Dalam rentang perjalanan spiritual kita, seringkali kita tergoda untuk menampilkan kesalehan secara demonstratif. Namun, Islam, dengan segala keindahannya, mengajarkan kita tentang keikhlasan dan menjaga keseimbangan. Salah satu aspek penting yang kerap terabaikan adalah adab dalam beribadah, terutama terkait dengan interaksi kita dengan sesama. Betapa banyak dari kita yang mungkin tanpa sadar telah melupakan esensi dari sebuah ketenangan dan penghormatan, khususnya dalam konteks peribadatan.

Mari kita renungkan sejenak sebuah riwayat yang menyingkap betapa pentingnya menjaga adab dalam berinteraksi, bahkan dalam konteks membaca Al-Quran. Dalam sebuah catatan mulia, disebutkan:

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، قَالَ: قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ هَاهُنَا قَوْمًا يَجْهَرُونَ بِالْقُرْآنِ فِي صَلَاةِ النَّهَارِ. فَقَالَ: «ارْمُوهُمْ بِالْبَعْرِ» قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ

Artinya: “Berkata Abu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, dari Al-Auza’i, dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata: Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Sesungguhnya di sini ada suatu kaum yang mengeraskan bacaan Al-Quran dalam shalat siang hari.’ Maka beliau bersabda: ‘Lempari mereka dengan kotoran unta (atau hewan ternak lainnya).’ Abu Ubaid berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Umar bin Abdul Aziz, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal yang serupa.”

Kisah ini, meski mungkin terdengar “keras” di telinga kita yang modern, mengandung hikmah mendalam tentang etika bersosial dalam ibadah. Perintah “lempari mereka dengan kotoran unta” bukanlah anjuran literal untuk kekerasan, melainkan sebuah metafora kuat untuk menyatakan ketidaksukaan yang sangat besar terhadap tindakan yang mengganggu kekhusyukan orang lain. Ini adalah penekanan yang tegas dari Rasulullah ﷺ tentang pentingnya menjaga ketenangan dan menghindari tindakan yang bisa menjadi penghalang bagi orang lain untuk beribadah dengan tenang.

Intinya adalah bagaimana kita menyadari bahwa ibadah kita, meskipun merupakan urusan pribadi dengan Allah, juga memiliki dimensi sosial. Ketika kita tidak menjaga adab membaca Al-Quran saat shalat dan mengganggu orang lain, kita telah melukai hak saudara kita sesama Muslim untuk beribadah dengan fokus dan khusyuk. Ini bukan hanya tentang bacaan Al-Quran yang lantang, tetapi juga tentang segala bentuk kegaduhan atau tindakan yang bisa memecah konsentrasi orang lain dalam shalat atau dzikir.

Memahami Esensi Ketenangan dalam Ibadah

Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba-Nya yang beribadah dengan sepenuh hati, meresapi setiap makna, dan merasakan kehadiran-Nya. Ketenangan adalah salah satu kunci utama untuk mencapai kekhusyukan tersebut. Saat seseorang mengeraskan suaranya dalam membaca Al-Quran di tengah jamaah yang sedang shalat atau berzikir, seringkali hal itu justru merenggut ketenangan dari individu lain. Suara yang terlalu lantang bisa membuat konsentrasi buyar, mengacaukan bacaan, bahkan menimbulkan rasa tidak nyaman.

Adab membaca Al-Quran saat shalat dan mengganggu orang lain bukan hanya berlaku di masjid atau musholla. Prinsip ini dapat kita terapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Di mana pun kita berada, kita diajarkan untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan atau mengganggu orang lain, apalagi dalam konteks ibadah yang seharusnya membawa kedamaian. Bayangkan jika kita sendiri yang sedang berusaha fokus dalam shalat atau membaca Al-Quran, lalu diganggu oleh suara bising di sekitar. Tentu kekhusyukan akan sulit tercapai.

Islam adalah agama yang sempurna, mengajarkan kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan juga memperhatikan hak-hak orang lain. Dalam sebuah ayat Al-Quran, Allah berfirman:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Artinya: “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf: 205)

Ayat ini secara eksplisit mengarahkan kita untuk berzikir dan mengingat Allah dalam hati, dengan merendahkan diri dan rasa takut, serta tanpa mengeraskan suara. Ini menunjukkan bahwa nilai sebuah ibadah tidak terletak pada seberapa keras suara kita dalam melafazkannya, melainkan pada kualitas hati dan keikhlasan yang membersamainya. Memahami adab membaca Al-Quran saat shalat dan mengganggu orang lain adalah langkah nyata dalam mengimplementasikan ajaran ini.

Implikasi Adab dalam Kehidupan Sehari-hari

Dari riwayat dan ayat di atas, kita dapat memetik pelajaran berharga yang melampaui konteks shalat saja. Prinsip tidak mengganggu orang lain harus menjadi landasan dalam setiap interaksi kita. Misalnya, ketika kita membaca Al-Quran di tempat umum, di lingkungan kerja, atau bahkan di rumah yang dihuni banyak anggota keluarga, penting untuk memastikan bahwa suara kita tidak mengganggu mereka yang mungkin sedang beraktivitas lain, beristirahat, atau bahkan sedang beribadah dalam bentuk yang berbeda.

Menjaga adab membaca Al-Quran saat shalat dan mengganggu orang lain mengajarkan kita tentang empati dan kepedulian. Ini bukan berarti kita harus menyembunyikan ibadah kita, tetapi lebih kepada mencari keseimbangan. Kita bisa memilih waktu dan tempat yang tepat untuk membaca Al-Quran dengan suara lantang jika memang ingin melakukannya, atau cukup dengan suara lirih yang hanya terdengar oleh diri sendiri jika berada di tengah orang banyak. Fleksibilitas ini adalah bentuk kebijaksanaan yang diajarkan Islam.

Mengapa Ketenangan Menjadi Indikator Keberhasilan Ibadah?

  • Meningkatkan Khusyuk: Ketenangan membantu kita lebih fokus, merenungkan makna ayat, dan merasakan kehadiran Allah.
  • Menghormati Orang Lain: Dengan tidak mengganggu, kita menunjukkan rasa hormat terhadap hak orang lain untuk beribadah dan beraktivitas dengan nyaman.
  • Mencegah Fitnah: Tindakan yang mengganggu bisa menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan konflik, yang tentu saja ingin kita hindari dalam masyarakat Muslim.
  • Ibadah Lebih Berkualitas: Ibadah yang dilakukan dengan tenang dan khusyuk jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada ibadah yang gaduh namun tanpa penghayatan.

Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap ibadah kita, termasuk membaca Al-Quran, sebagai momen introspeksi dan peningkatan diri, bukan sebagai ajang pamer atau justru mengganggu orang lain. Kita harus senantiasa peka terhadap lingkungan sekitar, memastikan bahwa niat baik kita dalam beribadah tidak justru berujung pada ketidaknyamanan bagi orang lain. Adab membaca Al-Quran saat shalat dan mengganggu orang lain adalah pelajaran yang relevan sepanjang masa.

Melatih kepekaan ini membutuhkan kesadaran dan praktik berkelanjutan. Ini adalah bagian dari proses pendewasaan spiritual kita. Ingatlah, keindahan Islam terpancar dari akhlak dan adab pemeluknya. Ketika kita menjaga adab ini, kita tidak hanya beribadah secara pribadi, tetapi juga menjadi duta kebaikan bagi agama yang mulia ini.

Semoga kita semua senantiasa diberikan taufik untuk memahami dan mengamalkan adab-adab mulia dalam beribadah, sehingga setiap sujud dan setiap lafaz Al-Quran yang kita lantunkan membawa keberkahan bagi diri sendiri dan kedamaian bagi orang di sekitar kita. Momen interaksi kita dengan Al-Quran dan sesama Muslim adalah kesempatan untuk meraih keridaan Ilahi.

Jika Anda merasakan panggilan untuk memperdalam interaksi dengan Al-Quran dan menguasai adabnya dengan bimbingan terbaik, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama kami. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk membimbing Anda tidak hanya dalam menghafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai luhur Al-Quran dalam setiap aspek kehidupan.

Daftar Referensi

  • Kitab Fadhoilul Qur’an Abi Ubaid, Bab: Al-Qari’ yajharu ‘ala ashhabihi bil Qur’an fayu’dhihim bidzalik, halaman 169.
  • QS. Al-A’raf: 205.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,