Ada sebuah keindahan dalam perjuangan menuntut ilmu. Pahitnya bangun di keheningan waktu sahur, lelahnya menempuh perjalanan demi sebuah pemahaman baru, dan sabarnya mengurai benang kusut kesulitan. Perjuangan ini adalah melodi sunyi yang hanya dipahami oleh para pejuangnya. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: untuk siapa dan untuk apa semua energi ini kita kerahkan? Sebab di balik setiap tetes keringat, ada sebuah fondasi tak kasat mata bernama niat, yang menentukan apakah sebuah bangunan ilmu akan menjulang ke langit rida-Nya atau justru ambruk menjadi puing kesia-siaan. Inilah refleksi mendalam tentang bahaya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi yang bisa memadamkan cahaya sebelum ia sempat bersinar.
Al-Imam Al-Husain bin Al-Mansur Billah dalam kitabnya Ādāb al-ʿUlamāʾ wa al-Mutaʿallimīn melukiskan dua pilar penuntut ilmu dengan sangat indah melalui syairnya:
أصبر على مضض الادلاج بالسحر … وبالرواح على الحاجات والكبر
لا تعجزن ولا يضجرك مطلبها … فالنجح يتلف بين العجز والضجر
إني رأيت وفي الأيام تجربة … للصبر عاقبة محمودة الأثر
وقل من جد في أمر يطالبه … واستصحب الصبر إلا فاز بالظفر
Syair ini seolah berbisik, “Bersabarlah atas getirnya perjalanan di waktu sahur, dan berangkat pagi demi hajat-hajat besar. Jangan lemah dan jangan bosan, karena kesuksesan itu hancur di antara kelemahan dan kebosanan. Sungguh, aku telah melihat melalui pengalaman, bahwa kesabaran berbuah akibat yang terpuji. Jarang sekali orang yang bersungguh-sungguh mengejar sesuatu dengan kesabaran, kecuali ia akan meraih kemenangan.”
Pesan ini menggarisbawahi pentingnya daya tahan, kegigihan, dan kesabaran. Namun, sang Imam segera menyandingkan pilar kesabaran ini dengan pilar yang jauh lebih fundamental: kemurnian niat. Beliau mengingatkan dengan tegas agar kita tidak terjebak dalam bahaya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi.
Menggali Akar Masalah: Ketika Niat Menjadi Racun
Niat adalah ruh dari segala amal. Tanpa niat yang lurus karena Allah, sebuah ibadah yang agung sekalipun dapat berubah menjadi aktivitas duniawi yang hampa nilai. Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah emas dalam sabdanya:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Menuntut ilmu adalah salah satu ibadah paling mulia. Namun, ketika niat kita tergelincir—belajar demi meraih jabatan, mencari popularitas, mengumpulkan harta, atau sekadar ingin terlihat paling pandai di sebuah forum—saat itulah kita sedang menyiram racun ke akar pohon ilmu kita. Amal itu mungkin terlihat megah di mata manusia, tetapi ia telah gugur di hadapan Allah sebelum sempat tumbuh.
Waspadai Tiga Tanda Kehancuran Akibat Niat yang Salah
Peringatan dari Imam Al-Husain sangatlah jelas. Beliau merinci dampak korosif dari niat yang salah, yang menjadi inti dari bahaya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi.
1. Terhapusnya Amal dan Padamnya Cahaya Ilmu
Bayangkan seorang petani yang merawat ladangnya siang dan malam, namun saat panen tiba, semua hasilnya hangus terbakar. Begitulah perumpamaan penuntut ilmu yang niatnya salah. Semua lelah, waktu, dan pengorbanannya menjadi sia-sia. Lebih dari itu, “cahaya ilmu”—yaitu hikmah, ketenangan batin, rasa takut kepada Allah, dan kerendahan hati—akan padam. Ilmu yang dimiliki hanya menjadi data kering di kepala, tidak mampu menyinari hati dan perilakunya.
2. Lelah yang Berujung pada Kekosongan
Ketika tujuan kita adalah materi atau pengakuan, kita tidak akan pernah menemukan kepuasan sejati. Jabatan bisa direbut, harta bisa hilang, dan pujian bisa berubah menjadi cacian. Mengejar semua itu hanya akan menghasilkan kelelahan fisik dan batin yang berujung pada kekosongan. Ilmu yang seharusnya menjadi sumber ketenangan justru menjadi beban yang memicu kegelisahan tiada akhir.
3. Tergolong Pemilik Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Inilah puncak tragedi seorang penuntut ilmu. Ilmunya banyak, tetapi tidak memberinya manfaat. Tidak membuatnya lebih dekat kepada Allah, tidak memperbaiki akhlaknya, dan tidak membawa kebaikan bagi sesama. Inilah jenis ilmu yang Rasulullah ﷺ sendiri berlindung darinya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (H.R. Muslim)
Menyelaraskan Sabar dan Ikhlas: Kunci Meraih Kemenangan Hakiki
Jalan ilmu itu panjang dan terjal, menuntut kesabaran luar biasa. Namun, kesabaran sejati hanya bisa lahir dari niat yang murni. Sabar karena Allah akan terasa manis, karena setiap kesulitan yang dihadapi bernilai ibadah. Sebaliknya, sabar demi tujuan duniawi akan terasa getir dan penuh tekanan. Ia rapuh dan mudah runtuh ketika hasil yang diharapkan tak kunjung tiba. Di sinilah letak pentingnya menyadari bahaya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi sejak awal.
Mari kita kembali meluruskan kompas hati kita sesuai firman Allah Ta’ala:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (Q.S. Al-Bayyinah: 5)
Setiap langkah kita dalam belajar, setiap halaman buku yang kita baca, dan setiap ayat Al-Qur’an yang kita hafal, marilah kita niatkan semata-mata untuk meraih rida Allah, untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri, dan untuk memberi manfaat kepada umat. Dengan begitu, kesabaran kita akan menjadi kekuatan, dan ilmu kita akan menjadi cahaya yang tak pernah padam.
Pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah tepuk tangan manusia atau tumpukan harta, melainkan saat Allah Ta’ala meridai setiap tetes keringat kita dan menjadikan ilmu itu sebagai pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Waspadalah terhadap bahaya menuntut ilmu untuk tujuan duniawi, karena ia adalah pencuri paling licik yang bisa merampas semua hasil jerih payah kita.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk memiliki kesabaran dalam berjuang dan keikhlasan dalam berniat, sehingga kita terhindar dari kesia-siaan dan meraih kemenangan yang hakiki.
Perjalanan menghafal Al-Qur’an adalah salah satu wujud nyata dari perjuangan ilmu yang membutuhkan kesabaran dan niat yang lurus. Jika Anda mencari lingkungan yang kondusif untuk menjaga kedua pilar ini, Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk mendampingi Anda dalam program Executive Tahfizh, sebuah program yang dirancang khusus untuk para profesional dan pengusaha.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Bayyinah: 5
- Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu (tentang niat).
- Hadis Riwayat Muslim no. 2867, dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu (tentang doa berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat).
- Kitab Ādāb al-ʿUlamāʾ wa al-Mutaʿallimīn, karya Al-Imam Al-Husain bin Al-Mansur Billah Al-Qasimi Al-Yamani.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


