Ada sebuah ironi yang begitu halus, namun sayatannya amat dalam di relung jiwa. Ketika anugerah termulia, yakni Al-Qur’an, yang seharusnya menjadi pelembut hati dan pemandu kerendahan jiwa, justru bermetamorfosis menjadi belati kesombongan. Fenomena ini, meski tak selalu tampak di permukaan, digambarkan dengan sangat presisi oleh Imam al-Ajurri. Beliau melukiskan potret seorang penghafal Al-Qur’an yang tergelincir: ia berbangga diri di hadapan manusia, menggunakan penguasaannya atas ragam qira’at (cara baca) yang unik untuk mendebat dan merendahkan mereka yang hafalannya tak sebanyak dirinya. Ini adalah sebuah pengingat abadi tentang adanya bahaya sombong karena merasa lebih unggul dalam hafalan Al-Qur’an.
Mengidentifikasi Penyakit Hati yang Tersembunyi
Penyakit ini seringkali datang tanpa disadari, menyelinap laksana kabut di pagi hari. Ia tidak berwujud, namun dampaknya nyata. Imam al-Ajurri menguraikan gejalanya dengan cermat: seseorang yang terjangkit penyakit ini akan terlihat angkuh, banyak bicara tanpa hikmah, dan sibuk mencari-cari aib sesama penghafal Al-Qur’an. Ia menjadikan pengetahuannya tentang ragam bacaan Al-Qur’an, terutama yang dianggap langka atau gharib, sebagai senjata untuk menunjukkan superioritas.
Padahal, jika ia mau merenung sejenak, ia akan sadar bahwa sebagian dari bacaan langka itu mungkin tidak sepatutnya diamalkan secara luas karena belum terverifikasi oleh para ahli qira’at, atau karena keasingannya dapat menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Di sinilah letak ujiannya. Ilmu yang seharusnya mendekatkan diri kepada Allah, justru menjadi tabir pemisah yang menebalkan ego. Ia lupa bahwa setiap ayat yang dihafalnya adalah titipan, amanah yang menuntut kerendahan hati, bukan panggung untuk pamer kehebatan.
Akar Masalah: Jebakan Iblis dalam Perjalanan Menghafal
Sifat merasa lebih baik dari yang lain adalah penyakit paling purba, warisan dari Iblis laknatullah. Ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak dengan argumentasi yang didasari kesombongan. Ia merasa dirinya lebih mulia.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Q.S. Al-A’raf: 12)
Logika “Aku lebih baik darinya” inilah yang menjadi bisikan syaitan di hati para penuntut ilmu, termasuk para penghafal Al-Qur’an. Bisikan itu membujuk kita untuk membanding-bandingkan kualitas hafalan, kefasihan lisan, dan kedalaman ilmu dengan orang lain, lalu menarik kesimpulan semu bahwa “aku lebih unggul”.
Jebakan “Aku Lebih Baik Darinya”: Cerminan Bahaya Sombong karena Merasa Lebih Unggul dalam Hafalan Al-Qur’an
Ketika seorang hafiz mulai memandang orang lain dengan tatapan meremehkan, “ia hafalannya baru sedikit,” atau “bacaannya belum seunik bacaanku,” saat itulah ia sedang mengulangi kesalahan fatal Iblis. Ia telah mengubah nikmat menjadi alat untuk menumbuhkan takabur. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan yang sangat keras mengenai kesombongan.
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (H.R. Muslim)
Kesombongan, sekecil apa pun itu, menjadi penghalang Rahmat Allah. Ia menutup pintu surga, apalagi jika kesombongan itu lahir dari interaksi kita dengan Kalam-Nya yang suci. Sungguh sebuah kerugian yang tak terhingga.
Menundukkan Ego: Kembali pada Hakikat Ilmu
Ilmu sejati, ibarat padi, semakin berisi akan semakin merunduk. Ia tidak membuat pemiliknya merasa tinggi, melainkan membuatnya semakin sadar akan keagungan Allah dan kehinaan dirinya. Tujuan utama dari menghafal dan mempelajari Al-Qur’an adalah untuk menumbuhkan khasyah, rasa takut yang berbalut pengagungan kepada Sang Pencipta, yang kemudian termanifestasi dalam akhlak mulia.
Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka ada yang perlu dievaluasi secara fundamental dari niat dan cara kita berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kita perlu senantiasa mengingatkan diri bahwa setiap hafalan, setiap pemahaman, adalah murni karunia dari Allah. Tanpa pertolongan-Nya, lisan kita kelu, ingatan kita lemah, dan hati kita buta.
Mengobati Bahaya Sombong karena Merasa Lebih Unggul dalam Hafalan Al-Qur’an
Pengobatan terbaik adalah pencegahan, dan pencegahan dimulai dari kesadaran. Menyadari bahwa semua ilmu adalah titipan semata merupakan langkah pertama untuk terhindar dari bahaya sombong karena merasa lebih unggul dalam hafalan Al-Qur’an. Beberapa langkah praktis yang bisa kita tempuh antara lain:
- Memperbarui Niat (Tajdidun Niyyah)
Lakukan secara berkala. Tanyakan pada diri sendiri, “Untuk siapa aku lelah menghafal? Untuk pujian manusiakah, atau untuk meraih ridha Allah semata?” - Mencari Lingkungan yang Saleh (Suhbah Shalihah)
Bergaullah dengan orang-orang yang lebih alim namun tetap tawadhu’. Kehadiran mereka akan menjadi cermin dan pengingat bagi kita untuk senantiasa rendah hati. - Mengajarkan dengan Sabar
Salah satu cara terbaik menundukkan ego adalah dengan mengajarkan ilmu kepada orang yang belum tahu. Melayani mereka dengan sabar akan menumbuhkan rasa syukur dan empati, bukan superioritas. - Memperbanyak Doa
Mohonlah kepada Allah agar dijauhkan dari sifat sombong, ujub, dan riya’. Mintalah agar ilmu yang kita miliki menjadi hujjah yang membela, bukan yang menjerumuskan kita.
Perjalanan bersama Al-Qur’an adalah perjalanan seumur hidup untuk membersihkan hati. Ia bukan sekadar perlombaan untuk mencapai target hafalan, melainkan sebuah proses transformasi diri untuk meneladani akhlak Al-Qur’an. Semoga Allah melindungi kita semua dari bahaya sombong karena merasa lebih unggul dalam hafalan Al-Qur’an, dan menjadikan kita sebagai ahlul Qur’an yang sejati, yang rendah hati di hadapan-Nya dan penuh kasih sayang terhadap sesama.
Jika Anda, para profesional dan eksekutif, merasakan panggilan untuk memulai atau menyempurnakan perjalanan mulia ini dengan bimbingan yang tepat, dalam lingkungan yang mendukung kerendahan hati dan fokus pada perubahan diri, Qur’an Learning Center Yogyakarta membuka pintu seluas-luasnya. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya, bukan sebagai pemicu kesombongan.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-A’raf: 12.
- Hadits Riwayat Muslim.
- Al-Ajurri, Muhammad ibn al-Husayn. Mukhtasar Akhlaq Hamalat al-Qur’an. Dār Ibn al-Jawzī.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


