Dalam samudra kehidupan yang menuntut kita untuk selalu tampil serba tahu, ada sebuah kalimat sederhana yang seringkali terasa berat diucapkan: “Saya tidak tahu.” Kita khawatir dicap tidak kompeten, tertinggal, atau bahkan tidak berharga. Namun, pusaka pemikiran para ulama salaf justru mengajarkan kita perspektif sebaliknya. Ternyata, ada kekuatan luar biasa dan kemuliaan tersembunyi di balik pengakuan tulus akan keterbatasan diri. Inilah penjelajahan kita untuk memahami keutamaan mengatakan tidak tahu dalam Islam, sebuah seni yang mengangkat derajat, bukan merendahkannya.
“Tidak Tahu” Bukan Aib, Melainkan Perisai Kemuliaan
Imam an-Nawawi dalam kitabnya mengabadikan sebuah nasihat berharga dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Jika seorang ‘alim luput dari mengucapkan ‘lā adrī’ (saya tidak tahu), maka sendi-sendi vitalnya telah diserang.” Ungkapan ini terdengar dramatis, namun sarat akan makna. Mengapa demikian? Karena keberanian untuk mengatakan “tidak tahu” adalah perisai pertama yang melindungi seorang penuntut ilmu dari bahaya terbesar: berbicara atas nama Allah tanpa ilmu.
Mengucapkan “saya tidak tahu” bukanlah deklarasi kebodohan, melainkan proklamasi kejujuran intelektual dan ketakwaan yang mendalam. Ia menjadi bukti nyata bahwa orientasi kita bukanlah penilaian manusia, melainkan keridhaan Allah. Sebagaimana dinasihatkan, kalimat ini justru mengangkat derajat seseorang karena ia adalah cerminan dari:
- Kekuatan Iman: Ia tidak takut terlihat kurang di mata manusia, karena rasa takutnya kepada Allah jauh lebih besar.
- Ketakwaan yang Kokoh: Ia menjaga lisannya dari kesalahan yang bisa menyesatkan orang lain.
- Kesempurnaan Ma’rifat: Ia sadar betul bahwa ilmu Allah teramat luas, dan apa yang ia ketahui hanyalah setetes air di tengah lautan.
Inilah paradoks yang indah. Di saat dunia mendorong kita untuk membangun citra kesempurnaan, Islam justru mengajarkan bahwa pengakuan atas ketidaksempurnaan adalah jalan menuju kesempurnaan iman.
Akar Ketakutan: Ketika Citra Lebih Penting dari Amanah
Lalu, mengapa begitu banyak dari kita yang menghindar dari kalimat sakti ini? Sumbernya seringkali adalah ego dan rasa takut. Takut kehilangan reputasi, takut dianggap remeh, takut tidak lagi dihormati. Para ulama menyebut ini sebagai tanda lemahnya agama seseorang, karena ia lebih cemas jatuh di mata manusia daripada jatuh di hadapan Rabb semesta alam.
Seseorang yang enggan mengakui keterbatasannya seringkali terjerumus pada sikap memaksakan jawaban. Ia akan menebak-nebak, beropini tanpa dasar, atau bahkan berdusta demi menjaga citra “orang pintar”. Ironisnya, tindakan yang diambil untuk lari dari anggapan buruk justru seringkali mengantarkannya pada kesalahan fatal yang pada akhirnya tersebar luas, membuatnya jatuh pada lubang yang ia gali sendiri.
Menggali Keutamaan Mengatakan Tidak Tahu dalam Islam dari Kisah Agung
Allah SWT telah mengabadikan sebuah pelajaran agung tentang ilmu melalui kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan Khidir. Kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah kurikulum ilahi untuk para pembelajar di setiap zaman. Semua bermula dari sebuah pertanyaan, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits shahih:
…فَقَامَ مُوسَى خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَسُئِلَ: أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ قَالَ: أَنَا أَعْلَمُ. فَعَتَبَ اللهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ…
Artinya: “…Maka Musa berdiri berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu ia ditanya, ‘Siapakah manusia yang paling berilmu?’ Ia menjawab, ‘Saya yang paling berilmu.’ Maka Allah menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu itu kepada-Nya…” (H.R. Bukhari)
Jawaban Nabi Musa bukanlah sebuah kesombongan, melainkan sebuah pernyataan berdasarkan fakta yang ia ketahui saat itu. Namun, Allah ingin mengajarkan kepadanya—dan kepada kita semua—sebuah adab yang lebih tinggi: bahwa puncak dari ilmu adalah kesadaran bahwa selalu ada ilmu lain yang belum kita ketahui, dan semua ilmu pada hakikatnya bersumber dari Allah.
Pelajaran dari Musa: Ketika Ilmu Dikembalikan Kepada-Nya
Teguran Allah tersebut menjadi titik awal perjalanan spiritual dan intelektual Nabi Musa yang luar biasa, yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Ia diperintahkan untuk mencari seorang hamba saleh yang telah diberi ilmu khusus dari sisi-Nya. Perhatikanlah bagaimana seorang Nabi Ulul Azmi dengan penuh kerendahan hati memohon untuk menjadi murid:
قَالَ لَهٗ مُوۡسٰى هَلۡ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنۡ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدًا
Artinya: “Musa berkata kepadanya (Khidir), ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?'” (Q.S. Al-Kahf: 66)
Sikap Nabi Musa ini adalah implementasi tertinggi dari keutamaan mengatakan tidak tahu dalam Islam. Beliau tidak lagi mengklaim sebagai yang “paling tahu”, melainkan beralih menjadi seorang pencari ilmu yang tulus. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kesadaran akan keterbatasan ilmu bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan gerbang pembuka menuju lautan ilmu Allah yang lebih luas.
Mewariskan Budaya “Lā Adrī”: Sebuah Investasi Intelektual dan Spiritual
Para ulama salaf bahkan menasihatkan agar seorang guru “mewariskan” ucapan “saya tidak tahu” kepada murid-muridnya. Artinya, dengan sering mencontohkan pengucapan kalimat tersebut, seorang guru sedang menanamkan nilai kejujuran, kerendahan hati, dan semangat belajar seumur hidup. Ia menciptakan sebuah ekosistem belajar yang sehat, di mana bertanya dan mengakui kebingungan adalah hal yang wajar dan dihargai, bukan sesuatu yang memalukan.
Warisan ini jauh lebih berharga daripada sekadar transfer informasi. Ini adalah warisan adab sebelum ilmu, sebuah fondasi yang memastikan bahwa ilmu yang dipelajari akan membawa berkah dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru melahirkan kesombongan. Mengakui batasan diri adalah esensi dari keutamaan mengatakan tidak tahu dalam Islam yang harus kita hidupkan kembali.
Mari kita latih lisan dan hati kita untuk ringan mengucapkan “saya tidak tahu” atau “wallahu a’lam bish-shawab”. Bukan sebagai tanda menyerah, tetapi sebagai penegasan bahwa kita adalah hamba yang senantiasa fakir di hadapan ilmu Allah yang Maha Luas. Justru dari titik inilah, pintu-pintu pemahaman baru akan dibukakan, dan perjalanan menuntut ilmu kita akan senantiasa terasa mendebarkan dan penuh berkah.
Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi para pembelajar yang jujur, rendah hati, dan senantiasa haus akan ilmu yang bermanfaat, serta berani mengakui keterbatasan diri sebagai wujud pengagungan kita kepada-Nya.
Bagi Anda yang terpanggil untuk mendalami Al-Qur’an dengan bimbingan yang mengedepankan adab dan pemahaman mendalam, Qur’an Learning Center Yogyakarta membuka pintu seluas-luasnya. Mari bersama-sama menapaki perjalanan mulia ini, menjadikan setiap ayat sebagai cahaya dalam kehidupan.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Kahf: 66
- Hadits Riwayat al-Bukhari, No. 74, dalam Shahih al-Bukhari.
- Al-Husayn bin al-Manṣūr, Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


