Dalam setiap lembaran Al-Qur’an, tersimpan rahasia kekhusyuan dan petunjuk tak terhingga. Ayat-ayat-Nya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan undangan langsung dari Sang Pencipta untuk kita menyelami kedalaman makna dan mengaplikasikannya dalam hidup. Ada kalanya, Al-Qur’an memanggil kita untuk meresponsnya, bukan hanya dengan akal, tetapi juga dengan lisan dan hati. Salah satu momen istimewa tersebut adalah ketika kita sampai pada firman Allah dalam Surah Al-A’la. Lantas, bagaimana sebaiknya kita berinteraksi dengan ayat tersebut, khususnya dengan mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la Setelah Ayat Sabbih Isma Rabbikal A’la?
Menyelami Makna Mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la
Tasbih, yaitu ucapan “Subhanallah” atau variasinya, adalah bentuk pujian tertinggi kepada Allah SWT, mengakui kesucian-Nya dari segala kekurangan dan kesamaan dengan makhluk. Ketika kita mengucapkan “Subhana Rabbiyal A’la,” kita sedang memuji Rabb Yang Maha Tinggi, menegaskan keagungan-Nya yang tak terbatas. Ini adalah manifestasi dari pengakuan kita atas keesaan dan kesempurnaan-Nya. Mengapa respons ini begitu penting? Karena ia mengajak jiwa kita untuk benar-benar hadir, merasakan, dan menginternalisasi kebesaran Allah, bukan sekadar melafalkan huruf-huruf tanpa makna.
Surah Al-A’la sendiri dibuka dengan perintah yang agung:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
Terjemahnya: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” (Q.S. Al-A’la: 1)
Ayat ini adalah perintah langsung untuk bertasbih, untuk mensucikan nama Allah Yang Maha Tinggi. Ketika perintah ini dibaca, seorang hamba yang peka akan merasa terdorong untuk segera memenuhi perintah tersebut, dan itulah yang diajarkan oleh para sahabat Nabi ﷺ.
Teladan Mulia Para Sahabat: Mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la Setelah Ayat Sabbih Isma Rabbikal A’la
Kisah-kisah para sahabat Nabi adalah mercusuar bagi kita dalam menapaki jalan kebaikan. Mereka adalah generasi terbaik yang memahami Al-Qur’an tidak hanya secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual dan spiritual. Mengenai respons terhadap ayat pertama Surah Al-A’la, kita mendapatkan teladan langsung dari mereka. Diriwayatkan oleh Abu Ubaid, dari Hisyam, dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Umar, bahwa beliau ketika membaca Surah Al-A’la {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى}, beliau berkata: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى». Begitu pula dari Ibnu Abbas, beliau juga mengatakan hal yang serupa. Bahkan Sa’id bin Jubair sendiri juga melakukan praktik yang sama.
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ قَرَأَ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى} [الأعلى: ١] فَقَالَ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى» قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ، أَنَّهُ قَالَ مِثْلَ ذَلِكَ أَيْضًا قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ وِقَاءَ بْنِ إِيَاسٍ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، أَنَّهُ قَالَ مِثْلَ ذَلِكَ أَيْضًا
“Abu Ubaid berkata, Hisyam menceritakan kepada kami, dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Umar, bahwa beliau membaca {Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi} [Al-A’la: 1] lalu beliau mengucapkan: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.” Abu Ubaid berkata, Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, semoga Allah merahmatinya, bahwa beliau juga mengatakan hal yang serupa. Abu Ubaid berkata, Ibnu Abi Zaidah menceritakan kepada kami, dari Wiqa’ bin Iyas, dari Sa’id bin Jubair, bahwa beliau juga mengatakan hal yang serupa.”
Dari riwayat ini, kita dapati bahwa mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la Setelah Ayat Sabbih Isma Rabbikal A’la adalah praktik yang dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in. Ini menunjukkan bahwa respons tersebut bukanlah sekadar kebetulan, melainkan sebuah bentuk penghayatan yang mendalam terhadap perintah Allah. Mereka tidak menunda-nunda tasbih, melainkan segera melaksanakannya begitu perintah itu turun dalam bacaan mereka.
Mengapa Kita Menjawab Demikian? Refleksi Atas Perintah Ilahi
Tindakan spontan para sahabat untuk bertasbih setelah membaca ayat ini mencerminkan pemahaman mereka akan esensi komunikasi dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan buku biasa, melainkan kalamullah yang hidup. Ia berbicara, ia memerintah, dan ia mengajarkan. Ketika Allah memerintahkan, “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,” respons yang paling tepat adalah segera menyucikan-Nya. Ini adalah bukti ketaatan dan kekaguman seorang hamba kepada Rabb-nya. Melalui praktik ini, kita diajak untuk tidak hanya mendengar atau membaca, tetapi juga merespons dan berinteraksi secara aktif dengan setiap petunjuk yang Allah turunkan.
Interaksi semacam ini membentuk jembatan spiritual yang kuat antara pembaca dan Pencipta. Ini melatih hati untuk selalu ingat akan kebesaran Allah, bahkan dalam setiap detail tilawah. Maka, kebiasaan mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la Setelah Ayat Sabbih Isma Rabbikal A’la sejatinya adalah latihan untuk menghidupkan hati dan pikiran kita agar senantiasa terhubung dengan Dzat Yang Maha Agung.
Aplikasi Praktis dalam Tilawah Harian: Mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la
Menerapkan sunnah ini dalam tilawah harian kita sangatlah mudah. Ketika kita membaca Surah Al-A’la, setelah selesai membaca ayat pertama {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى}, jeda sejenak, lalu ucapkan «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى». Ini dapat dilakukan baik saat shalat maupun di luar shalat. Praktik sederhana ini akan membawa dimensi baru dalam pengalaman tilawah kita. Ia mengubah tilawah dari sekadar membaca menjadi sebuah dialog, dari sekadar melafalkan menjadi sebuah penghayatan. Kita tidak hanya menuntaskan bacaan, tetapi juga menuntaskan perintah, mengisi jeda dengan zikir yang menguatkan spiritual.
Manfaatnya luar biasa. Kita akan merasakan peningkatan kekhusyuan, ketenangan hati, dan kedekatan dengan Allah. Setiap kali kita mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la Setelah Ayat Sabbih Isma Rabbikal A’la, kita sedang menegaskan kembali keimanan kita, memperbarui janji kita untuk mensucikan Allah, dan melatih diri untuk selalu mengingat-Nya dalam setiap aktivitas.
Menghadirkan Kekhusyuan dalam Setiap Ayat: Mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la Setelah Ayat Sabbih Isma Rabbikal A’la
Praktik mulia ini merupakan bagian kecil namun signifikan dari upaya kita menghadirkan kekhusyuan sejati dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kekhusyuan adalah inti dari ibadah yang diterima, dan Al-Qur’an adalah salah satu sarana terbesar untuk mencapainya. Dengan secara sadar dan sengaja merespons perintah Allah, sebagaimana yang diteladankan para sahabat, kita melatih diri untuk menjadi pendengar dan pembaca Al-Qur’an yang lebih baik.
Mari kita jadikan kebiasaan mengucapkan Subhana Rabbiyal A’la Setelah Ayat Sabbih Isma Rabbikal A’la ini sebagai gerbang untuk membuka lebih banyak pintu kekhusyuan dalam tilawah kita. Jadikan setiap ayat Al-Qur’an sebagai kesempatan untuk merenung, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, Al-Qur’an akan benar-benar menjadi petunjuk dan penawar hati bagi kita, mengubah setiap momen bacaan menjadi perjalanan spiritual yang mendalam.
Sungguh, memahami dan mengamalkan adab-adab dalam membaca Al-Qur’an adalah kunci untuk membuka keberkahannya. Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi ahli Al-Qur’an yang tidak hanya lancar membaca, tetapi juga fasih dalam memahami dan mengamalkannya.
Daftar Referensi
- Q.S. Al-A’la: 1
- Kitab Fadha’il Al-Qur’an karya Abu Ubaid, Bab: Ma Yustahabbu Li Qari’il Qur’an Minal Jawab ‘Indal Ayati Wash Shahadatu Laha, halaman 154. (https://shamela.ws/book/12524/194#p1)
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

