Menjemput Rahmat yang Turun di Ayat Terakhir

Hening. Ayat terakhir telah dilantunkan. Surah An-Nas selesai. Lalu apa? Bagi sebagian dari kita, mungkin hanya helaan napas lega. Satu tugas rampung. Satu target tercapai. Mushaf ditutup dengan lembut, diletakkan kembali di rak tertinggi. Selesai.

Cuma itu.

Kita kembali pada riuh rendahnya dunia. Pada bising notifikasi yang tak pernah jeda. Pada daftar pekerjaan yang menuntut untuk segera dicentang. Momen sakral itu berlalu begitu saja, nyaris tanpa bekas di jiwa, seperti embun yang tersapu terik pertama sang surya. Kita merasa telah menyelesaikan, padahal mungkin kita baru saja melewatkan sesuatu yang paling berharga.

Tunggu dulu. Renungkan sejenak.

Mari kita melintasi lorong waktu, mengunjungi sebuah majelis yang cahayanya menembus zaman. Di sana, duduk para Tabi’in, generasi terbaik setelah para Sahabat. Ada Mujahid, ‘Abdah bin Abi Lubabah, dan murid-murid lainnya. Mereka tidak sekadar membaca. Mereka sedang ya’ridhunal mashahif; menyetorkan, memverifikasi, memastikan setiap huruf, setiap harakat, terpatri sempurna dalam dada dan lisan mereka. Sebuah proses yang menuntut kesungguhan luar biasa.

Lalu tibalah hari itu. Hari penutup. Hari di mana perjalanan panjang mereka akan mencapai puncaknya. Apa yang mereka lakukan? Mereka tidak merayakannya dalam sunyi. Tidak menyimpannya sebagai pencapaian pribadi. Justru, mereka mengutus seseorang untuk memanggil Al-Hakam bin ‘Utaybah dan Salamah. Pesan mereka sederhana, namun getarannya terasa hingga ke hati kita hari ini:

إِنَّا كُنَّا نَعْرِضُ الْمَصَاحِفَ فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْتِمَ أَحْبَبْنَا أَنْ تَشْهَدُوا، لِأَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: «إِذَا خُتِمَ الْقُرْآنُ نَزَلَتِ الرَّحْمَةُ عِنْدَ خَاتِمَتِهِ، أَوْ حَضَرَتِ الرَّحْمَةُ عِنْدَ خَاتِمَتِهِ»

“Sesungguhnya kami sedang memeriksa (hafalan/bacaan) mushaf-mushaf kami. Ketika kami hendak mengkhatamkannya, kami ingin kalian berdua ikut menyaksikannya. Karena dahulu dikatakan: ‘Apabila Al-Qur’an dikhatamkan, maka rahmat akan turun di penghujungnya, atau rahmat akan hadir di penghujungnya’.” (Riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)

Subhanallah. Ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah ilmu, keyakinan, dan kerinduan yang diwariskan. Mereka mengundang saksi bukan untuk pamer pencapaian. Bukan untuk mencari validasi. Mereka memanggil sahabat-sahabat mereka untuk satu alasan mulia: untuk bersama-sama menjemput Rahmat Allah yang turun.

Rahmat. Kata yang begitu sering kita dengar, namun mungkin jarang kita rasakan kedalamannya. Rahmat di penghujung khatam Al-Qur’an bukanlah sekadar perasaan bahagia. Bukan. Ia adalah sakinah yang menentramkan jiwa yang gundah. Ia adalah kehadiran para malaikat yang turut mengaminkan setiap bait doa yang terpanjat. Ia adalah ampunan yang menghapus debu-debu dosa dari lembaran hidup. Ia adalah tatapan cinta dari Ar-Rahman, Sang Pemilik Kalam itu sendiri.

Momen khatam adalah saat di mana seorang hamba, setelah berlelah-lelah mengarungi samudra firman-Nya, akhirnya tiba di pantai penutup. Di titik itulah, Allah bentangkan karpet kemuliaan-Nya. Allah curahkan kasih sayang-Nya sebagai upah atas kesabaran dan kesungguhan. Al-Qur’an itu sendiri adalah rahmat yang tercurah.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82)

Lalu bagaimana dengan kita, para pejuang di era digital yang waktunya terasa begitu sempit? Bagaimana kita bisa merebut kembali momen berharga ini? Bagaimana kita bisa merasakan tetesan rahmat yang sama seperti yang dirindukan para salaf?

Jawabannya ada pada kesadaran dan niat. Perlakukan momen khatam Al-Qur’an bukan sebagai akhir dari sebuah tugas, melainkan sebagai gerbang mustajabnya doa. Jangan biarkan ia berlalu dalam kesendirian yang hampa.

Jika Anda akan mengkhatamkan bacaan atau hafalan Anda, berhentilah sejenak. Ambil waktu khusus. Mungkin setelah shalat, di keheningan malam, atau di waktu dhuha yang syahdu. Ajaklah pasangan Anda, anak-anak Anda, atau bahkan sahabat terdekat Anda untuk duduk bersama. Bukan untuk seremoni yang megah, tapi untuk sebuah majelis kecil yang khusyuk.

Katakan pada mereka, “Hari ini, dengan izin Allah, saya akan menyelesaikan perjalanan saya bersama Al-Qur’an. Mari duduk bersama, saksikanlah, dan mari kita berdoa. Sebab di momen ini, rahmat Allah begitu dekat.”

Saat ayat terakhir dilantunkan, jangan terburu-buru menutup mushaf. Angkatlah kedua tangan Anda. Itulah saatnya menumpahkan segala hajat. Segala resah. Segala harapan. Doa di saat khatam Al-Qur’an adalah doa yang didengar. Mintalah kebaikan dunia, dan lebih penting lagi, kebaikan akhirat. Mintalah agar Al-Qur’an menjadi sahabat di kubur dan syafaat di hari kiamat.

Satu khatam bukanlah garis finis. Ia adalah titik recharge, tempat kita mengisi kembali bejana ruhani kita dengan rahmat ilahi. Dari surah An-Nas, kita rindu untuk segera kembali ke pelukan Al-Fatihah, memulai lagi perjalanan cinta yang takkan pernah usai.

Karena rahmat itu nyata. Ia turun dan menanti untuk dijemput oleh hati-hati yang merindu.

Daftar Referensi

  • الكتاب: فضائل القرآن للقاسم بن سلام
    المؤلف: أبو عُبيد القاسم بن سلاّم بن عبد الله الهروي البغدادي (ت ٢٢٤ هـ)
    تحقيق: مروان العطية [ت ١٤٤٤ هـ]- محسن خرابة [ت ١٤٤٠ هـ]- وفاء تقي الدين [توفيتْ ١٤٢٨ هـ]
    الناشر: دار ابن كثير (دمشق – بيروت)
    الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ -١٩٩٥ م
    [ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
    عدد الصفحات: ٤٠١

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi Executive Tahfizh:
Website: executivetahfizh.com
WA: +6281224003100

Flyer
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri