Membentuk Karakter Wangi Melalui Kalamullah
Pernahkah kita bertemu dengan seseorang yang meski hanya berbicara sedikit, tutur katanya sangat menyejukkan? Atau seseorang yang kehadirannya saja sudah membawa aura kedamaian bagi sekelilingnya? Karakter seperti inilah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai buah “Utrujjah”. Buah ini unik; luarnya harum semerbak, dan dalamnya terasa manis menyegarkan. Inilah perumpamaan orang mukmin yang gemar membaca Al-Quran. Al-Quran tidak hanya memperbaiki hubungan kita dengan Allah, tapi juga mempercantik akhlak dan kepribadian kita di mata manusia lainnya.
Sebaliknya, ada orang yang mungkin mengaku beriman, tapi lisannya tajam dan perilakunya pahit. Itu karena hatinya kering dari siraman wahyu. Di Executive Tahfizh, fokus utama kita adalah mengubah “rasa” dan “aroma” hidup kita agar menjadi lebih bermakna. Kita ingin menjadi pribadi yang tidak hanya saleh secara pribadi, tapi juga bermanfaat dan menyenangkan bagi masyarakat luas. Al-Quran adalah nutrisi terbaik untuk mencapai level tersebut.
Membaca Al-Quran secara konsisten akan merubah metabolisme ruhani kita menjadi pribadi yang wangi secara lisan dan manis secara perbuatan.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujjah; aromanya wangi dan rasanya enak.” (HR. Bukhari & Muslim)
Filosofi buah Utrujjah mengajarkan kita tentang integritas. Antara penampilan luar (ucapan) dan isi dalam (hati) haruslah selaras. Jika kita sering membaca ayat-ayat tentang kasih sayang, maka otomatis lisan kita akan menjadi lembut. Jika kita sering merenungi ayat tentang kejujuran, maka tindakan kita akan menjadi lurus. Inilah mukjizat Al-Quran yang mampu melakukan “reprogramming” terhadap pola pikir dan tindakan kita tanpa kita sadari sepenuhnya. Kita menjadi pribadi yang baru, yang jauh lebih berkualitas dan bernilai di hadapan Sang Pencipta.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, aroma apa yang kita tebarkan hari ini di lingkungan kerja atau keluarga kita? Apakah aroma keluhan, ghibah, dan kemarahan? Ataukah aroma zikir dan tilawah yang menenangkan? Belajar Al-Quran adalah investasi untuk “personal branding” yang sesungguhnya di mata Allah. Jangan biarkan diri kita menjadi seperti kurma yang manis tapi tak beraroma, apalagi seperti buah pahit yang tidak disukai siapa pun. Jadilah Utrujjah masa kini yang kehadirannya selalu dinantikan karena kesejukan yang dibawanya.
Penutup
Ya Allah, hiasilah lahiriyah kami dengan keharuman Al-Quran dan baguskanlah batiniyah kami dengan kemanisan maknanya. Amin.
Referensi:
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Juz 9. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

