Semangat yang Melampaui Batas Usia
Sering kali kita mendengar alasan, “Saya sudah terlalu tua untuk menghafal,” atau “Daya ingat saya sudah menurun.” Namun, benarkah usia menjadi penghalang bagi firman Allah untuk menetap di dalam hati? Mari kita merenung sejenak pada kisah nyata seorang hamba Allah yang baru memulai perjalanan tahfizhnya di usia senja, tepat ketika angka 70 tahun sudah terlewati. Di saat kebanyakan orang sudah pasrah dengan masa tuanya, beliau justru menemukan gairah hidup baru di antara lembaran mushaf. Baginya, setiap detik adalah kesempatan untuk bersiap menemui Sang Pencipta dengan membawa bekal terbaik.
Kita harus menyadari bahwa Al-Quran memiliki keberkahan yang mampu merevitalisasi fungsi otak manusia, bahkan di usia lanjut sekalipun. Keinginan yang kuat dan cinta yang tulus bertindak sebagai neuroplastisitas alami yang membuka kembali jalur-jalur memori yang selama ini dianggap sudah tertutup. Kisah ini mengajarkan kita bahwa hambatan terbesar bukanlah pada uban atau kerutan di wajah, melainkan pada keyakinan yang rapuh di dalam dada.
Konsistensi Adalah Kunci di Setiap Lini Waktu
Kakek ini tidak menghafal dengan kecepatan kilat, tetapi beliau menghafal dengan keteguhan batu karang. Beliau menerapkan prinsip “satu hari satu baris”, namun dilakukan dengan istiqomah tanpa henti. Beliau memahami bahwa yang dilihat Allah bukan seberapa cepat kita sampai ke garis khatam, melainkan seberapa tulus kita berproses bersamanya. Keajaiban pun terjadi; di usia 77 tahun, beliau berhasil menyelesaikan setoran 30 juznya. Tangis haru pecah bukan karena gelar hafidz, tapi karena rasa syukur atas izin Allah yang membiarkan kalam-Nya menetap di sisa usianya.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)
Mari kita muliakan setiap usaha kita tanpa melihat angka umur. Jika kakek yang sudah renta saja mampu bersabar dengan hafalannya, mengapa kita yang masih memiliki energi lebih justru ragu untuk melangkah? Tidak ada istilah terlambat dalam urusan mencintai Al-Quran. Setiap huruf yang kita perjuangkan akan menjadi saksi setia di alam kubur nanti. Mari kita buang jauh-jauh rasa minder dan mulailah membuka mushaf hari ini juga. Jadikan Al-Quran sebagai teman yang menemani masa tua kita dengan keindahan dan ketenangan yang abadi.
Penutup
Semoga Allah memberikan kita umur yang berkah dan semangat yang tak pernah padam untuk selalu membersamai Al-Quran hingga akhir hayat. Amin.
Referensi:
Ibnul Jauzi. Shifatush Shafwah. Juz 2. Kairo: Darul Hadits, 2000.
Az-Zarnuji, Syaikh. Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum. Surabaya: Al-Hidayah, 1950.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

