Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, seringkali kita terjebak dalam rutinitas duniawi hingga melupakan hakikat keberadaan. Namun, Al-Qur’an senantiasa hadir sebagai pelita, membimbing hati dan akal untuk merenungkan keagungan Sang Pencipta. Salah satu momen spiritual yang amat berharga adalah ketika kita berhadapan dengan ayat-ayat yang menyingkap tabir kekuasaan Allah, khususnya tentang kemampuan-Nya menghidupkan yang mati.

Sebuah riwayat dari Abu Ubaid, melalui Abun Nadhr, dari Syu’bah, dari Musa bin Abi Aisyah, dari seorang lelaki, dari lelaki lain, dari lelaki lain, mengisahkan bahwa ada seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an di atas rumahnya. Ia mengangkat suaranya membaca firman Allah:

أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى

“Bukankah (Allah yang berbuat demikian) berkuasa menghidupkan orang-orang mati?” (Q.S. Al-Qiyamah: 40). Lalu ia menjawab: “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبَلَى” (Maha Suci Engkau ya Allah, dan benar [Engkau Mahakuasa]). Ketika ditanya mengenai hal itu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam kitab Fadhailul Qur’an, Bab: Apa yang dianjurkan bagi pembaca Al-Qur’an untuk menjawab ketika bertemu ayat dan bersaksi untuknya).

Kisah ini menghadirkan sebuah pelajaran yang mendalam bagi kita semua. Ia bukan sekadar anekdot, melainkan cerminan respons hati seorang mukmin yang tercerahkan oleh kalamullah. Mengapa seorang sahabat Nabi, atau barangkali seorang tabi’in, merespons sedemikian rupa ketika membaca ayat tersebut? Karena ayat ini menuntut pengakuan, sebuah validasi tulus dari lubuk hati bahwa Allah, dengan segala keagungan-Nya, sungguh-sungguh Mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk menghidupkan kembali mereka yang telah tiada. Inilah esensi dari hikmah membaca ayat tentang kekuasaan Allah menghidupkan yang mati.

Memperteguh Keyakinan akan Hari Kebangkitan

Dalam Islam, keyakinan akan hari kebangkitan (yaumul ba’ts) adalah salah satu rukun iman yang fundamental. Tanpa keyakinan ini, fondasi keimanan seseorang akan rapuh. Ayat-ayat Al-Qur’an, seperti Q.S. Al-Qiyamah ayat 40, berfungsi sebagai penguat keyakinan tersebut. Ketika kita membaca dan merenungi pertanyaan retoris “Bukankah (Allah yang berbuat demikian) berkuasa menghidupkan orang-orang mati?”, akal dan hati kita diajak untuk berdialog, mencari jawaban yang paling jujur dan paling mendasar. Jawaban yang benar adalah afirmasi total terhadap kemahakuasaan Allah.

Respons “سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبَلَى” bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi manifestasi dari ketundukan jiwa. “Maha Suci Engkau ya Allah,” adalah pengakuan akan kesempurnaan dan keagungan Allah yang tak terbatas, jauh dari segala kekurangan dan ketidakmampuan. Sementara “dan benar [Engkau Mahakuasa],” adalah penegasan bahwa apa yang ditanyakan dalam ayat tersebut adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak dapat diragukan sedikit pun. Hikmah membaca ayat tentang kekuasaan Allah menghidupkan yang mati adalah kita diajak untuk tidak hanya memahami secara tekstual, tetapi juga menghayati secara spiritual.

Respons Spiritual yang Mendalam

Bagaimana seharusnya kita merespons ketika berhadapan dengan ayat-ayat serupa? Teladan dari kisah di atas mengajarkan kita untuk tidak sekadar membaca, melainkan berinteraksi dengan firman Allah. Interaksi ini bisa berupa:

  • Tasbih: Mengucapkan “Subhanallah” (Maha Suci Allah) sebagai pengagungan atas kebesaran-Nya.
  • Iqrar (Pengakuan): Mengakui dan membenarkan setiap kebenaran yang disampaikan Al-Qur’an, terutama tentang sifat-sifat Allah.
  • Tadabbur: Merenungi makna yang terkandung di balik setiap kata, membiarkan ayat tersebut menyentuh relung hati terdalam, dan mengubah pola pikir kita.

Seringkali, kita membaca Al-Qur’an hanya untuk mendapatkan pahala per huruf, yang itu sendiri sudah mulia. Namun, Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang dirancang untuk mentransformasi diri. Setiap ayat adalah potensi untuk perubahan. Ketika ayat tentang kebangkitan dibaca, ia seharusnya memicu refleksi tentang tujuan hidup, bekal akhirat, dan pertanggungjawaban di hadapan Ilahi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat lain:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Fushshilat: 39).

Ayat ini adalah analogi yang sangat kuat. Bumi yang mati dan tandus, ketika diguyur hujan, kembali hidup dan menumbuhkan berbagai tumbuhan. Demikian pula, Allah yang Mahakuasa atas proses tersebut, lebih-lebih Mahakuasa untuk menghidupkan manusia dari kuburnya. Ini adalah bukti nyata yang terhampar di hadapan mata kita. Menangkap isyarat-isyarat ini adalah bagian tak terpisahkan dari hikmah membaca ayat tentang kekuasaan Allah menghidupkan yang mati.

Aplikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari

Lantas, bagaimana kita mengaplikasikan hikmah membaca ayat tentang kekuasaan Allah menghidupkan yang mati dalam kehidupan sehari-hari?

  1. Menumbuhkan Rasa Takut dan Harap: Keyakinan akan kebangkitan seharusnya menumbuhkan rasa takut kepada azab Allah sekaligus harapan akan rahmat-Nya. Ini memotivasi kita untuk beramal saleh dan menjauhi maksiat.
  2. Meningkatkan Kualitas Ibadah: Shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan bekal penting untuk kehidupan abadi.
  3. Membentuk Karakter Mulia: Dengan mengingat akan adanya pertanggungjawaban di akhirat, kita cenderung lebih jujur, adil, peduli, dan berakhlak mulia dalam setiap interaksi sosial.
  4. Optimisme dalam Hidup: Ketika menghadapi kesulitan atau musibah, kita memiliki optimisme bahwa ada kehidupan yang lebih baik setelah ini, dan bahwa semua ujian adalah bagian dari rencana Ilahi yang sempurna.
  5. Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur: Bukan sekadar menamatkan bacaan, tetapi berusaha memahami, merenungi, dan merasakan setiap pesan yang terkandung di dalamnya.

Setiap kali kita membaca ayat yang berbicara tentang kemahakuasaan Allah dalam menciptakan atau menghidupkan kembali, biarkan hati kita bergetar, akal kita merenung, dan lisan kita berucap tasbih dan takbir. Biarkan respons spiritual itu mengalir alami, membasahi jiwa dan pikiran, sehingga kita tidak hanya menjadi pembaca Al-Qur’an, tetapi juga penghayat dan pengamal ajarannya.

Kisah sahabat yang spontan merespons ayat tersebut adalah panggilan bagi kita untuk tidak hanya menjadi pendengar pasif firman Allah, melainkan menjadi interaktor aktif. Setiap ayat adalah undangan untuk berpikir, merenung, dan bertindak. Terutama ketika ayat tersebut berbicara tentang kebesaran Allah yang tak terhingga, seperti kemampuan-Nya menghidupkan kembali seluruh makhluk setelah kematian. Ini adalah fondasi iman yang kokoh, yang membedakan seorang mukmin sejati dari mereka yang hanya beriman di permukaan.

Mari kita tingkatkan kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Jadikan setiap bacaan sebagai momen refleksi dan transformasi diri. Apabila kita melakukannya, maka setiap ayat yang kita baca, khususnya yang berbicara tentang kekuasaan Allah, akan menjadi sumber kekuatan, ketenangan, dan petunjuk yang tak ternilai harganya.

Semoga kita senantiasa diberikan taufik oleh Allah untuk menjadi hamba-Nya yang memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya, sehingga kita menjadi pribadi yang selalu merespons keagungan Allah dengan penuh kesadaran dan ketundukan.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Qiyamah: 40
  • Q.S. Fushshilat: 39
  • Kitab Fadhailul Qur’an, Abu Ubaid, Bab: Ma Yustahabbu Liqaari’il Qur’an Minal Jawab Indal Aayah Was Syahadah Laha.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,