Al-Qur’an adalah samudra hikmah tak bertepi, setiap surah dan ayatnya mengalirkan cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Di antara lautan firman-Nya yang agung, ada beberapa surah yang secara khusus disebutkan keutamaannya, menjadi bukti nyata akan kedalaman makna dan pengaruhnya bagi jiwa seorang mukmin. Kita akan menelusuri beberapa mutiara keutamaan ini, khususnya menggali keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur untuk kehidupan Muslim agar kita dapat menghidupkan semangat Al-Qur’an dalam setiap aspek diri.
Pernahkah kita merenung, mengapa Allah dan Rasul-Nya mengkhususkan beberapa surah dengan keistimewaan tertentu? Ini bukan tanpa alasan. Keistimewaan tersebut merupakan panggilan bagi kita untuk lebih mendalami, menghayati, dan mengamalkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami fadhilah ini, kita diharapkan akan semakin tergugah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama, membentuk akhlak, dan menuntun langkah kita menuju keridaan-Nya.
Menggali Keistimewaan Keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur untuk Kehidupan Muslim
Salah satu kekayaan khazanah Islam yang disampaikan oleh para ulama terdahulu, sebagaimana terekam dalam kitab “Fadhailul Qur’an” karya Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam, adalah mengenai keutamaan surah-surah tertentu. Mari kita selami dua surah yang memiliki keutamaan luar biasa yang relevan dengan keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur untuk kehidupan Muslim saat ini.
Surah Al-Hajj: Dua Sujud yang Memuliakan
Surah Al-Hajj adalah surah yang istimewa, unik di antara surah-surah lain karena memiliki dua tempat sujud tilawah. Keunikan ini bukan sekadar angka, melainkan simbol kerendahan hati dan kepasrahan yang mendalam di hadapan Sang Pencipta. Dikisahkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah sujud dua kali dalam Surah Al-Hajj dan berkata, “Sesungguhnya surah ini dilebihkan di atas surah-surah lain dengan dua sujud.” Begitu pula dengan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum yang menegaskan keistimewaan ini.
Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyampaikan hal ini. Khalid bin Ma’dan menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
«فُضِّلَتْ سُورَةُ الْحَجِّ عَلَى غَيْرِهَا بِسَجْدَتَيْنِ»
“Surah Al-Hajj dilebihkan atas surah-surah lainnya dengan dua sujud.”
Uqbah bin Amir pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, apakah di Surah Al-Hajj ada dua sujud?” Beliau menjawab, “Ya, siapa pun yang tidak bersujud pada keduanya, maka janganlah dia membacanya.” Ini menunjukkan betapa pentingnya penghormatan terhadap ayat-ayat sujud dalam surah ini. Kita diajak untuk tidak hanya membaca, tetapi juga menghayati dan melakukan sujud sebagai ekspresi tunduk total kepada kebesaran Allah. Ketika kita sujud, kita meletakkan bagian paling mulia dari tubuh kita, yaitu dahi, di atas tanah, sebuah lambang ketundukan paripurna. Mengamalkan sujud tilawah dalam Surah Al-Hajj menjadi wujud pengakuan akan keesaan dan kekuasaan-Nya, sebuah tindakan yang memperkaya batin dan memurnikan niat.
Surah An-Nur: Cahaya Pembimbing Adab dan Kesucian
Surah An-Nur, yang berarti “Cahaya,” memang merupakan cahaya yang menerangi jalan kehidupan sosial dan etika seorang Muslim. Surah ini kaya akan petunjuk mengenai adab, kesucian, dan menjaga kehormatan diri serta masyarakat. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, pernah menulis surat kepada umat Islam agar “Ajarkanlah Surah An-Nur kepada wanita-wanita kalian.” Ini mengindikasikan betapa krusialnya surah ini dalam membentuk karakter dan perilaku perempuan Muslim, terutama dalam hal menjaga kehormatan dan adab pergaulan.
Dampak Surah An-Nur begitu mendalam, hingga tercatat dalam sejarah bagaimana para wanita Anshar segera mengamalkan ajarannya. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah memuji wanita-wanita Anshar, mengatakan, “Ketika Surah An-Nur turun, mereka segera mengambil potongan-potongan kain dari ikat pinggang mereka lalu menjadikannya sebagai kerudung.” Ini adalah contoh nyata ketaatan dan responsivitas kaum Muslimin terhadap wahyu Allah, menunjukkan pentingnya menjaga batasan aurat dan berhijab.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah An-Nur ayat 31:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.
Begitu pula Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, seorang pakar tafsir, pernah membaca dan menafsirkan Surah An-Nur di hadapan banyak orang hingga seseorang berkata, “Seandainya orang-orang Daylam mendengar ini, niscaya mereka akan masuk Islam.” Pujian ini menegaskan kedalaman dan kekuatan pesan Surah An-Nur yang mampu menyentuh hati dan mengubah pandangan hidup. Mempelajari dan mengamalkan Surah An-Nur bukan hanya tentang menutup aurat secara fisik, tetapi juga tentang menjaga kehormatan diri, menjauhi fitnah, dan membangun masyarakat yang bersih dari kemaksiatan. Inilah esensi keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur untuk kehidupan Muslim yang terbingkai dalam kemuliaan akhlak.
Keutamaan Surah Lain: Pelindung dan Peningkat Derajat Muslim
Selain keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur, ada beberapa surah lain yang juga diistimewakan, membawa berbagai fadhilah dan keberkahan bagi para pembacanya. Keberadaan surah-surah ini semakin menguatkan keyakinan kita bahwa setiap lembar Al-Qur’an adalah rahmat yang tiada tara.
Taha dan Yasin: Penjaga Abadi di Jannah
Satu riwayat dari Syahr bin Hawsyab menyebutkan, “Al-Qur’an akan diangkat dari penduduk surga, kecuali Surah Taha dan Yasin.” Meskipun riwayat ini perlu penelusuran lebih lanjut mengenai sanadnya, namun ia mengisyaratkan adanya keistimewaan tertentu pada kedua surah tersebut. Mengangkat Al-Qur’an dari penduduk surga dapat berarti bahwa mereka tidak lagi membutuhkan pedoman, karena telah sempurna ilmunya dan telah meraih tujuan. Namun, Taha dan Yasin tetap ada, mungkin sebagai pengingat akan keindahan kalam Ilahi atau sebagai bentuk kemuliaan khusus bagi pembacanya di akhirat kelak.
As-Sajdah dan Al-Mulk: Sayap Pelindung di Hari Kiamat
Dua surah lainnya yang memiliki keutamaan luar biasa adalah Surah As-Sajdah (Alif Lam Mim Tanzil) dan Surah Al-Mulk (Tabarakalladzi biyadihil Mulk). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surah Alif Lam Mim Tanzil As-Sajdah akan datang pada hari Kiamat dengan dua sayap, melindungi pembacanya seraya berkata, ‘Tiada jalan bagimu, tiada jalan bagimu.'” Betapa mulianya, surah ini menjadi pelindung dan pembela bagi siapa saja yang rutin membacanya di hari perhitungan. Ini adalah manifestasi nyata dari rahmat Allah bagi hamba-Nya yang mencintai kalam-Nya.
Tidak hanya itu, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menyatakan tentang kedua surah ini, Surah As-Sajdah dan Surah Al-Mulk, “Di dalamnya terdapat enam puluh derajat lebih tinggi daripada surah-surah Al-Qur’an yang lain.” Ini mengindikasikan pahala dan keutamaan yang sangat besar bagi siapa saja yang membaca dan menghayatinya. Bayangkan, dengan rutin membaca kedua surah ini, kita berkesempatan meraih derajat yang lebih tinggi di sisi Allah, sebuah investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Sungguh, beragamnya keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur untuk kehidupan Muslim serta surah-surah lainnya menunjukkan betapa luasnya pintu kebaikan dalam Al-Qur’an.
Menghayati Keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur untuk Kehidupan Muslim
Setelah menelusuri berbagai keutamaan surah-surah pilihan ini, khususnya keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur untuk kehidupan Muslim, kita dihadapkan pada sebuah kesadaran. Al-Qur’an bukanlah sekadar teks yang dibaca, melainkan petunjuk hidup yang dinamis, penuh berkah, dan siap membimbing kita menuju kebahagiaan hakiki. Setiap fadhilah yang disebutkan adalah undangan dari Allah untuk kita semakin mendekat kepada-Nya melalui kalam-Nya.
Mari kita tingkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an. Jadikan membaca, mempelajari, dan menghafal Al-Qur’an sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian kita. Jadikanlah sujud tilawah sebagai momen introspeksi dan penyerahan diri. Jadikanlah adab dan kesucian Surah An-Nur sebagai cermin dalam setiap interaksi sosial kita. Karena pada akhirnya, keberkahan Al-Qur’an akan mengubah pola pikir dan tindakan kita, membentuk pribadi Muslim yang kian bertakwa dan istiqamah.
Jika kita ingin merasakan perubahan hidup yang mendalam melalui Al-Qur’an, tidak ada jalan lain kecuali dengan mendalami dan menghayati setiap ayatnya. Dengan pemahaman yang kuat dan aplikasi yang konsisten, kita akan merasakan betapa Al-Qur’an menjadi sumber kekuatan, ketenangan, dan inspirasi yang tak pernah padam. Inilah sejatinya makna meraih keutamaan Surah Al-Hajj dan An-Nur untuk kehidupan Muslim yang seutuhnya.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam. Fadhailul Qur’an. Bab Fadhil Surah Al-Waqi’ah dan Al-Mubashsharat, Bab Fadhil Surah Al-Hajj dan Surah An-Nur, Bab Fadhil Tanzil As-Sajdah dan Yasin.
- Al-Qur’an Surah An-Nur Ayat 31.
