Cara Murojaah Hafalan Al-Qur’an agar Tidak Mudah Lupa
Murojaah adalah kegiatan mengulang kembali ayat atau surah yang telah dihafal agar tetap kuat, lancar, dan tidak mudah terlupakan. Dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an, murojaah memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan menambah hafalan baru atau ziyadah.
Menghafal Al-Qur’an dapat diibaratkan seperti menanam benih kebaikan di dalam hati. Adapun murojaah adalah upaya menyirami, merawat, dan menjaganya setiap hari. Tanpa pengulangan yang konsisten, hafalan yang telah dibangun dengan susah payah dapat melemah dan perlahan menghilang dari ingatan.
Karena itu, keberhasilan seorang penghafal Al-Qur’an tidak hanya diukur dari banyaknya juz yang pernah dihafal, tetapi juga dari kemampuannya menjaga hafalan tersebut agar tetap hidup di dalam dada.
Apa Itu Murojaah Hafalan Al-Qur’an?
Secara sederhana, murojaah atau murajaah berarti kembali, memeriksa ulang, dan mengulang sesuatu yang telah dipelajari.
Dalam konteks tahfizh Al-Qur’an, murojaah adalah proses mengulang ayat, halaman, surah, atau juz yang sebelumnya telah dihafal. Pengulangan dapat dilakukan dengan melihat mushaf, tanpa melihat mushaf, membacanya di dalam shalat, menyetorkannya kepada guru, atau memperdengarkannya kepada pasangan murojaah.
Tujuan utama murojaah adalah:
- Menjaga hafalan agar tidak mudah lupa.
- Memperbaiki kesalahan bacaan dan tajwid.
- Menguatkan urutan ayat dan halaman.
- Memperlancar perpindahan dari satu ayat ke ayat berikutnya.
- Membantu hafalan tersimpan lebih kuat dalam ingatan.
- Menumbuhkan kedekatan dengan Al-Qur’an.
- Meningkatkan kualitas hafalan menuju tingkat itqan atau mutqin.
Murojaah bukan sekadar mengulang kata-kata. Murojaah merupakan proses merawat amanah Al-Qur’an sekaligus melatih hati agar tetap peka terhadap petunjuk Allah SWT.
Mengapa Hafalan Al-Qur’an Mudah Lepas?
Hafalan Al-Qur’an membutuhkan perhatian, kedisiplinan, dan pengulangan. Ayat yang tidak pernah dibaca kembali akan semakin sulit dipanggil dari ingatan.
Rasulullah SAW mengingatkan:
تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
Ta‘āhadul-Qur’āna, fawalladzī nafsī biyadihī, lahuwa asyaddu tafashshiyan minal-ibili fī ‘uqulihā.
“Peliharalah Al-Qur’an. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih cepat lepas daripada unta yang terikat pada tali pengikatnya.”
HR. Bukhari no. 5033 dan Muslim no. 791.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa hafalan harus dijaga melalui pembacaan dan pengulangan yang terus-menerus. Nomor hadis ini juga tercantum dalam rujukan hadis internasional dan penjelasan hadis yang menempatkannya sebagai hadis sahih.
Allah SWT juga berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Wa laqad yassarnal-Qur’āna lidz-dzikri fahal mim muddakir.
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
QS. Al-Qamar: 17.
Kemudahan menghafal Al-Qur’an adalah karunia Allah. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu disertai ikhtiar berupa latihan, pengulangan, kedisiplinan, doa, dan bimbingan yang benar.
Ziyadah dan Murojaah: Mana yang Lebih Penting?
Ziyadah adalah menambah hafalan baru, sedangkan murojaah adalah menjaga hafalan yang telah diperoleh.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Seorang penghafal Al-Qur’an membutuhkan ziyadah untuk meningkatkan jumlah hafalan dan membutuhkan murojaah untuk mempertahankan kualitasnya.
Masalah biasanya muncul ketika seseorang terlalu bersemangat mengejar jumlah halaman atau juz baru, tetapi mengabaikan hafalan lama. Akibatnya, hafalan terus bertambah secara kuantitas, tetapi semakin lemah ketika diminta melanjutkan ayat, mengulang surah, atau melakukan tasmi’.
Prinsip yang dapat diterapkan adalah:
Jangan menambah terlalu banyak hafalan baru apabila hafalan sebelumnya belum cukup stabil.
Semakin banyak hafalan yang dimiliki, semakin besar pula porsi waktu yang perlu diberikan untuk murojaah.
7 Cara Murojaah Hafalan Al-Qur’an yang Efektif
1. Tentukan Target Murojaah Harian
Jangan melakukan murojaah hanya ketika sedang bersemangat. Buatlah target yang jelas dan realistis.
Target dapat dihitung berdasarkan:
- Jumlah halaman.
- Jumlah surah.
- Jumlah juz.
- Durasi waktu.
- Tingkat kelancaran hafalan.
Pemula dapat memulai dari dua sampai lima halaman per hari. Setelah terbiasa, jumlahnya dapat ditambah secara bertahap sesuai kemampuan.
Target kecil yang dilakukan setiap hari lebih baik daripada target besar yang hanya dilakukan sesekali.
2. Ulangi Hafalan Baru pada Hari yang Sama
Hafalan baru sebaiknya tidak langsung ditinggalkan setelah selesai disetorkan. Ulangi kembali beberapa kali pada hari yang sama agar susunan ayat semakin kuat.
Hafalan dapat diulang:
- Setelah selesai menghafal.
- Setelah shalat fardhu.
- Menjelang waktu tidur.
- Setelah bangun tidur.
- Sebelum menambah hafalan berikutnya.
Penelitian dan pembahasan akademik tentang metode murajaah juga banyak menekankan pentingnya pengulangan secara berkala, mulai dari waktu yang dekat setelah menghafal hingga pengulangan harian, pekanan, dan bulanan.
3. Gunakan Satu Mushaf yang Sama
Menggunakan satu jenis mushaf secara konsisten dapat membantu mengingat posisi ayat, letak halaman, awal baris, akhir baris, dan susunan visual halaman.
Ketika terlalu sering berganti mushaf dengan tata letak berbeda, sebagian penghafal akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali peta visual hafalannya.
Karena itu, pilihlah satu mushaf utama untuk proses menghafal dan murojaah.
4. Baca Hafalan di Dalam Shalat
Shalat merupakan salah satu sarana terbaik untuk menguji hafalan. Ketika membaca hafalan di dalam shalat, seseorang dituntut untuk menghadirkan ayat tanpa terlalu bergantung pada bantuan mushaf.
Mulailah dengan membaca hafalan dalam:
- Shalat sunnah rawatib.
- Shalat tahajud.
- Shalat dhuha.
- Shalat witir.
- Shalat fardhu ketika menjadi imam dan telah siap.
Gunakan surah atau halaman yang sedang dimurojaah. Apabila terjadi kesalahan, catat bagian tersebut dan perbaiki kembali setelah shalat.
5. Lakukan Tasmi’ kepada Guru atau Pasangan Murojaah
Murojaah sendiri penting, tetapi seseorang terkadang tidak menyadari kesalahannya. Karena itu, hafalan perlu diperdengarkan kepada guru, musyrif, atau pasangan murojaah.
Melalui tasmi’, kesalahan berikut dapat diketahui lebih cepat:
- Ayat yang tertukar.
- Kata yang terlewat.
- Kesalahan harakat.
- Kesalahan tajwid.
- Kesulitan menyambungkan ayat.
- Kemiripan antara satu ayat dengan ayat lainnya.
Idealnya, pasangan murojaah menyimak langsung menggunakan mushaf dan menandai bagian yang perlu diperbaiki.
6. Dengarkan Murattal dengan Bacaan yang Jelas
Mendengarkan murattal dapat membantu menguatkan irama, panjang-pendek bacaan, waqaf, dan urutan ayat.
Pilih satu qari yang bacaannya jelas dan kecepatannya sesuai dengan kemampuan Anda. Dengarkan sambil mengikuti ayat pada mushaf, kemudian ulangi tanpa melihat.
Murattal sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti setoran kepada guru. Koreksi langsung dari guru tetap diperlukan, terutama untuk memperbaiki makhraj dan tajwid.
7. Buat Catatan Kesalahan Hafalan
Jangan hanya menghitung berapa halaman yang telah dibaca. Catatlah ayat-ayat yang masih sering salah.
Buat daftar sederhana yang berisi:
- Nama surah.
- Nomor ayat.
- Kata atau bagian yang sering tertukar.
- Ayat mutasyabihat yang mirip.
- Tanggal terakhir diperbaiki.
- Status kelancaran.
Ulangi bagian yang salah lebih banyak daripada bagian yang sudah lancar. Dengan demikian, murojaah menjadi lebih terarah dan tidak hanya mengulang bagian yang sudah dikuasai.
Contoh Jadwal Murojaah Hafalan Al-Qur’an
Jadwal berikut dapat disesuaikan dengan jumlah hafalan dan aktivitas masing-masing.
Untuk Hafalan Kurang dari 1 Juz
- Setelah Subuh: murojaah dua halaman.
- Setelah Zuhur: ulangi hafalan baru.
- Setelah Maghrib: murojaah dua halaman berikutnya.
- Sebelum tidur: ulangi ayat yang masih salah.
Untuk Hafalan 1–5 Juz
- Setelah Subuh: seperempat sampai setengah juz.
- Setelah Zuhur atau Ashar: hafalan baru.
- Setelah Maghrib: ulangi hafalan baru.
- Setelah Isya: perbaiki bagian yang masih lemah.
- Akhir pekan: tasmi’ satu juz.
Untuk Hafalan Lebih dari 5 Juz
- Bagi hafalan menjadi beberapa kelompok atau putaran.
- Tentukan juz yang dibaca setiap hari.
- Berikan porsi khusus untuk hafalan baru.
- Lakukan tasmi’ secara terjadwal.
- Sediakan satu hari untuk mengulang hafalan yang paling lemah.
Jadwal tersebut bukan aturan mutlak. Kecepatan membaca, kesibukan, kesehatan, dan tingkat kelancaran setiap orang berbeda. Hal terpenting adalah memiliki jadwal yang realistis dan dapat dijalankan secara istiqamah.
Tanda-Tanda Hafalan Mulai Kuat
Hafalan dapat dikatakan semakin kuat apabila:
- Ayat dapat dibaca tanpa terlalu banyak berhenti.
- Perpindahan antarayat berlangsung lancar.
- Awal dan akhir halaman mudah diingat.
- Ayat dapat dibaca dari bagian tengah surah.
- Kesalahan yang sama semakin jarang terulang.
- Hafalan dapat digunakan dalam shalat.
- Ayat mutasyabihat semakin mudah dibedakan.
- Hafalan tetap dapat dipanggil setelah beberapa hari tidak dibaca.
Namun, hafalan yang lancar tetap membutuhkan murojaah. Kelancaran hari ini tidak menjamin hafalan akan tetap kuat apabila tidak dijaga.
Kesalahan yang Sering Terjadi saat Murojaah
Terlalu Banyak Menambah Hafalan Baru
Ambisi mengejar target juz terkadang membuat seseorang mengabaikan kualitas. Akibatnya, hafalan baru bertambah, tetapi hafalan lama semakin kabur.
Hanya Membaca Bagian yang Disukai
Surah yang pendek dan mudah sering diulang, sedangkan surah yang panjang atau sulit dihindari. Padahal, bagian yang lemah justru membutuhkan perhatian lebih besar.
Tidak Menyetorkan Hafalan kepada Guru
Murojaah tanpa penyimak dapat menyebabkan kesalahan yang sama terus terbawa. Setoran dibutuhkan untuk menjaga ketepatan lafaz dan bacaan.
Berganti-ganti Mushaf
Tata letak halaman yang berbeda dapat mengganggu peta visual hafalan bagi sebagian orang.
Tidak Memiliki Jadwal
Murojaah yang hanya bergantung pada suasana hati akan sulit bertahan dalam jangka panjang.
Memaksakan Target yang Terlalu Berat
Target yang tidak realistis dapat menimbulkan kelelahan dan rasa gagal. Mulailah dari jumlah yang mampu dijaga, kemudian tingkatkan secara bertahap.
Murojaah Menggunakan Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Di Executive Tahfizh Qur’an Learning Center Yogyakarta, peserta dibimbing untuk menjaga hafalan melalui sistem yang terstruktur, terukur, dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Proses pembelajaran mengintegrasikan tiga unsur dalam Metode Yadain Litahfizhil Qur’an:
1. Al-Qur’an Virtual
Peserta dibimbing membangun gambaran mental mengenai posisi ayat dan susunan halaman mushaf. Tujuannya adalah membantu proses pemanggilan kembali ayat berdasarkan peta visual yang telah dipelajari.
2. Visualisasi Tadabbur
Peserta tidak hanya mengulang bunyi ayat, tetapi juga diarahkan memahami gambaran umum alur makna. Pemahaman konteks dapat membantu membedakan ayat-ayat yang memiliki kemiripan lafaz.
3. Jari Al-Qur’an
Jari digunakan sebagai salah satu alat bantu untuk menandai urutan, posisi, atau struktur hafalan. Unsur gerakan ini membantu peserta membangun jangkar kinestetik ketika mengingat kembali ayat.
Ketiga unsur tersebut tetap disertai dengan pembacaan berulang, koreksi guru, tasmi’, evaluasi, dan kedisiplinan murojaah.
Cara Mengatasi Rasa Bosan saat Murojaah
Rasa bosan merupakan tantangan yang wajar. Namun, jangan menjadikan kebosanan sebagai alasan untuk meninggalkan hafalan.
Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:
- Mengubah waktu murojaah.
- Berganti tempat yang lebih nyaman.
- Membaca hafalan dalam shalat.
- Murojaah bersama teman.
- Mendengarkan murattal.
- Membaca terjemah dan tafsir ringkas.
- Menetapkan target kecil.
- Memberikan penghargaan sederhana setelah mencapai target.
- Mengingat kembali niat menghafal Al-Qur’an.
Murojaah tidak harus selalu dilakukan dalam sesi panjang. Beberapa sesi singkat yang konsisten dapat lebih mudah dijalankan daripada satu sesi panjang yang melelahkan.
Keutamaan Berkumpul untuk Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang-orang yang berkumpul di rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an akan mendapatkan ketenangan, rahmat, dikelilingi para malaikat, dan disebut oleh Allah di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.
Keterangan tersebut terdapat dalam hadis sahih riwayat Muslim no. 2699.
Karena itu, halaqah tahfizh, majelis murojaah, dan pertemuan untuk mempelajari Al-Qur’an bukan hanya membantu kelancaran hafalan, tetapi juga menjadi lingkungan yang mendukung keistiqamahan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa kali hafalan harus dimurojaah?
Tidak ada jumlah yang sama untuk setiap orang. Hafalan baru perlu diulang lebih sering, sedangkan hafalan yang sudah kuat dapat dimasukkan ke dalam putaran harian, pekanan, atau bulanan.
Apakah boleh murojaah sambil melakukan aktivitas lain?
Boleh selama aktivitas tersebut tidak mengganggu konsentrasi dan tidak membahayakan. Murojaah dapat dilakukan ketika berjalan santai, menunggu, atau melakukan pekerjaan ringan. Namun, sesi khusus tetap diperlukan untuk mengecek ketepatan bacaan.
Lebih baik murojaah dengan melihat mushaf atau tanpa mushaf?
Keduanya diperlukan. Melihat mushaf berguna untuk memperbaiki kesalahan dan menguatkan posisi ayat. Murojaah tanpa mushaf berguna untuk menguji kekuatan hafalan.
Kapan waktu terbaik untuk murojaah?
Waktu yang sering dipilih adalah setelah Subuh, setelah shalat fardhu, menjelang tidur, dan saat qiyamul lail. Waktu terbaik adalah waktu yang paling mudah dijaga secara konsisten.
Bagaimana jika hafalan sudah banyak yang lupa?
Jangan mencoba memperbaiki semuanya sekaligus. Petakan hafalan menjadi tiga kategori: lancar, kurang lancar, dan lemah. Mulailah dari bagian yang paling sering digunakan atau paling memungkinkan diperbaiki, kemudian lanjutkan secara bertahap.
Apakah boleh menambah hafalan ketika hafalan lama belum lancar?
Boleh dengan porsi terbatas, tetapi murojaah harus tetap menjadi prioritas. Apabila hafalan lama sangat lemah, kurangi sementara jumlah ziyadah sampai kualitas hafalan kembali stabil.
Penutup
Menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan panjang yang membutuhkan niat ikhlas, kesabaran, kedisiplinan, dan bimbingan. Ziyadah memberikan tambahan hafalan, sedangkan murojaah menjaga agar hafalan tersebut tetap hidup.
Jangan berkecil hati ketika menemukan ayat yang terlupa. Lupa bukan alasan untuk berhenti, tetapi pengingat agar kita kembali membuka mushaf, mengulang ayat, memperbaiki bacaan, dan memperbarui hubungan dengan Al-Qur’an.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita keistiqamahan, kekuatan, kesehatan, dan kelapangan hati untuk menghafal, menjaga, memahami, serta mengamalkan Al-Qur’an sepanjang hayat.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Bimbingan Murojaah dan Hafalan Al-Qur’an
Bagi Anda yang membutuhkan lingkungan belajar intensif, pendampingan guru, jadwal terstruktur, serta evaluasi hafalan, silakan mengikuti program Executive Tahfizh di Qur’an Learning Center Yogyakarta.
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +62 812-2400-3100
Tentang Penulis
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

