Pernahkah kita berhenti sejenak, menatap hiruk pikuk dunia yang kini terasa begitu cepat berputar? Di tengah gemerlap kemajuan teknologi dan tumpukan informasi yang tak berujung, seringkali kita justru merasakan kehampaan yang aneh. Kita melihat berbagai peristiwa yang mengoyak hati, tindakan-tindakan yang seolah jauh dari akal sehat, dan ironisnya, ini semua terjadi di tengah klaim kemajuan peradaban. Hati kecil kita mungkin bertanya, ada apa gerangan? Mengapa di puncak kemajuan materi, nilai-nilai luhur kemanusiaan justru tergerus, bahkan seolah runtuh?

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Ada sebuah fondasi yang mungkin secara perlahan kita lalaikan, sebuah kompas yang dulunya membimbing arah langkah kita, namun kini terabaikan. Kompas itu adalah syariat Allah, petunjuk agung yang diturunkan-Nya untuk kemaslahatan seluruh alam, termasuk dan terutama manusia.

Syariat, Bukan Sekadar Aturan, Tapi Cahaya Pembimbing

Seringkali, ketika kita mendengar kata “syariat”, yang terlintas adalah sederet aturan yang mengekang, larangan-larangan yang memberatkan, atau tuntutan yang terasa memberatkan. Padahal, jika kita mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lebih jernih dan mendalam, syariat Allah itu jauh lebih dari sekadar daftar “boleh” dan “tidak boleh”. Syariat adalah peta kehidupan, sebuah panduan yang dirancang oleh Sang Pencipta yang paling memahami ciptaan-Nya. Ia adalah cahaya yang menerangi jalan kita, menjaga fitrah murni yang Allah titipkan dalam diri setiap insan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Islam, dengan syariat-Nya, adalah agama yang selaras dengan fitrah. Ia tidak bertentangan dengan akal sehat, tidak pula mengabaikan kebutuhan dasar manusia. Sebaliknya, ia datang untuk menyempurnakan, untuk menuntun kita kembali kepada esensi diri yang sejati. Bayangkan, sebuah manual penggunaan yang paling sempurna, diberikan oleh pembuatnya untuk memastikan perangkatnya berfungsi optimal. Itulah syariat bagi kehidupan kita.

Memuliakan Manusia: Pilar Agung dalam Syariat Ilahi

Salah satu inti ajaran syariat adalah pengangkatan derajat dan martabat manusia. Islam datang bukan untuk merendahkan, melainkan untuk memuliakan setiap individu. Setiap perintah dan larangan dalam syariat bertujuan untuk menjaga lima hal pokok dalam kehidupan manusia: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Lima pilar ini, jika terjaga, akan melahirkan tatanan masyarakat yang beradab, damai, dan penuh kasih sayang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra [17]: 70)

Ayat ini secara eksplisit menegaskan kemuliaan manusia di sisi Allah. Syariat adalah manifestasi dari kemuliaan itu. Ketika kita diperintahkan untuk berbuat adil, itu adalah bentuk menjaga kemuliaan sesama. Ketika kita dilarang berzina, itu adalah bentuk menjaga kemuliaan diri dan keturunan. Ketika kita dilarang mencuri, itu adalah bentuk menjaga kemuliaan hak milik orang lain. Setiap detail dalam syariat, jika kita pahami dengan hati, adalah jaring pengaman yang kokoh untuk memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap tegak dan bersinar.

Ketika Kompas Hati Bergeser: Konsekuensi Melalaikan Syariat

Namun, apa yang terjadi ketika kompas itu kita abaikan? Ketika kita mulai menggeser syariat dari posisi sentralnya, ketika kita lebih memilih hukum-hukum buatan manusia yang seringkali didasari hawa nafsu dan kepentingan sesaat, maka di situlah keruntuhan perlahan-lahan dimulai. Nilai-nilai kemanusiaan yang dulunya begitu berharga, kini mulai terkikis. Kedamaian berganti dengan konflik, keadilan menjadi bias, dan kasih sayang terkubur di bawah tumpukan egoisme.

Kita bisa melihatnya di sekeliling kita: peningkatan angka kejahatan, krisis moral, ketidakpedulian terhadap sesama, putusnya tali silaturahim, hingga kehancuran keluarga. Ini semua adalah dampak dari jauhnya kita dari tuntunan ilahi. Manusia, dengan segala kecerdasannya, memang mampu menciptakan banyak hal. Tapi ada batas di mana akal tidak lagi mampu menjangkau kebaikan sejati tanpa petunjuk dari Sang Pencipta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah [5]: 50)

Ayat ini mengajak kita merenung, di tengah berbagai sistem dan ideologi yang ditawarkan manusia, apakah ada yang lebih baik daripada hukum Allah? Jika kita benar-benar meyakini keesaan-Nya, keadilan-Nya, dan kebijaksanaan-Nya, mustahil ada petunjuk yang lebih sempurna untuk menata kehidupan ini, menjaga nilai kemanusiaan, dan membawa kebahagiaan hakiki.

Kembali ke Sumber Mata Air Kehidupan: Jalan Menuju Kemanusiaan Hakiki

Maka, jika kita ingin melihat nilai kemanusiaan kembali tegak, jika kita mendambakan kedamaian yang sejati, dan jika kita merindukan masyarakat yang beradab lagi dirahmati, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada syariat Allah. Kembali bukan berarti mundur ke belakang, melainkan kembali kepada fondasi yang kokoh, kepada sumber mata air yang jernih dan tak pernah kering.

Nabi Muhammad ﷺ, sebagai teladan utama kita, telah mewariskan dua pusaka yang tak akan pernah menyesatkan selama kita berpegang teguh padanya:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ: أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَمَنْ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

“Dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu dia berkata: Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berdiri menyampaikan khutbah kepada kami di suatu tempat air yang dinamakan Khum, letaknya antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, memberi nasehat dan peringatan. Kemudian beliau bersabda: ‘Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, hampir saja utusan Rabbku (malaikat maut) datang kepadaku lalu aku menyambutnya. Dan aku meninggalkan untuk kalian dua hal yang berat, yang pertama Kitab Allah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya dan mengambilnya, dia akan berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya, dia akan sesat. Dan ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku.’” (HR. Muslim)

Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah sumber utama syariat. Dengan mempelajarinya, memahami maknanya, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak hanya akan menemukan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, tetapi juga akan menjadi agen-agen pembaharu yang membawa kembali nilai-nilai kemanusiaan pada tempatnya yang mulia.

Mari kita menata ulang cara pandang kita. Mari kita buka hati untuk menerima petunjuk yang paling lurus ini. Sesungguhnya, Al-Qur’an adalah kalamullah yang memuat seluruh hikmah syariat, sebuah panduan hidup yang sempurna untuk kita, hamba-Nya yang ingin selalu berada dalam ridha dan kasih sayang-Nya.

Jika kita ingin melihat kemanusiaan kembali berjaya, syariat Allah adalah kunci utamanya. Berpegang teguhlah padanya, pelajarilah dengan sungguh-sungguh, dan saksikan bagaimana kehidupan kita dan dunia di sekitar kita berangsur membaik, kembali pada fitrah yang mulia.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,