Dalam perjalanan kita berinteraksi dengan Al-Qur’an, seringkali muncul sebuah tolak ukur yang tanpa sadar kita agungkan: kecepatan dan kuantitas. Berapa kali khatam dalam sebulan? Berapa juz yang sanggup dibaca dalam sehari? Angka-angka ini terkadang menjadi lencana kebanggaan, seolah menandakan tingginya level kedekatan kita dengan Kalamullah. Namun, mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada nurani: apakah kuantitas adalah satu-satunya mata uang yang berlaku di hadapan-Nya? Tulisan ini akan mengajak kita menyelami kembali sebuah substansi yang jauh lebih berharga, yaitu tentang keutamaan membaca alquran dengan tadabbur.

Perbincangan Agung Ibnu Abbas dan Abu Jamrah

Ada sebuah dialog penuh hikmah yang terekam dalam sejarah. Abu Jamrah ad-Duba’i, seorang yang dikenal dengan kecepatan membacanya, berkata kepada sang tinta umat, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh, aku ini orang yang cepat dalam membaca. Aku biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tiga hari.”

Sebuah pencapaian yang mungkin akan membuat kita berdecak kagum. Namun, jawaban Ibnu Abbas menyingkap sebuah cakrawala pemahaman yang sama sekali berbeda. Beliau berkata:

لَأَنْ أَقْرَأَ الْبَقَرَةَ فِي لَيْلَةٍ، فَأَتَدَبَّرهَا، وَأُرَتِّلهَا أحبُّ إِلَيَّ مِنْ أَن أَقْرَأَ كَمَا تَقُولُ

Artinya: “Sungguh, jika aku membaca surah Al-Baqarah dalam satu malam, lalu aku mentadabburinya dan membacanya dengan tartil, itu lebih aku sukai daripada aku membaca (keseluruhan Al-Qur’an) seperti yang engkau katakan.”

Pernyataan ini bukan sekadar preferensi pribadi. Ia adalah sebuah kaidah emas. Ibnu Abbas mengajarkan kita bahwa satu surah yang diselami maknanya, direnungi ayat-ayatnya, dan dibaca dengan khusyuk hingga menyentuh kalbu, memiliki bobot yang jauh lebih berat di sisi Allah daripada ribuan ayat yang meluncur deras di lisan tanpa sempat singgah di pikiran dan hati.

Esensi Diturunkannya Al-Qur’an: Untuk Direnungi

Mengapa para salafus shalih begitu menekankan aspek tadabbur? Karena inilah tujuan inti diturunkannya Al-Qur’an itu sendiri. Ia bukanlah sekadar buku bacaan untuk mengejar target khatam, melainkan surat cinta dari Sang Pencipta yang penuh dengan petunjuk, hikmah, dan cahaya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (mentadabburi) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Q.S. Sad: 29).

Perhatikan kata kunci “mubarak” (penuh berkah) dan “liyaddabbaru” (agar mereka mentadabburi). Ayat ini secara eksplisit mengaitkan keberkahan Al-Qur’an dengan proses tadabbur. Keberkahan itu akan terpancar dan meresap ke dalam jiwa ketika kita membuka ruang untuk merenungi ayat-ayat-Nya. Tanpa tadabbur, kita mungkin hanya mendapatkan lelahnya lisan, tanpa meraih substansi keberkahan yang dijanjikan.

Memahami Keutamaan Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur

Imam Muhammad bin Al-Husain Al-Ajurri dalam kitabnya menegaskan sebuah prinsip agung, “Membaca Al-Qur’an sedikit disertai dengan perenungan dan tadabbur lebih aku sukai daripada membaca Al-Qur’an dalam jumlah banyak tanpa tadabbur dan perenungan.”

Prinsip ini dikuatkan oleh kisah lain dari seorang Tabi’in mulia, Mujahid. Beliau pernah ditanya mengenai perbandingan dua orang. Yang pertama membaca surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran. Yang kedua hanya membaca surah Al-Baqarah. Durasi, gerakan shalat, dan kekhusyukan mereka sama persis. Siapakah yang lebih utama?

Jawaban Mujahid sangat mencerahkan. Beliau menyatakan bahwa yang hanya membaca Al-Baqarah (dengan durasi yang sama untuk dua surah) lebih utama. Lalu beliau membacakan firman Allah:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا

Artinya: “Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Q.S. Al-Isra: 106).

Kata “‘ala mukth” (perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa) adalah kuncinya. Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur selama 23 tahun bukan tanpa alasan. Tujuannya agar setiap ayat dapat meresap, dipahami, direnungi, dan diamalkan secara bertahap. Maka, cara terbaik untuk membacanya adalah dengan meneladani cara ia diturunkan: perlahan, penuh penghayatan. Inilah esensi dari keutamaan membaca alquran dengan tadabbur.

Bagaimana Memulai Praktik Tadabbur?

Mengubah kebiasaan dari mengejar kuantitas menjadi mendalami kualitas memerlukan niat dan latihan. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa kita mulai:

  • Kurangi Target Kuantitas
    Jika biasanya menargetkan 5 juz sehari dengan tergesa-gesa, cobalah sempatkan setengah juz atau bahkan satu lembar saja untuk tadabbur dengan komitmen untuk memahami dan merenunginya.
  • Siapkan Hati Sebelum Membaca
    Ambil waktu sejenak untuk beristighfar, memohon kepada Allah agar dibukakan pintu pemahaman, dan niatkan bahwa interaksi kita dengan Al-Qur’an adalah untuk mencari petunjuk, bukan sekadar menunaikan rutinitas.
  • Ajukan Pertanyaan
    Saat membaca sebuah ayat, berhentilah dan tanyakan pada diri sendiri: Apa pesan utama ayat ini? Siapa yang Allah ajak bicara? Bagaimana ini relevan dengan hidup saya? Adakah perintah, larangan, atau janji di dalamnya?
  • Jangan Takut Mengulang
    Jika sebuah ayat terasa begitu menyentuh, jangan ragu untuk mengulang-ngulangnya. Biarkan makna ayat tersebut meresap ke dalam sanubari. Para sahabat terkadang mengulang satu ayat sepanjang malam.

Pada akhirnya, perjalanan bersama Al-Qur’an bukanlah sebuah perlombaan lari cepat, melainkan sebuah penyelaman ke samudra tak bertepi. Nilai sejati tidak terletak pada seberapa jauh kita berlayar di permukaannya, tetapi pada seberapa banyak permata hikmah yang berhasil kita kumpulkan dari kedalamannya. Memahami keutamaan membaca alquran dengan tadabbur adalah langkah pertama untuk mengubah interaksi kita, dari sekadar membaca menjadi sebuah dialog penuh makna dengan Sang Pencipta.

Semoga Allah membimbing kita untuk tidak hanya menjadi pembaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sahabat Al-Qur’an yang senantiasa merenungi, memahami, dan mengamalkan petunjuk-petunjuk-Nya.

Interaksi yang mendalam bersama Al-Qur’an membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk memfasilitasi setiap individu dalam perjalanan menghafal dan memahami Al-Qur’an secara lebih substantif, melampaui sekadar hafalan lisan.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Sad: 29
  • Al-Qur’an, Surah Al-Isra: 106
  • Al-Ajurri, Muhammad bin Al-Husain. Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an. Dar Ibnul Jauzi.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,