Ilmu adalah pelita yang menerangi kegelapan, tangga pada derajat kemuliaan, dan bekal tak ternilai untuk kehidupan dunia serta akhirat. Namun, meraih keberkahan ilmu sejati bukanlah sekadar perkara kecerdasan atau kecepatan dalam menghafal. Lebih dari itu, ia mensyaratkan sebuah totalitas jiwa, ketekunan yang tak tergoyahkan, dan adab yang luhur. Inilah inti dari keutamaan sikap tekun dan beradab dalam menuntut ilmu, sebuah fondasi yang seringkali terabaikan namun krusial dalam perjalanan kita sebagai penuntut ilmu.
Kita sering beranggapan bahwa menuntut ilmu hanyalah soal “apa” yang dipelajari. Padahal, “bagaimana” kita mempelajari dan “siapa” yang menjadi perantara ilmu itu jauh lebih penting. Para ulama terdahulu telah mengingatkan kita tentang adab-adab yang semestinya ada pada setiap penuntut ilmu. Adab ini bukan sekadar etika sosial biasa, melainkan cerminan ketulusan hati dan keseriusan dalam mencari rida Allah SWT melalui jalan ilmu.
Memahami Kondisi Guru: Pilar Adab Seorang Penuntut Ilmu
Salah satu adab fundamental yang perlu kita pahami adalah kepekaan terhadap kondisi guru. Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan dari hati seorang pengajar, maka ia akan sampai dengan sempurna jika hati sang pengajar pun dalam keadaan tenang dan lapang. Janganlah kita membaca atau mengajukan pertanyaan kepada guru ketika beliau sedang sibuk, merasa bosan, jengkel, terkejut, sedih, bahagia yang berlebihan, haus, mengantuk, atau gelisah. Segala kondisi yang memberatkan hati guru atau menghalanginya dari kekhusyukan dan semangat mengajar, hendaknya kita hindari. Justru, kita harus pandai memanfaatkan momen-momen terbaik ketika guru sedang dalam puncak semangat dan kelapangan hati.
Adab ini mengajarkan kita tentang empati dan penghormatan yang mendalam. Seorang penuntut ilmu yang beradab tidak hanya peduli pada transfer informasi, tetapi juga pada keberkahan dan kualitas ilmu yang akan diterimanya. Dengan memahami kondisi guru, kita menunjukkan bahwa kita menghargai bukan hanya ilmunya, melainkan juga pribadi beliau sebagai pewaris para Nabi. Sikap selektif dalam memilih waktu ini juga merupakan bagian integral dari keutamaan sikap tekun dan beradab dalam menuntut ilmu, karena ketekunan sejati berarti mencari cara terbaik agar proses pembelajaran berjalan optimal.
Kesabaran dan Kerendahan Hati: Mengukir Keindahan Akhlak
Perjalanan menuntut ilmu tak selalu mulus. Adakalanya, kita mungkin akan menghadapi ujian berupa watak guru yang keras, sikap yang kurang menyenangkan, atau bahkan teguran yang terasa menusuk hati. Namun, seorang penuntut ilmu sejati tidak akan menjadikan hal itu sebagai penghalang untuk terus setia belajar dan berkhidmat kepada gurunya. Justru, ia akan senantiasa berprasangka baik, meyakini kesempurnaan ilmu dan kebaikan hati sang guru, serta berusaha mencari pembenaran yang logis atas setiap tindakan atau ucapan guru yang sekilas terlihat tidak pada tempatnya. Hanya sedikit orang yang berhasil melewati ujian ini, mereka adalah yang diberi taufik oleh Allah SWT.
Lebih jauh lagi, jika kita merasa telah melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan guru, maka kitalah yang harus berinisiatif untuk meminta maaf. Kita harus mengakui kesalahan sebagai milik kita dan menanggung beban teguran. Sikap ini, meski terasa merendahkan ego, justru jauh lebih bermanfaat bagi kita di dunia dan akhirat, serta membersihkan hati sang guru dari ganjalan. Kesabaran dan kerendahan hati dalam menghadapi dinamika belajar ini merupakan pilar penting dalam mewujudkan keutamaan sikap tekun dan beradab dalam menuntut ilmu.
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Musa berkata kepadanya (Khidir), “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu) yang benar dari apa yang telah diajarkan kepadamu?” (Q.S. Al-Kahf: 66)
Ayat ini menunjukkan teladan Nabi Musa AS yang begitu beradab dan merendah di hadapan Nabi Khidir AS, padahal Nabi Musa adalah seorang Rasulullah. Ini adalah bukti nyata bahwa adab mendahului ilmu.
Hikmah Kerendahan Hati dan Ketekunan Sejati
Para ulama salaf seperti Imam Syafi’i telah berpesan, “Barangsiapa yang tidak sanggup merasakan pahitnya kerendahan diri dalam menuntut ilmu, maka sepanjang hidupnya ia akan tetap berada dalam kegelapan kebodohan. Dan barangsiapa yang bersabar atas kerendahan diri itu, maka urusannya akan berujung pada kemuliaan di akhirat dan dunia.” Pepatah ini bukanlah sekadar untaian kata, melainkan sebuah realitas yang telah teruji oleh zaman. Kita dapat melihat buktinya pada kisah sahabat mulia Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang mana beliau berkata, “Aku merendahkan diri sebagai seorang penuntut ilmu, maka aku dimuliakan sebagai seorang yang dicari (ilmunya).”
Inilah yang dimaksud dengan keutamaan sikap tekun dan beradab dalam menuntut ilmu. Ketekunan tidak hanya ditunjukkan dengan rajin belajar, tetapi juga dengan kesediaan untuk “merendahkan” diri di hadapan ilmu dan gurunya. Merasakan “pahitnya” kerendahan diri ini adalah harga yang harus dibayar demi manisnya ilmu yang bermanfaat. Seorang penyair pun pernah melantunkan sebuah syair yang mendalam:
من لم يذق طعم المذلة ساعة * قطع الزمان بأسره مذلولا
“Barangsiapa yang tidak pernah merasakan pahitnya kerendahan diri sesaat,
Maka sepanjang hidupnya ia akan terus-menerus terhina.”
Kerendahan hati dan ketabahan dalam menghadapi ujian di jalan ilmu adalah kunci. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Jalan yang dimudahkan menuju surga itu adalah jalan yang dihiasi dengan adab, kesabaran, dan ketekunan.
Mewujudkan Keutamaan Sikap Tekun dan Beradab dalam Menuntut Ilmu
Pada akhirnya, keutamaan sikap tekun dan beradab dalam menuntut ilmu bukanlah sekadar teori, melainkan sebuah praktik nyata yang harus kita jalani setiap hari. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan membuahkan hasil luar biasa, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi umat. Ketika kita menghormati ilmu dan gurunya dengan segenap adab, ilmu itu akan hadir dalam hati kita dengan keberkahan dan kemanfaatan yang melimpah. Mari kita renungkan kembali bagaimana kita telah memperlakukan ilmu dan para pengajarnya. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi penuntut ilmu yang beradab, tekun, dan istiqamah.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surat Al-Kahf: 66
- Hadits Riwayat Muslim No. 2699
- Kitab Adab Penuntut Ilmu dan perkataan para Ulama Salaf.
