Dalam riwayat yang terekam dengan indahnya, kita mendapati sebuah dialog yang sarat makna, sebuah perbincangan antara Rasulullah ﷺ dengan salah seorang sahabat mulia, Ubay bin Ka’b. Sebuah momen yang mengajari kita tentang kerendahan hati seorang Nabi dan kedalaman hikmah di balik setiap kejadian. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Sesungguhnya aku telah lupa tasbih yang paling utama.” Kemudian Ubay bin Ka’b dengan penuh ketawadhuan menyarankan, “Mungkin itu adalah: Subbiḥisma Rabbikal-A‘lā (Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi)?” Nabi ﷺ pun membenarkan seraya bersabda, “Ya.” Peristiwa ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah gerbang untuk Mengungkap Keutamaan Tasbih Surat Al-A’la yang Sempat Nabi Lupakan dan meresapi pesan agung di baliknya.

Kisah ini membuka cakrawala pemahaman kita bahwa kadang, hal-hal terbaik justru memerlukan penyingkapan kembali, sebuah ingatan yang disegarkan agar keagungannya terpancar lebih terang. Bukanlah karena Nabi ﷺ benar-benar lupa dalam pengertian lalai, namun bisa jadi itu adalah cara Allah untuk mengajarkan kita, melalui peristiwa tersebut, bahwa ada tasbih istimewa yang patut kita renungkan dan amalkan. Tasbih, sejatinya, adalah sebuah deklarasi ketundukan, pengakuan atas keesaan dan keagungan Allah SWT. Ia bukan sekadar ucapan lisan, melainkan cerminan getaran hati yang meyakini tiada Tuhan selain Dia.

Memahami Makna “Lupa” dalam Konteks Nabi

Mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan “aku lupa” bisa jadi memicu pertanyaan. Apakah seorang Nabi bisa lupa? Tentu saja, dalam urusan duniawi, Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang bisa saja mengalami lupa. Namun, dalam konteks wahyu dan syariat, kelupaan beliau tidak pernah dibiarkan berlarut. Selalu ada bimbingan dari Allah SWT. Dalam kasus ini, kelupaan beliau akan “tasbih terbaik” justru menjadi metode ilahi untuk menegaskan dan memperkenalkan kepada umat keutamaan Surat Al-A’la. Ini adalah pengajaran langsung, sebuah cara untuk menarik perhatian kita pada permata tersembunyi yang mungkin selama ini luput dari fokus kita. Kita diundang untuk tidak hanya sekadar membaca, tapi juga menyelami dan Mengungkap Keutamaan Tasbih Surat Al-A’la yang Sempat Nabi Lupakan ini dengan sepenuh hati.

Peran Ubay bin Ka’b dalam riwayat ini juga sangat signifikan. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling faqih dalam Al-Qur’an, dijuluki sebagai sayyidul qurrā’ (pemuka para pembaca Al-Qur’an). Insight beliau untuk menyebutkan Surah Al-A’la menunjukkan kedalaman pemahaman beliau terhadap kalamullah. Bahwa Rasulullah ﷺ membenarkan tebakan Ubay, memberikan legitimasi dan penekanan khusus pada ayat pertama Surah Al-A’la sebagai “tasbih terbaik.” Ini menggarisbawahi pentingnya merujuk kepada ulama yang berilmu dan bagaimana dialog keilmuan dapat menyingkap kebenaran.

Menggali Kedalaman Surat Al-A’la sebagai Tasbih Terbaik

Surat Al-A’la, meski pendek, sarat akan makna dan keagungan. Ayat pertamanya berbunyi:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Subbiḥisma Rabbikal-A‘lā.

Artinya: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.”

Perintah “sucikanlah nama Tuhanmu” bukan sekadar perintah untuk menyebut nama-Nya dengan pujian. Ini adalah ajakan untuk menyucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menyucikan-Nya dalam pikiran, dalam keyakinan, dalam lisan, dan dalam setiap gerak-gerik. Menyucikan Allah Yang Mahatinggi berarti mengakui keesaan-Nya, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, dan kemutlakan kekuasaan-Nya. Ini adalah pondasi tauhid yang membebaskan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya.

Ayat-ayat selanjutnya dalam Surah Al-A’la semakin menegaskan keagungan Allah:

الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ۝ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

Allażī khalaqa fasawwā. Wal-lażī qaddara fahadā.

Artinya: “Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 2-3)

Pernyataan ini adalah bukti nyata akan kekuasaan Allah sebagai Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Musawwir (Maha Pembentuk), dan Al-Hadi (Maha Pemberi Petunjuk). Ketika kita merenungkan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, bagaimana Dia menetapkan kadar dan memberi petunjuk bagi setiap makhluk, hati kita akan dipenuhi dengan kekaguman yang mendalam. Maka, untuk Mengungkap Keutamaan Tasbih Surat Al-A’la yang Sempat Nabi Lupakan, kita perlu merenungkan setiap ayatnya, bukan hanya melafalkannya.

Transformasi Hati Melalui Tasbih Surah Al-A’la

Melafalkan dan merenungkan Surat Al-A’la secara rutin memiliki dampak yang luar biasa pada jiwa. Tasbih ini membawa kita pada kesadaran mendalam akan keagungan penciptaan dan kebijaksanaan Ilahi. Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan ini, seringkali kita terjebak dalam pusaran kekhawatiran dan ambisi duniawi. Hati menjadi gelisah, pikiran kalut, dan energi terkuras. Namun, ketika kita kembali kepada inti tasbih ini, “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,” kita seperti kembali kepada fitrah yang paling murni.

Kita diajak untuk melepaskan segala beban, menyerahkan segala urusan kepada Sang Pencipta yang Maha Sempurna. Ini bukan sekadar teori, melainkan aplikasi praktis yang mengubah pola pikir dan tindakan kita. Ketika hati dipenuhi dengan pengagungan kepada Allah, masalah-masalah dunia seolah mengecil. Prioritas hidup bergeser, dari mengejar yang fana menjadi menggapai yang abadi. Ketenangan sejati, yang selama ini kita cari di luar diri, ternyata ada dalam pengakuan dan penyucian nama Tuhan Yang Mahatinggi. Inilah esensi dari Mengungkap Keutamaan Tasbih Surat Al-A’la yang Sempat Nabi Lupakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tasbih ini juga mengajarkan kita tentang optimisme dan harapan. Allah SWT yang menciptakan dengan sempurna, yang menentukan kadar dan memberi petunjuk, pasti akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesulitan. Dia tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya terlantar. Keyakinan ini menumbuhkan kekuatan batin, mengikis keputusasaan, dan membangkitkan semangat untuk terus berikhtiar di jalan-Nya.

Mari kita jadikan tasbih dari Surah Al-A’la ini sebagai bagian tak terpisahkan dari zikir harian kita. Jadikan ia sebagai pengingat akan keagungan Allah, penenang jiwa, dan penuntun langkah. Dengan demikian, kita tidak hanya melafalkan kata-kata, tetapi juga menghidupkan makna dan mengambil pelajaran berharga dari sebuah tasbih yang pernah diingatkan kembali oleh Nabi ﷺ sebagai yang terbaik.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Abi Maryam, dari Ibnu Lahia, dari Abdullah bin Hubairah As-Saba’i, dari Abu Tamim, dari Rasulullah ﷺ.
  • Al-Qur’an Surah Al-A’la: 1-3.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,