Mungkinkah Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam Satu Rakaat?
Pernahkah terbayang dalam benak kita, menyelesaikan seluruh kalam ilahi, dari Al-Fatihah hingga An-Nas, hanya dalam satu malam? Atau bahkan lebih mencengangkan lagi, dalam satu rakaat shalat? Akal kita mungkin berkata itu mustahil. Logika kita menolak. Namun, sejarah generasi terbaik umat ini merekam jejak-jejak spiritual yang melampaui batas pemahaman kita. Mari selami kisah sahabat mengkhatamkan Al-Qur’an dalam semalam, sebuah cermin cinta dan kekuatan iman yang luar biasa dari Utsman bin Affan dan para salafus shalih.
Kisah ini bermula dari sebuah rasa penasaran. Seseorang bertanya tentang shalatnya Thalhah bin ‘Ubaidillah. Namun jawaban yang ia dapat justru membuka jendela menuju pemandangan yang lebih agung: shalatnya Khalifah Utsman bin Affan.
Seorang saksi mata bercerita. Suatu malam, ia bertekad untuk beribadah di sisi Maqam Ibrahim. Ia ingin menjadi yang terdepan. Namun saat ia berdiri, tiba-tiba ada seorang pria berwajah tertutup yang mendesaknya dengan lembut. Ketika ia menoleh, ia terkesiap. Sosok itu adalah Utsman bin Affan.
Seketika, ia pun mundur, memberikan ruang bagi sang Khalifah. Lalu, Utsman memulai shalatnya. Malam pun larut dalam keheningan yang syahdu. Utsman terus berdiri, ayat demi ayat mengalir dari lisannya. Setiap kali melewati ayat sajdah, ia bersujud. Waktu terus berjalan, hingga sang saksi mata mengira fajar akan segera menyingsing. Dan saat itulah, Utsman menutup seluruh shalat malamnya yang panjang itu hanya dengan satu rakaat witir. Satu rakaat yang merangkum seluruh Al-Qur’an.
Bayangkan. Bukan sekadar membaca. Tapi shalat. Berdiri, merenung, dan bersujud dalam satu malam yang dipenuhi 30 juz.
Kesaksian Paling Menyentuh dari Sang Istri
Kisah ini bukan isapan jempol. Ia dikuatkan oleh kesaksian orang terdekatnya, sang istri tercinta, Na’ilah binti Al-Furafishah. Di hari-hari paling mencekam dalam hidupnya, saat para pemberontak mengepung rumahnya untuk membunuhnya, Na’ilah berkata dengan hati yang hancur namun penuh keyakinan.
إِنْ تَقْتُلُوهُ أَوْ تَدَعُوهُ، فَقَدْ كَانَ يُحْيِي اللَّيْلَ بِرَكْعَةٍ يَجْمَعُ فِيهَا الْقُرْآنَ
“Jika kalian membunuhnya atau membiarkannya, sungguh ia adalah orang yang biasa menghidupkan malam dengan satu rakaat yang di dalamnya ia mengumpulkan (mengkhatamkan) seluruh Al-Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail Al-Qur’an)
Subhanallah. Di tengah ancaman kematian, yang terukir dalam memori sang istri adalah kemuliaan ibadah suaminya. Inilah persaksian cinta sejati.
Memahami Hikmah di Balik Kisah Sahabat Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam Semalam
Utsman bin Affan tidak sendiri. Para sahabat dan tabi’in lain pun tercatat memiliki kekuatan serupa. Tamim ad-Dari, seorang sahabat mulia, juga pernah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat. Begitu pula Sa’id bin Jubair, seorang tabi’in agung, yang mengaku pernah melakukannya di dalam Ka’bah.
Bahkan ada kisah yang lebih dahsyat dari Sulaim bin ‘Itr at-Tujibi. Dikisahkan bahwa beliau mampu mengkhatamkan Al-Qur’an tiga kali dalam satu malam. Tiga kali. Tak hanya itu, di sela-sela ibadahnya, ia tetap menunaikan hak biologis untuk istrinya. Ketika beliau wafat, istrinya berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Sungguh, engkau adalah orang yang selalu membuat Rabb-mu ridha, dan membuat keluargamu ridha.”
Ini bukan tentang kecepatan membaca. Ini tentang *barakah*. Keberkahan waktu, keberkahan tenaga, dan keberkahan cinta pada Al-Qur’an yang begitu mendalam hingga Allah membukakan bagi mereka pintu-pintu karamah yang tak terbayangkan oleh kita.
Lalu, apa pelajaran bagi kita? Apakah kita harus menirunya?
Di sinilah letak kebijaksanaannya. Imam Abu ‘Ubaid, yang meriwayatkan kisah-kisah ini, memberikan sebuah catatan penting. Beliau berkata bahwa pilihan yang lebih utama adalah tidak mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Mengapa?
Karena inilah petunjuk dari Sang Teladan utama, Rasulullah ﷺ. Beliau mengajarkan kepada Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash agar tidak mengkhatamkan Qur’an kurang dari tiga hari, seraya bersabda bahwa orang yang melakukannya tidak akan dapat memahaminya dengan baik. Ini adalah jalan pertengahan. Jalan yang mengutamakan *tadabbur* dan pemahaman di atas sekadar kuantitas.
Kisah para sahabat adalah penyemangat. Ia menunjukkan puncak tertinggi dari interaksi seorang hamba dengan Al-Qur’an. Namun, jalan yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah jalan untuk kita semua. Jalan yang realistis, penuh perenungan, dan berkelanjutan.
Bagi kita, para eksekutif, profesional, dan pengusaha yang waktunya terbatas, spirit yang kita ambil bukanlah tentang mengkhatamkan dalam semalam. Bukan. Spirit yang kita ambil adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai detak jantung kehidupan kita, sebagaimana Utsman bin Affan melakukannya. Tantangannya bukan menyelesaikan 30 juz dalam satu rakaat, melainkan menjaga satu halaman atau bahkan beberapa ayat setiap hari dengan istiqamah, di tengah padatnya jadwal.
Itulah cinta sejati. Konsisten, mendalam, dan mengubah hidup. Bagaimana kita bisa memulainya? Dengan bimbingan yang tepat, di lingkungan yang mendukung, kita bisa membangun kedekatan itu, setahap demi setahap, hingga Al-Qur’an benar-benar menjadi cahaya dalam kesibukan kita. Program di Qur’an Learning Center Yogyakarta dirancang untuk perjalanan itu.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Fadhail Al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


