Dunia ini seringkali menyuguhkan kita dengan fatamorgana kebahagiaan. Gemerlapnya jabatan, harta benda yang melimpah, hingga pujian sanjungan, seolah menjadi penawar dahaga akan kedamaian. Namun, benarkah semua itu mampu mengisi relung hati yang paling dalam? Hakikat kebahagiaan sejati justru tersembunyi dalam kebersahajaan ibadah, dalam kedekatan yang tulus bersama Sang Pencipta. Inilah esensi dari ungkapan ulama salaf yang menginspirasi kita untuk senantiasa Meraih Kemanisan Tahajjud Bersama Al-Qur’an dan Ibadah Harian, sebuah jalan menuju kepuasan spiritual yang tak tergantikan.
Kisah inspiratif datang dari Mi’dhad, sebagaimana dinukil oleh Abu Ubaid dalam kitab Fadha’ilul Qur’an dari Abdullah bin Al-Mubarak. Beliau berkata:
«لَوْلَا ظَمَأُ الْهَوَاجِرِ، وَطُولُ لَيْلِ الشِّتَاءِ، وَلَذَاذَةُ التَّهَجُّدِ بِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَا بَالَيْتُ أَنْ أَكُونَ يَعْسُوبًا»
Artinya: “Kalaulah bukan karena dahaganya siang yang panas (berpuasa), dan panjangnya malam-malam musim dingin (untuk qiyamul lail), serta kelezatan tahajjud dengan Kitabullah Azza wa Jalla, sungguh aku tidak peduli untuk menjadi seekor lebah (atau seorang pemimpin).”
Ungkapan ini adalah jendela menuju pemahaman hakiki tentang prioritas seorang mukmin. Mi’dhad, dengan segala kefahamannya, menunjukkan bahwa kenikmatan ukhrawi dari ibadah jauh melampaui segala kemewahan duniawi. Mari kita telaah lebih dalam tiga pilar kenikmatan yang beliau sebutkan, yang menjadi kunci dalam Meraih Kemanisan Tahajjud Bersama Al-Qur’an dan Ibadah Harian.
Dahaga di Siang Hari: Puasa sebagai Gerbang Kenikmatan
“Dahaganya siang yang panas” merujuk pada ibadah puasa, terutama puasa sunnah di tengah teriknya mentari. Ini adalah gambaran tentang pengorbanan yang berbuah manis. Saat tubuh merasakan lapar dan dahaga, jiwa justru merasakan kekayaan spiritual. Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan latihan mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan empati, dan merasakan kedekatan yang mendalam dengan Allah SWT.
Dalam puasa, kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan. Saat berbuka, ada kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Rasulullah ﷺ bersabda, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa dahaga di siang hari, yang mungkin terasa berat bagi sebagian orang, justru menjadi pintu gerbang menuju kenikmatan sejati bagi jiwa yang mengharapkan ridha Ilahi. Ini adalah salah satu bentuk ibadah harian yang menguatkan spiritualitas kita.
Panjangnya Malam Musim Dingin: Peluang Emas Qiyamul Lail
Malam-malam musim dingin yang panjang seringkali dipandang sebagai kesempatan untuk beristirahat lebih lama. Namun, bagi Mi’dhad, malam yang panjang adalah anugerah. Mengapa? Karena ia memberikan waktu lebih banyak untuk qiyamul lail atau shalat malam. Saat dunia terlelap, seorang hamba bangkit berdiri, menghadap Rabbnya, memohon, merenung, dan bertaubat. Keheningan malam adalah saksi bisu dialog antara hamba dan Penciptanya.
Qiyamul lail adalah shalat terbaik setelah shalat fardhu. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْلِ
Artinya: “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam (qiyamul lail).” (HR. Muslim).
Di sepertiga malam terakhir, saat Allah turun ke langit dunia, doa-doa akan lebih mudah dikabulkan. Ini adalah momen intim yang tak ternilai, sebuah kesempatan untuk mengisi bejana hati dengan cahaya Ilahi. Kesempatan ini menjadi bagian penting dalam perjalanan kita untuk Meraih Kemanisan Tahajjud Bersama Al-Qur’an dan Ibadah Harian.
Meraih Kemanisan Tahajjud Bersama Al-Qur’an: Puncak Segala Kenikmatan
Puncak dari kenikmatan yang disebut Mi’dhad adalah “kelezatan tahajjud dengan Kitabullah Azza wa Jalla.” Ini adalah inti dari segala ibadah malam. Saat tahajjud, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga direnungkan, dipahami, dan diresapi maknanya. Setiap ayat yang mengalir dari lisan kita, setiap kalimat yang kita dengar, seolah menjadi bisikan langsung dari Allah kepada jiwa.
Betapa agungnya Al-Qur’an, kalamullah yang menjadi petunjuk, penyembuh, dan sumber ketenangan. Saat kita berinteraksi dengannya di tengah keheningan malam, hati akan merasakan getaran spiritual yang luar biasa. Ini adalah momen di mana hati yang gersang disirami embun wahyu, jiwa yang lelah menemukan kedamaian. Inilah mengapa tahajjud dengan Al-Qur’an menjadi kenikmatan yang tak tertandingi, bahkan membuat seseorang rela melepaskan segala kemewahan dunia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
Artinya: “Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjud-lah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79).
Ayat ini menegaskan bahwa tahajjud adalah jalan menuju kemuliaan dan kedudukan terpuji di sisi Allah. Kombinasi tahajjud dan Al-Qur’an adalah paduan sempurna untuk menghidupkan hati dan jiwa. Bagi para penghafal Al-Qur’an, momen ini menjadi kesempatan emas untuk memuroja’ah (mengulang hafalan), menadabburi ayat-ayat, dan merasakan langsung keberkahan dari kalamullah. Ini adalah cara paling efektif untuk Meraih Kemanisan Tahajjud Bersama Al-Qur’an dan Ibadah Harian, sekaligus menguatkan hafalan dan pemahaman kita.
Dunia yang Fana, Akhirat yang Abadi
Penutup dari ungkapan Mi’dhad yang begitu kuat, “sungguh aku tidak peduli untuk menjadi seekor lebah (atau seorang pemimpin),” menunjukkan puncak dari kearifan beliau. Ia rela melepaskan segala bentuk kemuliaan duniawi, baik itu kekuasaan seperti seorang pemimpin atau pun kedudukan yang terhormat, demi kenikmatan ibadah. Ini adalah manifestasi dari seorang hamba yang telah menemukan kebahagiaan hakiki, yang tidak terikat oleh dunia yang fana.
Bagi kita, ini adalah sebuah ajakan untuk mengevaluasi kembali prioritas hidup. Apakah kita terlalu sibuk mengejar bayangan dunia yang tak pernah berakhir? Ataukah kita telah menemukan ketenangan sejati dalam dekapan ibadah, dalam lantunan ayat-ayat suci, dan dalam puasa yang menguatkan jiwa? Mari kita terus berupaya Meraih Kemanisan Tahajjud Bersama Al-Qur’an dan Ibadah Harian, bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi sebagai sumber kebahagiaan dan kekuatan yang tiada tara. Kenikmatan inilah yang akan menemani kita di dunia dan menjadi bekal terbaik di akhirat kelak.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Abu Ubaid. Fadha’ilul Qur’an. Halaman 128. Hadits Mi’dhad. sumber di Perpustakaan Islam Shamela
- Al-Qur’an Surah Al-Isra (17) Ayat 79.
- Hadits Riwayat Muslim. Tentang Shalat Terbaik Setelah Fardhu.
