Pernahkah Sahabat Qur’an merasa bahwa meski segalanya sudah ada di tangan—pekerjaan mapan, keluarga sehat, hingga raga yang bugar—namun entah kenapa hati ini tetap merasa “kurang” dan kosong? Seolah-olah ada lubang besar di dalam dada yang tak pernah bisa dipenuhi oleh tumpukan materi atau pencapaian apa pun. Sering kali, rasa hampa itu bukan karena kita kurang mendapatkan pemberian-Nya, melainkan karena mata hati kita sedang mengalami “kebutaan” sesaat terhadap limpahan karunia yang ada di depan mata. Inilah awal mula dari sebuah penyakit hati yang sangat halus namun mematikan ketenangan kita: kufur nikmat.
Mengenal Sifat Kufur: Ketika Syukur Terlupakan
Kita sering mendengar kata “kufur”, dan mungkin pikiran kita langsung tertuju pada seseorang yang keluar dari agama. Namun, dalam keseharian kita, ada jenis kekufuran yang jauh lebih samar tapi dampaknya nyata pada kualitas hidup kita, yaitu kufur nikmat. Secara bahasa, kufur berarti “menutup”. Bayangkan sebuah cermin yang tertutup kain hitam pekat; cermin itu tetap ada, namun ia tak mampu memantulkan cahaya. Begitulah hati yang kufur. Karunia Allah mengalir deras setiap detik—mulai dari detak jantung yang otomatis hingga udara yang bebas kita hirup—namun hati kita tertutup untuk mengakuinya sebagai pemberian-Nya.
Sahabat Qur’an, kita perlu jujur pada diri sendiri. Kadang kita lebih sering mengeluh tentang satu hal yang hilang daripada mensyukuri seribu hal yang masih bertahan. Kita merasa keberhasilan kita semata-mata karena kerja keras kita, karena kecerdasan kita, atau karena relasi kita. Di sinilah letak bahayanya. Saat kita mulai menepuk dada dan berkata, “Ini semua karena saya,” saat itulah kita sedang melangkah menuju jurang kekufuran yang membuat kita lupa pada Sang Pemberi.
Dampak Kufur Nikmat: Kegelisahan yang Tak Berujung
Apa yang terjadi jika kita terus memelihara sifat tidak bersyukur ini? Dampaknya tidak main-main. Pertama, nikmat itu akan dicabut keberkahannya. Kita mungkin tetap punya uang banyak, tapi uang itu habis begitu saja tanpa mendatangkan kebahagiaan. Kita punya rumah besar, tapi di dalamnya terasa panas karena pertengkaran yang tak kunjung usai. Itulah azab yang halus; nikmatnya masih ada secara fisik, tapi rasa indahnya telah Allah angkat.
Kedua, hati kita akan menjadi keras dan sulit menerima kebenaran. Orang yang terbiasa mengeluh akan selalu melihat sisi negatif dari segala sesuatu. Bahkan dalam kondisi yang paling ideal sekalipun, ia akan menemukan alasan untuk merasa tidak puas. Inilah yang membuat hidup terasa sempit meski dunia begitu luas. Allah Ta’ala telah memberikan peringatan yang sangat tegas di dalam Al-Qur’an agar kita waspada terhadap sifat ini:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini adalah janji sekaligus peringatan bagi kita semua. Syukur adalah “pengikat” nikmat agar tidak lepas, sekaligus “pemancing” nikmat-nikmat berikutnya. Sebaliknya, kufur nikmat adalah “pengundang” azab yang bisa datang kapan saja, baik dalam bentuk hilangnya fasilitas hidup maupun hilangnya ketenangan batin.
Solusi Qur’ani: Membasuh Hati dengan Cahaya Syukur
Lalu, bagaimana cara kita mengobati hati yang mulai tertutup ini? Langkah pertama adalah dengan menyadari sepenuhnya bahwa semua berasal dari Allah. Tidak ada satu pun pencapaian kita yang murni hasil keringat kita sendiri. Tanpa izin-Nya, lidah kita tak bisa berucap, otak kita tak bisa berpikir, dan tangan kita tak bisa bergerak. Dengan mengembalikan semua pujian kepada Allah, ego kita akan mengecil, dan rasa syukur akan tumbuh.
Langkah kedua adalah melatih lisan untuk banyak memuji-Nya. Ucapkan “Alhamdulillah” bukan sekadar rutinitas setelah makan atau bersin, tapi resapi setiap maknanya. Sadari betapa beruntungnya kita dibanding banyak orang di luar sana. Saat kita melihat ke atas dalam urusan dunia, kita akan terus merasa kurang. Namun, saat kita melihat ke bawah, kita akan menyadari betapa banyaknya “kemewahan” yang selama ini kita anggap biasa saja.
Ketiga, gunakan nikmat untuk ketaatan. Syukur yang paling tinggi tingkatannya bukan hanya di lisan, tapi dengan tindakan. Jika Allah beri harta, gunakan untuk sedekah. Jika Allah beri ilmu, ajarkan pada sesama. Jika Allah beri kesehatan, gunakan untuk melangkah ke tempat-tempat yang diridhai-Nya, termasuk mendekat kepada Al-Qur’an. Dengan cara ini, nikmat tersebut akan menjadi saksi kebaikan kita di akhirat kelak.
Menjaga Kebeningan Hati Bersama Al-Qur’an
Sahabat Qur’an, kita semua sedang berproses. Hati manusia memang mudah berbolak-balik. Ada kalanya kita begitu saleh dan bersyukur, namun ada kalanya kita lemah dan jatuh pada keluhan. Maka, kita butuh “benteng” agar tidak terjebak dalam kufur nikmat yang berkepanjangan. Salah satu benteng terkuat adalah dengan menjalin interaksi yang intens dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah pengingat yang paling jujur. Setiap ayatnya mengajak kita untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta dan di dalam diri kita sendiri. Dengan menghafal dan mentadabburi Al-Qur’an, hati kita akan terus dibasuh oleh cahaya keimanan, sehingga sulit bagi bibit-bibit kekufuran untuk tumbuh. Mari kita jadikan hidup kita sebagai persembahan syukur terbaik kepada Sang Khaliq, agar kita termasuk hamba-hamba yang Dia cintai dan Dia tambahkan nikmat-Nya tanpa batas.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

