat mematikan. Namanya Riya. Ia datang tanpa suara, menyusup halus ke dalam niat, lalu pelan-pelan menggerogoti amal kita sampai habis tak bersisa.
Seperti Membawa Ember Bocor
Bayangkan kita sedang lari maraton membawa ember berisi air emas untuk dipersembahkan kepada Raja. Kita berlari sekuat tenaga, berkeringat, napas terengah-engah, kaki lecet dan perih. Tapi ternyata, ember itu bocor di bawahnya. Begitu sampai di garis finis, embernya kosong melompong. Apa yang terjadi? Sang Raja menolak persembahan kita.
Sakit? Pasti.
Kecewa? Luar biasa.
Capek? Sudah pasti.
Nah, itulah Riya. Kita capek shalat tahajud, lelah berpuasa, habis uang untuk sedekah, tapi di mata Allah nilainya NOL. Kenapa? Karena alamat tujuannya salah. Kita mengirim paket amal itu ke alamat “Pujian Manusia”, bukan ke alamat “Rida Allah”.
Musuh dalam Selimut yang Membuat Hati Gelisah
Sahabat Qur’an, sadar tidak? Orang yang tidak ikhlas itu hidupnya paling menderita. Hatinya tidak pernah tenang. Ia seperti aktor yang selalu berakting di panggung sandiwara, takut topengnya terbuka. Kalau dipuji ia semangat, kalau dicaci atau tidak dianggap, ia langsung lemas dan malas beribadah.
Riya itu merusak hubungan kita dengan Allah. Bayangkan jika pasangan kita memberikan hadiah, tapi ternyata dia bilang, “Aku kasih ini supaya tetangga bilang aku suami romantis.” Sakit kan? Kita merasa diduakan. Begitu juga Allah, Dia Maha Cemburu. Dia tidak mau diduakan dalam niat ibadah hamba-Nya.
Bahkan, ancamannya bukan main-main. Riya disebut sebagai syirik kecil (Syirik Khafi) yang bisa menyeret pelakunya ke dalam azab, padahal ia ahli ibadah.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)
Kembali Murni: Vaksin Bernama Ikhlas
Lalu, bagaimana cara menyembuhkan hati yang sudah terlanjur ingin pamer ini? Jawabannya ada pada satu kata: Ikhlas.
Ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas, tidak ada kata “Ikhlas” di dalamnya, tapi isinya penuh pemurnian. Ikhlas itu ibarat air susu yang murni, bersih dari kotoran darah dan tinja. Intinya begini, saat kita beramal, lupakan pandangan manusia. Fokus saja pada pandangan Allah.
Allah memerintahkan kita untuk memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Tips Praktis: Main Petak Umpet dengan Amal
Sahabat, cobalah sesekali kita “menyembunyikan” amal kebaikan kita, serapat kita menyembunyikan aib dan dosa-dosa kita.
- Kalau shalat sunnah di kamar, kunci pintunya.
- Kalau bersedekah transfer, jangan kirim bukti transfernya ke grup WhatsApp (kecuali untuk laporan amanah).
- Menangis saat doa? Usap air matanya sebelum keluar masjid, pasang wajah biasa saja.
Biarlah itu menjadi rahasia romantis antara kita dan Allah saja. Semakin tersembunyi, semakin aman dari virus riya. Dan jangan lupa, perbanyak zikir memohon perlindungan. Basahi bibir kita dengan doa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedang aku mengetahuinya, dan aku memohon ampunan-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”
Yuk, kita tata lagi hati kita. Sayang sekali kalau capeknya dapat, tapi surganya lewat.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: website resmi Executive Tahfizh
WhatsApp: +6281224003100

