Dalam perjalanan spiritual kita, Al-Qur’an adalah lentera yang tak pernah padam, membimbing setiap langkah menuju keridaan-Nya. Kita kerap bertanya, adakah cara terbaik untuk berinterinteraksi dengan kalam suci ini? Apakah membaca langsung dari lembaran Mushaf lebih utama, ataukah merangkai ayat-ayat dari ingatan hafalan kita? Pertanyaan ini bukanlah sekadar polemik, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana kita dapat meraih keberkahan maksimal dalam setiap untaian huruf-Nya. Mari kita selami bersama, menggali hakikat keutamaan membaca Al-Qur’an dari mushaf demi meningkatkan khushu’ dan tadabbur dalam hati sanubari.

Para ulama kita telah memberikan panduan yang terang benderang mengenai perkara ini. Imam An-Nawawi, seorang mujtahid besar dalam mazhab Syafii, menjelaskan pandangan mayoritas ulama dan generasi salaf yang mulia. Beliau menyatakan bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat Mushaf itu lebih utama daripada membaca dari hafalan semata. Mengapa demikian? Sebab, memandang lembaran Mushaf itu sendiri adalah sebuah ibadah yang dianjurkan.

الْقِرَاءَةُ فِي الْمُصْحَفِ أَفْضَلُ مِنَ الْقِرَاءَةِ مِنْ حِفْظِهِ لِأَنَّ النَّظَرَ فِيهِ عِبَادَةٌ مَطْلُوبَةٌ قَالَ النَّوَوِيُّ هَكَذَا قَالَهُ أَصْحَابُنَا وَالسَّلَفُ أَيْضًا وَلَمْ أَرَ فِيهِ خِلَافًا.

“Membaca (Al-Qur’an) di dalam mushaf lebih utama daripada membaca dari hafalannya, karena memandang mushaf adalah ibadah yang dianjurkan. An-Nawawi berkata, ‘Demikianlah yang dikatakan oleh sahabat-sahabat kami (ulama Syafiiyah) dan juga para salaf. Aku tidak melihat adanya perselisihan dalam hal ini.’”

Pernyataan ini bukan tanpa dasar yang kokoh. Memandang Mushaf melibatkan indra penglihatan, menjalin koneksi visual dengan setiap ayat dan tanda baca. Ini bukan sekadar membaca, melainkan sebuah interaksi multinasional yang menggabungkan lisan, mata, dan hati. Ketika mata kita tertuju pada setiap baris Al-Qur’an, ada aliran energi spiritual yang berbeda, sebuah rasa hormat dan kekaguman terhadap kalamullah yang tertulis. Inilah salah satu wujud keutamaan membaca Al-Qur’an dari mushaf demi meningkatkan khushu’ dan tadabbur kita.

Menggali Keberkahan Melalui Pandangan Mata dan Hati

Selain pernyataan Imam An-Nawawi, terdapat pula dalil dari Hadits yang semakin menguatkan pandangan ini. Diriwayatkan oleh At-Tabarani dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Hadits Aus Ats-Tsaqafi secara marfu’, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«قِرَاءَةُ الرَّجُلِ فِي غَيْرِ الْمُصْحَفِ أَلْفُ دَرَجَةٍ وَقِرَاءَتُهُ فِي الْمُصْحَفِ تُضَاعَفُ أَلْفَيْ دَرَجَةٍ».

“Bacaan seorang laki-laki (Al-Qur’an) tidak dari mushaf adalah seribu derajat, sedangkan bacaannya dari mushaf dilipatgandakan menjadi dua ribu derajat.”

Hadits ini secara eksplisit menunjukkan perbedaan pahala yang signifikan. Ini bukan berarti membaca dari hafalan tidak berpahala, tentu saja sangat berpahala. Namun, keberkahan yang dilipatgandakan ketika membaca dari Mushaf menunjukkan ada nilai tambah yang luar biasa. Angka seribu dan dua ribu derajat ini adalah gambaran metaforis dari betapa besar perbedaan ganjaran yang Allah sediakan. Ini menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa mencari setiap celah kebaikan, termasuk dalam praktik membaca Al-Qur’an kita. Dengan kesadaran ini, kita dapat benar-benar merasakan keutamaan membaca Al-Qur’an dari mushaf demi meningkatkan khushu’ dan tadabbur.

Variasi Pilihan: Memaksimalkan Khushu’ dan Tadabbur Setiap Individu

Namun, syariat Islam itu indah dan lentur, selalu mempertimbangkan kondisi individu. Imam An-Nawawi juga menambahkan nuansa penting dalam pandangannya. Beliau berkata:

وَلَوْ قِيلَ إِنَّهُ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ فَيُخْتَارُ الْقِرَاءَةُ فِيهِ لِمَنِ اسْتَوَى خُشُوعُهُ وَتَدَبُّرُهُ فِي حَالَتَيِ الْقِرَاءَةِ فِيهِ وَمِنَ الْحِفْظِ وَيُخْتَارُ الْقِرَاءَةُ مِنَ الْحِفْظِ لِمَنْ يَكْمُلُ بِذَلِكَ خُشُوعُهُ وَيَزِيدُ عَلَى خُشُوعِهِ وَتَدَبُّرِهِ لَوْ قَرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ لَكَانَ هَذَا قَوْلًا حَسَنًا.

“Dan jika dikatakan bahwa hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan individu, maka dipilih membaca dari mushaf bagi siapa saja yang khusyuk dan tadabburnya sama dalam kedua kondisi tersebut (membaca dari mushaf dan dari hafalan). Dan dipilih membaca dari hafalan bagi siapa saja yang dengan itu khusyuknya sempurna dan bertambah di atas khusyuk dan tadabburnya jika ia membaca dari mushaf, maka ini adalah perkataan yang baik.”

Pernyataan ini membuka wawasan kita tentang prioritas utama dalam membaca Al-Qur’an: khushu’ (kekhusyukan) dan tadabbur (perenungan). Artinya, meskipun ada keutamaan umum dalam membaca dari Mushaf, namun faktor individual juga perlu diperhitungkan. Jika seseorang merasa khusyuknya lebih dalam dan perenungannya lebih maksimal ketika membaca dari hafalan karena ia tidak perlu terganggu dengan gerakan mata atau membolak-balik lembaran, maka bagi orang tersebut, membaca dari hafalan bisa jadi lebih utama. Sebaliknya, jika pandangan mata pada Mushaf justru membantu menenangkan pikiran dan menambah fokus, maka pilihan membaca dari Mushaf akan jauh lebih baik.

Intinya adalah bagaimana kita dapat meraih tingkat kekhusyukan dan perenungan setinggi mungkin saat berinteraksi dengan firman-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad: 24)

Ayat ini menegaskan pentingnya tadabbur, merenungi makna setiap ayat, bukan sekadar melafalkannya. Apapun metodenya, baik dari Mushaf maupun hafalan, tujuan akhirnya adalah hati yang terbuka, pikiran yang merenung, dan jiwa yang tunduk di hadapan kebesaran Allah. Oleh karena itu, kita harus menemukan cara yang paling efektif bagi diri kita sendiri untuk mencapai puncak keutamaan membaca Al-Qur’an dari mushaf demi meningkatkan khushu’ dan tadabbur.

Praktik Terbaik dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Setelah memahami dua sisi pandang ini, bagaimana kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, mari kita tanamkan dalam diri keyakinan akan keutamaan membaca Al-Qur’an dari mushaf demi meningkatkan khushu’ dan tadabbur. Berusahalah untuk membiasakan diri membaca langsung dari Mushaf, terutama dalam rutinitas harian kita. Sediakan waktu khusus, di tempat yang tenang, agar pandangan mata dan hati dapat menyatu dengan ayat-ayat Allah.

Namun, bukan berarti kita menafikan pentingnya hafalan. Bagi para penghafal Al-Qur’an, menjaga hafalan dengan muraja’ah (mengulang hafalan) adalah ibadah yang tak kalah mulia. Jika saat muraja’ah dari hafalan justru membuat Anda lebih fokus dan khusyuk, itu adalah karunia. Kuncinya adalah introspeksi diri: metode mana yang paling membantu Anda merasakan kehadiran Allah, memahami pesan-Nya, dan meresapi setiap hikmah yang terkandung dalam Al-Qur’an?

Kita dapat menggabungkan keduanya. Misalnya, di pagi hari, kita membaca beberapa juz dari Mushaf dengan penuh perenungan. Kemudian di waktu lain, kita muraja’ah hafalan tanpa melihat Mushaf. Keduanya adalah jalan menuju keberkahan, namun dengan pemahaman akan keutamaan yang lebih spesifik dalam membaca dari Mushaf, kita didorong untuk tidak melupakan aspek visual yang juga bernilai ibadah ini.

Pada akhirnya, tujuan kita adalah membangun hubungan yang erat dan berkualitas dengan Al-Qur’an. Hubungan yang tidak hanya terbatas pada lisan, tetapi meresap hingga ke kedalaman hati, menggerakkan pikiran untuk merenung, dan mendorong anggota badan untuk beramal. Dengan demikian, setiap bacaan Al-Qur’an, baik dari Mushaf maupun hafalan, akan menjadi jembatan yang kokoh menuju kedekatan dengan Sang Pencipta, serta realisasi keutamaan membaca Al-Qur’an dari mushaf demi meningkatkan khushu’ dan tadabbur dalam diri kita.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam perjalanan mulia ini, menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hidup, penenang jiwa, dan penunjuk jalan ke Surga-Nya. Untuk Anda yang ingin memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an, khususnya dalam menghafal dan memahaminya dengan metode yang teruji, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama kami.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • As-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Kairo: Al-Hai’ah Al-Mishriyyah Al-‘Ammah lil Kitab, 1394 H/1974 M.
  • Al-Baihaqi, Ahmad bin Al-Husain. Syu’abul Iman. Hadits dari Aus Ats-Tsaqafi.
  • Al-Qur’an, Surat Muhammad: 24.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,