Dalam perjalanan kita bersama Al-Qur’an, seringkali muncul sebuah perlombaan tak tertulis. Berapa juz yang sudah dibaca hari ini? Berapa kali khatam dalam sebulan? Angka-angka ini terkadang menjadi tolok ukur keakraban kita dengan Kalamullah. Namun, sebuah riwayat berharga dari ulama salaf mengajak kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan kembali: apakah kuantitas adalah satu-satunya tujuan? Ataukah ada dimensi lain yang jauh lebih dalam dan esensial?
Mari kita selami sebuah dialog penuh hikmah yang akan mengubah cara pandang kita, membuka cakrawala baru tentang bagaimana seharusnya kita membersamai Al-Qur’an. Ini bukan sekadar tentang membaca, tetapi tentang menyerap, merasakan, dan membiarkan cahaya-Nya meresap ke dalam jiwa.
Kisah Mujahid: Kuantitas Melawan Kualitas
Sebuah pertanyaan pernah diajukan kepada seorang tabi’in mulia, Mujahid bin Jabr, murid terbaik dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Pertanyaan itu membandingkan dua orang yang sama-sama beribadah dengan Al-Qur’an.
Orang pertama membaca surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran. Orang kedua hanya membaca surah Al-Baqarah. Durasi, kekhusyukan, ruku’, sujud, dan duduk di antara keduanya sama persis. Secara logika kuantitas, orang pertama jelas tampak lebih unggul. Namun, jawaban Mujahid sungguh di luar dugaan.
“Siapakah di antara keduanya yang lebih utama?” tanya sang penanya. Mujahid menjawab, “Orang yang membaca surah Al-Baqarah saja.” Kemudian beliau membacakan firman Allah yang menjadi kunci jawabannya.
Jawaban ini seolah menampar logika kita yang terbiasa mengukur segalanya dari jumlah. Mujahid justru memilih kualitas daripada kuantitas. Beliau menyandarkan argumennya pada pemahaman mendalam tentang tujuan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana yang tertera dalam ayat yang beliau bacakan.
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan (atas manusia) dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Q.S. Al-Isra: 106)
Makna di Balik ‘Ala Mukts: Membaca Perlahan dengan Penjiwaan
Kunci dari jawaban Mujahid terletak pada frasa ‘alā muktsin (عَلَىٰ مُكْثٍ), yang berarti membaca di atas ketenangan, tidak tergesa-gesa, perlahan, dan bertahap. Ini bukan sekadar gerakan bibir yang cepat melafalkan huruf demi huruf, melainkan sebuah proses interaksi yang melibatkan akal untuk berpikir (tafakkur) dan hati untuk merenung (tadabbur).
Ayat ini menegaskan bahwa Allah sendiri menurunkan Al-Qur’an secara bertahap, bukan sekaligus, agar lebih mudah dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh manusia. Maka, cara terbaik untuk menerimanya adalah dengan metode yang sama: perlahan dan penuh penjiwaan. Inilah esensi dari meningkatkan kualitas interaksi dengan Al-Qur’an.
Membaca satu surah dengan pemahaman dan perenungan jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada membaca dua surah dengan terburu-buru, di mana pesan-pesan ilahi hanya lewat tanpa meninggalkan jejak di dalam kalbu.
Mengapa Penting Meningkatkan Kualitas Interaksi dengan Al-Qur’an?
Jawaban Mujahid bukan hanya sekadar pendapat pribadi, melainkan sebuah kaidah penting dalam berinteraksi dengan wahyu. Ketika kita memprioritaskan kualitas, kita sebenarnya sedang membuka pintu-pintu kebaikan yang jauh lebih besar.
1. Membuka Pintu Tadabbur dan Pemahaman
Kecepatan seringkali menjadi musuh utama dari pemahaman. Dengan membaca secara perlahan dan tartil, kita memberi ruang bagi akal untuk mencerna setiap kata, setiap kalimat, dan setiap perumpamaan yang Allah sajikan. Dari sinilah lahir pemahaman yang mengubah pola pikir dan mencerahkan jiwa.
2. Menumbuhkan Kekhusyukan dan Keimanan
Interaksi yang berkualitas akan melahirkan getaran di dalam hati. Ayat-ayat tentang surga akan menumbuhkan harapan, ayat-ayat tentang neraka akan memunculkan rasa takut, dan ayat-ayat tentang keagungan Allah akan melahirkan ketakjuban. Inilah yang akan menyuburkan benih-benih keimanan dan kekhusyukan, baik di dalam shalat maupun di luarnya.
3. Al-Qur’an sebagai Pembentuk Akhlak
Pada akhirnya, tujuan tertinggi dari Al-Qur’an adalah menjadi pedoman hidup yang membentuk karakter. Sebagaimana disampaikan oleh Muhammad bin al-Husayn dalam penutup kitabnya, seorang ahli Qur’an seyogianya berhias dengan akhlak-akhlak mulia yang diajarkan Al-Qur’an. Proses ini tidak mungkin terjadi melalui interaksi yang tergesa-gesa. Ia lahir dari perenungan mendalam yang perlahan-lahan menginternalisasi nilai-nilai Qur’ani menjadi perilaku sehari-hari.
Langkah Praktis Meningkatkan Kualitas Interaksi dengan Al-Qur’an
Mengubah kebiasaan dari mengejar kuantitas menjadi memprioritaskan kualitas adalah sebuah perjalanan. Ia memerlukan kesadaran dan langkah-langkah nyata. Berikut adalah beberapa cara sederhana untuk mulai meningkatkan kualitas interaksi dengan Al-Qur’an:
- Luruskan Niat
Awali setiap sesi tilawah dengan niat untuk memahami, merenung, dan mencari petunjuk, bukan sekadar menyelesaikan target hafalan atau bacaan. - Baca dengan Tartil
Laksanakan perintah Allah untuk membaca dengan tartil, yakni perlahan, jelas, dan sesuai kaidah tajwid. Sebagaimana firman-Nya:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“…dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (Q.S. Al-Muzzammil: 4)
- Sediakan Waktu Khusus
Alokasikan waktu di mana kita bisa fokus, bebas dari gangguan gawai atau kesibukan lainnya. Anggap waktu ini sebagai jadwal pertemuan kita dengan Sang Pencipta. - Sertakan Terjemahan
Jika belum memahami bahasa Arab, jangan ragu membaca terjemahan setelah membaca beberapa ayat. Ini adalah langkah awal untuk membuka pintu pemahaman. - Ulangi Ayat yang Menyentuh
Ketika menemukan ayat yang menggetarkan hati, jangan terburu-buru beranjak. Berhentilah, ulangi ayat tersebut beberapa kali, dan biarkan maknanya meresap dalam-dalam.
Perjalanan kita bersama Al-Qur’an bukanlah sebuah sprint untuk cepat sampai ke garis finis, melainkan sebuah maraton seumur hidup untuk terus menyerap cahayanya. Nilai sejati dari interaksi kita tidak diukur dari seberapa banyak lembaran yang kita balik, tetapi dari seberapa banyak lembaran hati kita yang terbuka oleh petunjuk-Nya. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas interaksi dengan Al-Qur’an, menjadikan kita sebagai sahabat sejati-Nya.
Jika kita mendambakan bimbingan yang sistematis dan lingkungan yang mendukung untuk membangun fondasi interaksi yang kokoh dan berkualitas dengan Al-Qur’an, inilah saatnya mengambil langkah. Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk membersamai perjalanan Anda.
Daftar Referensi
- Al-Ajurri, Muhammad bin al-Husayn. Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an. Dar Ibn al-Jawzi.
- Q.S. Al-Isra: 106
- Q.S. Al-Muzzammil: 4
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

