Kerap kali kita terpukau oleh lantunan ayat suci Al-Qur’an yang merdu, memukau pendengaran dengan indahnya artikulasi dan kemerduan suara. Namun, pernahkah kita merenung, apakah kemerduan semata adalah puncak dari keindahan bacaan Al-Qur’an yang dicari dan diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Ternyata, kriteria keindahan dalam membaca firman-Nya jauh melampaui keindahan akustik.

Mari kita selami sebuah nasihat kenabian yang mencerahkan hati dan pikiran kita. Sebuah riwayat dari Abu Ubaid, dari Qabishah, dari Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dan juga dari Al-Hasan bin Muslim, dari Thawus, yang menyatakan:

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِيهِ، وَعَنْ الْحَسَنِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَاوُسٍ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَحْسَنُ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ؟ فَقَالَ: «الَّذِي إِذَا سَمِعْتُهُ رَأَيْتُهُ يَخْشَى اللَّهَ تَعَالَى» . أَوْ قَالَ: سُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَحْسَنُ قِرَاءَةً؟ فَقَالَ: «الَّذِي إِذَا سَمِعْتُهُ رَأَيْتُهُ يَخْشَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ»

Artinya: “Abu Ubaid berkata, Qabishah menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dan dari Al-Hasan bin Muslim, dari Thawus, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya: ‘Siapakah orang yang paling bagus suaranya dengan Al-Qur’an?’ Beliau menjawab: ‘Orang yang jika kamu mendengarkannya, kamu melihat ia takut kepada Allah Ta’ala.’ Atau beliau ditanya: ‘Siapakah orang yang paling bagus bacaannya?’ Beliau menjawab: ‘Orang yang jika kamu mendengarkannya, kamu melihat ia takut kepada Allah Azza wa Jalla.'”

Mengurai Kriteria Pembaca Al-Qur’an yang Menghadirkan Khashyah

Hadits yang mulia ini membuka wawasan kita tentang hakikat keindahan yang sesungguhnya dalam tilawah Al-Qur’an. Bukan semata pada desahan nafas yang teratur, panjang pendek nada yang memesona, atau variasi irama yang memukau. Lebih dari itu, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam menunjuk pada kondisi hati sang pembaca. Kriteria pembaca Al-Qur’an yang menghadirkan khashyah adalah seseorang yang dari suaranya, dari bacaannya, terpancar ketakutan dan pengagungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Khashyah, atau rasa takut yang disertai pengagungan, adalah puncak dari penghambaan. Ketika seorang hamba membaca firman-Nya, khashyah ini akan mengubah setiap huruf menjadi cerminan kebesaran-Nya. Suaranya akan mengalirkan getaran jiwa, bukan hanya gelombang akustik. Pendengar akan merasakan kedalaman makna, seolah-olah hati sang pembaca sedang berdialog langsung dengan Tuhannya, penuh harap dan cemas.

Suara yang Meresap, Hati yang Tunduk

Bagaimana khashyah ini termanifestasi dalam suara dan bacaan? Ketika kita mendengar seseorang yang memiliki khashyah, kita tidak hanya terpikat oleh nada. Kita merasakan kehadiran Allah, seakan-akan ayat-ayat yang dibaca itu sedang berbicara langsung kepada kita. Ekspresi wajah, intonasi, hingga jeda bacaan, semuanya seolah diwarnai oleh keagungan Ilahi dan rasa takut akan azab-Nya, serta harapan akan rahmat-Nya.

Ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 2:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Ayat ini menegaskan bahwa keimanan sejati tercermin dari hati yang bergetar saat nama Allah disebut, dan iman yang bertambah saat ayat-ayat-Nya dibacakan. Pembaca Al-Qur’an yang memiliki khashyah adalah cerminan dari hati yang demikian. Ia tidak hanya melafalkan, melainkan meresapi dan menjiwai setiap firman, sehingga getaran itu sampai kepada pendengar.

Membangun Kriteria Pembaca Al-Qur’an yang Menghadirkan Khashyah

Lantas, bagaimana kita dapat mengembangkan diri menjadi pribadi yang bacaan Al-Qur’annya mampu menghadirkan khashyah? Ini adalah sebuah perjalanan spiritual dan praktis yang membutuhkan kesungguhan.

1. Tadabbur dan Pemahaman Makna

Khashyah tidak akan muncul tanpa pemahaman. Kita tidak bisa takut atau mengagungkan sesuatu yang tidak kita pahami. Oleh karena itu, langkah pertama adalah berusaha memahami makna ayat-ayat yang kita baca. Mengkaji tafsir, menghayati konteks, dan merenungkan pesan-pesan Ilahi akan membuka pintu hati kita pada rasa khashyah. Ketika kita memahami ancaman, janji, perintah, atau larangan dalam Al-Qur’an, barulah hati kita bisa bereaksi sesuai tuntunannya.

2. Merenungkan Kebesaran Allah

Sebelum dan saat membaca Al-Qur’an, biasakan diri untuk merenungkan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sifat-sifat-Nya yang sempurna, kekuasaan-Nya yang tak terbatas, dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Kesadaran akan kebesaran-Nya akan menumbuhkan rasa rendah diri dan khashyah yang mendalam dalam hati kita.

3. Memperbaiki Kualitas Bacaan (Tajwid)

Meskipun bukan satu-satunya tolok ukur, tajwid yang baik adalah fondasi. Dengan membaca sesuai kaidah, kita menghormati firman Allah dan memastikan pesan-Nya tersampaikan dengan benar. Ini adalah bagian dari pengagungan kita terhadap Al-Qur’an, yang pada akhirnya akan menumbuhkan khashyah.

4. Memurnikan Niat

Niat yang lurus, semata-mata karena Allah, adalah kunci. Jika niat kita adalah untuk pamer suara atau mencari pujian manusia, khashyah akan sulit hadir. Namun, jika niat kita adalah beribadah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan meraih ridha-Nya, maka hati akan lebih terbuka untuk merasakan kehadiran Ilahi.

5. Latihan dan Pembiasaan

Seperti keterampilan lainnya, khashyah dalam bacaan Al-Qur’an juga membutuhkan latihan. Biasakan membaca Al-Qur’an dengan hati yang hadir, merenungi setiap ayat, dan berusaha merasakan getaran maknanya. Mulailah dengan perlahan, fokus pada kualitas bukan kuantitas. Seiring waktu, hati kita akan semakin terasah untuk merasakan khashyah.

Kriteria pembaca Al-Qur’an yang menghadirkan khashyah adalah cerminan dari sebuah hati yang hidup, yang senantiasa terkoneksi dengan Penciptanya. Ini adalah sebuah capaian spiritual yang jauh lebih bernilai daripada sekadar kemerduan yang fana. Ini adalah investasi akhirat, bekal yang tak lekang oleh waktu, dan syafaat di hari kiamat kelak.

Mari kita tingkatkan kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an, tidak hanya melalui indahnya suara, tetapi juga melalui kedalaman khashyah di dalam hati. Dengan demikian, setiap lantunan kita tidak hanya menyenangkan telinga, tetapi juga menggetarkan jiwa dan mendekatkan kita pada keridhaan Ilahi.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Kitab Fadha’il Al-Qur’an Abu Ubaid, Bab Maa Yustahabbu lil Qaari’i min Tahsinil Qur’an wa Tazyiinihi bi Sawtihi, halaman 165, Maktabah Syamilah. (Rujukan Hadits)
  • Q.S. Al-Anfal: 2
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,