Di persimpangan antara kemilau dunia dan kemuliaan ilmu, sering kali hati manusia diuji. Godaan takhta, harta, dan jabatan adalah riak gelombang yang bisa menenggelamkan prinsip paling kokoh sekalipun. Namun, sejarah Islam merekam jejak para pewaris nabi yang berdiri laksana gunung karang, tak goyah oleh bujukan penguasa maupun tawaran kemewahan. Kisah Imam Malik bin Anas bersama Khalifah Harun ar-Rasyid adalah cerminan agung dari keteguhan prinsip ulama menolak dunia, sebuah pelajaran abadi tentang bagaimana menjaga kehormatan ilmu di atas segalanya.
Hadiah yang Menguji, Bukan Membeli
Alkisah, Khalifah Harun ar-Rasyid, pemimpin imperium Islam yang agung, berkunjung ke Madinah. Ia menaruh hormat yang besar kepada Imam Malik, sang imam Dar al-Hijrah. Melihat sang imam tidak memiliki rumah, khalifah menghadiahkan 3.000 keping dinar emas—jumlah yang sangat besar—seraya berkata, “Belilah sebuah rumah dengan uang ini.” Imam Malik menerimanya, namun uang itu tak pernah ia gunakan.
Sikap ini menyimpan makna yang mendalam. Imam Malik tidak menolak hadiah sebagai bentuk kesombongan, melainkan menunjukkan bahwa hatinya tidak terikat pada materi. Bagi beliau, kekayaan sejati bukanlah properti di dunia, melainkan ilmu yang terhunjam di dada dan ketakwaan yang menghiasi jiwa. Uang dinar itu tersimpan, menjadi saksi bisu bahwa prinsip seorang alim tidak bisa ditukar dengan kemegahan duniawi. Ia mengajarkan kita bahwa menerima bukan berarti terikat, dan memiliki bukan berarti dimiliki.
Menolak Hegemoni Ilmu, Merayakan Rahmat Perbedaan
Ujian sesungguhnya datang ketika Khalifah Harun ar-Rasyid mengungkapkan ambisinya. Ia ingin menjadikan kitab *Al-Muwatta’* karya Imam Malik sebagai satu-satunya rujukan hukum di seluruh wilayah kekhalifahan. Niatnya baik, yaitu menyatukan umat di atas satu mazhab, sebagaimana Khalifah Utsman bin Affan menyatukan umat di atas satu mushaf Al-Qur’an.
Namun, jawaban Imam Malik adalah sebuah pelajaran tentang kerendahan hati dan wawasan keilmuan yang luas. Beliau menolak dengan santun, “Wahai Amirul Mukminin, jangan lakukan itu. Para sahabat Rasulullah ﷺ telah menyebar ke berbagai negeri, dan setiap negeri memiliki khazanah ilmunya sendiri.”
Sikap Imam Malik menunjukkan bahwa ilmu tidak untuk dipaksakan atau dijadikan alat kekuasaan. Beliau memahami bahwa perbedaan pendapat di antara para ulama yang kredibel (ikhtilaf) bukanlah sebuah aib, melainkan rahmat dan keluasan bagi umat. Memaksakan satu pandangan akan mematikan dinamika keilmuan yang telah diwariskan para sahabat. Ini adalah bentuk lain dari keteguhan prinsip ulama menolak dunia, di mana “dunia” yang ditolak adalah ambisi untuk menguasai wacana keilmuan demi kepentingan politik.
Prinsip Ulama dalam Menjaga Kemurnian Ilmu
Dengan menolak usulan khalifah, Imam Malik telah menjaga kemurnian dan independensi ilmu dari intervensi kekuasaan. Beliau mengajarkan kita bahwa otoritas seorang alim terletak pada kedalaman ilmunya dan integritasnya, bukan pada stempel penguasa. Ilmu yang merdeka akan terus hidup dan berkembang, sedangkan ilmu yang dikebiri oleh kekuasaan akan layu sebelum mekar.
Madinah Lebih Berharga dari Istana Baghdad
Puncak dari ujian ini tiba ketika sang khalifah hendak kembali ke pusat pemerintahan di Irak. Ia mengajak Imam Malik untuk turut serta, sebuah tawaran yang menjanjikan posisi terhormat di sisi penguasa. Namun, sekali lagi, Imam Malik menolaknya dengan argumentasi yang menggetarkan jiwa.
Beliau mengutip sabda Nabi Muhammad ﷺ tentang keutamaan kota Madinah:
الْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Madinah itu lebih baik bagi mereka, seandainya mereka mengetahui.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Bagi Imam Malik, keberkahan tinggal di kota Nabi ﷺ, menghirup udaranya, dan berjalan di atas tanah yang pernah diinjak oleh Rasulullah ﷺ adalah kenikmatan yang tidak sebanding dengan kemewahan istana mana pun. Beliau kemudian menegaskan lagi dengan hadits lain:
الْمَدِينَةُ تَنْفِي خَبَثَهَا كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Madinah itu membersihkan kotorannya (manusia jahat) sebagaimana alat peniup api membersihkan karat besi.” (H.R. Bukhari & Muslim)
Bukti Nyata Keteguhan Prinsip Ulama Menolak Dunia
Di titik inilah Imam Malik mengeluarkan 3.000 keping dinar yang dulu diberikan kepadanya. Beliau berkata, “Ini dinar kalian, masih utuh seperti sedia kala. Jika kalian mau, ambillah. Jika tidak, tinggalkanlah.” Ucapan ini seolah menyiratkan sebuah pesan tegas: “Apakah engkau mengira bisa membawaku meninggalkan kota Rasulullah dengan hartamu ini? Aku tidak akan menukar akhirat dengan dunia.” Inilah puncak manifestasi dari keteguhan prinsip ulama menolak dunia. Sikapnya membuktikan bahwa cintanya pada Sunnah dan warisan Nabi ﷺ jauh lebih besar daripada tawaran dunia yang fana.
Pelajaran Abadi untuk Penjaga Al-Qur’an
Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi kita, para penuntut ilmu dan penghafal Al-Qur’an di zaman ini. Betapa sering kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menguji integritas kita. Tawaran posisi, pujian manusia, atau imbalan materi terkadang datang dengan syarat kita harus sedikit melonggarkan prinsip yang kita pegang.
Allah SWT mengingatkan kita tentang hakikat perhiasan dunia:
ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Q.S. Al-Kahf: 46)
Sikap Imam Malik mengajarkan bahwa kemuliaan sejati seorang pembawa Al-Qur’an tidak diukur dari seberapa besar pengakuan manusia atau seberapa banyak materi yang ia kumpulkan. Kemuliaan itu terpancar dari sejauh mana Al-Qur’an membentuk karakternya, mengokohkan prinsipnya, dan membebaskan hatinya dari belenggu dunia. Keteguhan prinsip ulama menolak dunia adalah warisan yang harus kita jaga, bukan dengan menjauhi dunia, tetapi dengan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kita kekuatan untuk meneladani integritas para ulama Rabbani, menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai benteng yang menjaga kita dari fitnah dunia, dan sebagai cahaya yang menuntun kita menuju keridhaan-Nya. Mari kita jadikan interaksi kita bersama Al-Qur’an sebagai proses menempa jiwa agar sekokoh Imam Malik, yang ilmunya memuliakannya jauh melebihi apa yang bisa ditawarkan oleh seorang khalifah.
Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami mengajak Anda untuk tidak sekadar menghafal, tetapi juga menghayati dan menempa diri dengan nilai-nilai luhur Al-Qur’an, membangun karakter mulia yang siap menghadapi tantangan zaman dengan prinsip yang tak tergoyahkan.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Kahf: 46.
- Hadits Riwayat al-Bukhari, No. 1875 & Hadits Riwayat Muslim, No. 1363 (tentang keutamaan Madinah).
- Hadits Riwayat al-Bukhari, No. 1884 & Hadits Riwayat Muslim, No. 1383 (tentang Madinah membersihkan kotoran).
- Kisah ini dinukil dari berbagai kitab tarikh dan adab, salah satunya sebagaimana yang tercantum dalam *Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn* oleh al-Husain bin al-Mansur al-Yamani.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


