Dalam setiap aspek kehidupan, kita kerap dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membentuk siapa diri kita. Bagi seorang Muslim, fondasi pilihan itu terletak pada adab dan penghormatan terhadap apa yang Allah muliakan. Dua pilar utama yang tak lekang oleh zaman adalah Al-Qur’an dan ilmu. Bukan sekadar teks atau informasi, keduanya adalah cahaya yang membimbing, sumber keberkahan yang tak terhingga, dan pondasi utama dalam menjaga kehormatan Al-Qur’an dan ilmu.
Kisah-kisah teladan dari para ulama salaf senantiasa menyajikan inspirasi yang mendalam tentang bagaimana mereka mengagungkan dua hal ini. Pengamalan mereka bukan sebatas teori, melainkan sebuah manifestasi dari pemahaman yang utuh akan kedudukan Al-Qur’an dan ilmu di sisi Allah. Dari sanalah terpancar kemuliaan, keberkahan, dan ketenangan jiwa.
Teladan Ulama dalam Menjaga Kehormatan Al-Qur’an dan Ilmu
Mari kita menelusuri jejak langkah ulama terdahulu. Imam Malik bin Anas, salah satu pilar fikih dalam Islam, memiliki adab yang luar biasa terhadap mushaf Al-Qur’an. Beliau membenci perbuatan menyentuh mushaf—bahkan selimut atau bantal yang melapisinya—kecuali dalam keadaan suci. Ini bukan sekadar aturan fikih yang kaku, melainkan sebuah ekspresi ketulusan dalam mengagungkan Kalamullah. Abu Ubaid mencatat, beliau berkata, “Tidaklah demikian itu kecuali untuk mengagungkan Al-Qur’an.”
Adab ini mengajarkan kita tentang pentingnya kesucian lahir dan batin saat berinteraksi dengan firman Allah. Bukan hanya ketika membaca, tetapi dalam setiap sentuhan, tatapan, dan pikiran kita terhadap Al-Qur’an. Kemurnian hati dan tubuh merefleksikan pengakuan kita akan keagungan Sang Pencipta yang berfirman. Apabila kita menghormati ucapan manusia, betapa lebih utama kita menghormati kalam Tuhan semesta alam.
Pentingnya Kesucian dalam Berinteraksi dengan Kalamullah
Al-Qur’an bukanlah buku biasa yang dapat kita perlakukan sembarangan. Ia adalah mukjizat, kalam suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ (78) لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (79)
Sesungguhnya (Al-Qur’an) ini adalah bacaan yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.
Surah Al-Waqi’ah ayat 77-79 ini menegaskan keagungan Al-Qur’an dan urgensi kesucian bagi mereka yang berinteraksi dengannya. Meskipun sebagian ulama menafsirkan “al-mutahharun” sebagai para malaikat, secara umum ayat ini juga menginspirasi kita untuk senantiasa dalam keadaan suci saat berhadapan dengan mushaf fisik. Ini adalah langkah awal dalam menjaga kehormatan Al-Qur’an dan ilmu dalam dimensi praktis.
Kemuliaan Ilmu dan Kedudukan Penuntutnya
Selain Al-Qur’an, ilmu juga memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Abu Ubaid juga mengisahkan pertemuannya dengan Ma’mar bin Sulaiman An-Nakha’i di Raqqah. Beliau adalah sosok yang sangat dihormati. Suatu ketika, Ma’mar memiliki suatu keperluan kepada seorang raja. Ketika disarankan untuk menemui raja tersebut, ia menjawab, “Aku sudah berniat untuk mendatanginya, kemudian aku teringat Al-Qur’an dan ilmu, maka aku memuliakan keduanya dari hal itu.”
Kisah ini menghadirkan sebuah pelajaran yang mendalam. Ma’mar bin Sulaiman merasa bahwa kehormatan Al-Qur’an dan ilmu yang telah Allah anugerahkan kepadanya lebih agung daripada harus merendahkan diri di hadapan penguasa duniawi. Ilmu dan Al-Qur’an telah mengangkat derajatnya, memberinya kemuliaan yang jauh melampaui fatamorgana kekuasaan. Ini adalah sebuah cerminan bagaimana seorang Muslim sejati harus menjaga kehormatan Al-Qur’an dan ilmu.
Melekatkan Diri pada Al-Qur’an: Sebuah Pilihan Hidup
Ketika seseorang telah melekatkan dirinya pada Al-Qur’an dan ilmu, ia akan mendapatkan kemuliaan yang hakiki. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ.
Sesungguhnya Allah memiliki ‘ahli’ dari kalangan manusia. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an (orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an), mereka adalah ‘ahli’ Allah dan orang-orang pilihan-Nya.”
Hadits riwayat Ibnu Majah ini menunjukkan betapa istimewanya orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an, mempelajari, menghafal, dan mengamalkannya. Mereka diangkat derajatnya oleh Allah, bahkan disebut sebagai keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya. Ini adalah puncak kemuliaan yang harus kita raih dengan menjaga kehormatan Al-Qur’an dan ilmu.
Aplikasi Praktis Menjaga Kehormatan Al-Qur’an dan Ilmu dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagaimana kita mengaplikasikan teladan ini dalam kehidupan modern? Pertama, mulailah dengan adab yang baik saat berinteraksi dengan mushaf. Pastikan kita dalam keadaan suci, baik dari hadats besar maupun kecil, saat menyentuhnya. Letakkan mushaf di tempat yang tinggi dan layak, jauh dari jangkauan hal-hal yang tidak suci. Perlakuan yang hormat ini mencerminkan penghormatan kita pada firman Allah.
Kedua, dalam menuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu seyogianya memiliki adab terhadap guru dan majelis ilmu. Merendahkan diri di hadapan guru, bersungguh-sungguh dalam belajar, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh adalah bentuk penghormatan. Ilmu yang tidak dihormati tidak akan memberikan keberkahan yang maksimal. Ketika kita mengagungkan ilmu, ilmu itu sendiri akan mengangkat derajat kita.
Mengangkat Derajat Diri dengan Al-Qur’an
Menjaga kehormatan Al-Qur’an dan ilmu bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Dengan memuliakan Al-Qur’an, kita memuliakan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya: kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan ketakwaan. Dengan memuliakan ilmu, kita menjadi pribadi yang senantiasa haus akan kebenaran, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama. Kedua hal ini akan mengangkat derajat kita di dunia maupun di akhirat.
Buah dari Pengagungan Al-Qur’an dan Ilmu
Ketika kita sungguh-sungguh menjaga kehormatan Al-Qur’an dan ilmu, buahnya akan terasa manis dalam setiap sisi kehidupan. Hidup akan terasa lebih bermakna, hati menjadi lebih tenang, dan setiap langkah kita akan dibimbing oleh petunjuk Ilahi. Keberkahan akan tercurah, kesulitan akan dimudahkan, dan pintu-pintu kebaikan akan terbuka lebar. Ini adalah janji Allah bagi hamba-Nya yang mengagungkan agama-Nya.
Pengagungan ini bukan hanya ritual belaka, melainkan sebuah gaya hidup. Sebuah pilihan sadar untuk hidup dalam kemuliaan yang datang dari Allah. Pilihan untuk tidak merendahkan diri di hadapan dunia, melainkan meninggikan diri dengan cahaya wahyu dan hikmah. Semoga kita semua termasuk golongan yang senantiasa menjaga kehormatan Al-Qur’an dan ilmu, sehingga menjadi pribadi yang mulia di sisi-Nya.
Mari jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan ilmu sebagai penerang jalan. Raih keberkahan dan kemuliaan dengan mendalami Al-Qur’an secara intensif. Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi mitra Anda dalam perjalanan spiritual ini. Bersama, kita wujudkan generasi yang melekatkan dirinya pada Kalamullah dan ilmu-Nya.
Daftar Referensi
- Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam. (1987). Kitab Fadhail Al-Quran. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Halaman 122. (Melalui: sumber di Perpustakaan Islam Shamela)
- Al-Qur’an Surah Al-Waqi’ah: 77-79.
- Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 215, Kitab: Muqaddimah, Bab: Keutamaan Siapa yang Mempelajari Al-Qur’an.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

