Mengajar Al-Qur’an adalah sebuah amanah yang agung, sebuah warisan kenabian yang membawa keberkahan tak terhingga bagi siapa pun yang melaksanakannya dengan tulus. Namun, di tengah gemuruh kehidupan modern, kadang kita lupa esensi sejati dari ibadah mulia ini. Hakikat keikhlasan seringkali tergerus oleh godaan duniawi. Artikel ini akan menggali lebih dalam makna dan pentingnya menghindari imbalan dunia saat mengajar Al-Qur’an, sebuah pelajaran berharga dari teladan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mengajar Al-Qur’an Adalah Amanah Agung, Bukan Profesi Biasa
Kisah-kisah para sahabat Nabi, radhiyallahu ‘anhum, adalah mercusuar yang menerangi jalan kita. Mereka adalah generasi pertama yang menerima estafet risalah, dan cara mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah pelajaran yang tak lekang oleh zaman. Dulu, ketika para Muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tradisi mulia. Beliau akan menyerahkan para pendatang baru itu kepada salah seorang sahabat Anshar untuk diajari Al-Qur’an. Sebuah gambaran betapa luhurnya tugas ini, menjadi jembatan bagi seseorang untuk mengenal kalamullah.
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shomit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkisah:
حَدَّثَنَا نُعَيْمٌ، عَنْ بَقِيَّةَ، عَنْ بِشْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عُبَادَةُ بْنُ نَسِيَ، عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِ مُهَاجِرٌ دَفَعَهُ إِلَى رَجُلٍ مِنَّا يُعَلِّمُهُ الْقُرْآنَ، فَدَفَعَ إِلَيَّ رَجُلًا فَكُنْتُ أُقْرِئْهُ الْقُرْآنَ، فَأَهْدَى إِلَيَّ قَوْسًا، فَأُخْبِرَ بِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «جَمْرَةٌ بَيْنَ كَتِفَيْكَ تَقَلَّدْتَهَا»
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Nu’aim, dari Baqiyah, dari Bisyr bin Abdullah bin Yasar, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ubadah bin Nusai, dari Junadah bin Abu Umayyah, dari Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata: ‘Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika seorang Muhajir datang kepadanya, beliau menyerahkannya kepada seorang laki-laki dari kami untuk diajari Al-Qur’an. Beliau menyerahkan seorang laki-laki kepadaku, lalu aku mengajarkan Al-Qur’an kepadanya. Kemudian dia memberiku hadiah sebuah busur. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu tentang hal itu, lalu beliau bersabda: “Sebuah bara api di antara kedua pundakmu yang kamu kenakan.”
Hadits ini adalah tamparan keras bagi setiap hati yang mulai terpaut pada imbalan duniawi saat mengemban tugas suci ini. Mengajar Al-Qur’an bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah amanah langit yang menuntut ketulusan niat dan keikhlasan yang murni. Ketika seseorang mengajar Al-Qur’an, ia tengah menjadi duta Allah, menyampaikan firman-Nya. Layakkah seorang duta mengambil upah dari misi yang begitu mulia? Justru, kehormatan terbesar adalah menjadi perantara hidayah.
Menghindari Imbalan Dunia Saat Mengajar Al-Qur’an: Sebuah Peringatan Keras
Peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ubadah bin Ash-Shomit, “Sebuah bara api di antara kedua pundakmu yang kamu kenakan,” sungguh menggugah kesadaran. Kalimat ini bukan sekadar larangan, melainkan deskripsi akan konsekuensi spiritual yang sangat berat. Sebuah bara api yang membakar di pundak, melambangkan beban dosa atau siksa yang akan ditanggung akibat mengambil imbalan dunia untuk sesuatu yang seharusnya murni karena Allah.
Mengapa hadiah berupa busur, yang secara lahiriah tampak sepele, bisa digambarkan sedemikian rupa? Ini bukan tentang nilai benda itu, melainkan tentang prinsip di baliknya. Ketika niat mengajar Al-Qur’an bercampur dengan harapan akan imbalan, sekecil apapun itu, maka nilai ibadahnya akan terkikis. Keikhlasan adalah pondasi. Tanpa keikhlasan, bangunan amal akan rapuh. Kita diajarkan untuk menghindari imbalan dunia saat mengajar Al-Qur’an agar pahala kita tetap utuh dan murni di sisi-Nya.
Ini juga menjadi refleksi bagi kita semua. Apakah kita mengajar karena ingin dihormati, ingin mendapatkan pengakuan, atau bahkan ingin mendapatkan materi? Atau semata-mata karena ingin mengharap ridha Allah dan menjadi bagian dari penyebar kebaikan? Pergeseran niat sedikit saja bisa mengubah status sebuah amal dari ibadah murni menjadi transaksi yang merugikan di akhirat kelak.
Menjaga Niat Murni dalam Menghindari Imbalan Dunia Saat Mengajar Al-Qur’an
Lalu, bagaimana kita menjaga niat agar tetap murni? Kuncinya adalah menyadari bahwa balasan terbaik datangnya dari Allah semata. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَن شَاءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا
Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun dari kamu atas dakwahku ini, melainkan (aku hanyalah mengharap) barangsiapa yang mau mengambil jalan kepada Tuhan-nya.'” (Q.S. Al-Furqan: 57)
Ayat ini menegaskan prinsip fundamental para nabi dan rasul dalam berdakwah: tidak meminta upah. Balasan yang diharapkan adalah hidayah bagi umat dan pahala dari sisi Allah. Bagi kita para pengajar Al-Qur’an, spirit ini harus senantiasa hidup. Imbalan kita adalah keberkahan hidup, ketenangan hati, pahala jariyah yang terus mengalir, dan yang terpenting, keridhaan Allah.
Tentu, ini bukan berarti para pengajar Al-Qur’an harus hidup dalam kesulitan. Rezeki Allah itu luas. Namun, rezeki itu harus datang tanpa diminta, tanpa dijadikan tujuan utama, dan bukan sebagai harga dari ayat-ayat suci yang diajarkan. Ketika niat kita bersih, Allah akan mencukupi dari arah yang tidak disangka-sangka. Fokuskan niat untuk mencari wajah Allah, dan dunia akan datang menghampiri tanpa kita kejar.
Menghindari Imbalan Dunia Saat Mengajar Al-Qur’an: Mengukuhkan Niat Ikhlas
Dalam konteks modern, ketika banyak lembaga pendidikan Al-Qur’an menerapkan biaya, prinsip menghindari imbalan dunia saat mengajar Al-Qur’an ini perlu dipahami dengan bijak. Biaya operasional lembaga, kesejahteraan pengajar, dan pengembangan program adalah keniscayaan. Namun, ini tidak boleh menggeser niat dasar. Institusi harus transparan, dan setiap individu pengajar harus terus mengintrospeksi niatnya. Apakah saya mengajar karena profesi, atau karena panggilan hati untuk menyampaikan wahyu?
Marilah kita terus berjuang mengokohkan niat ikhlas dalam setiap langkah kita mengabdi kepada Al-Qur’an. Jadikan setiap pengajaran sebagai persembahan tulus kepada Allah, mengharap balasan terbaik hanya dari sisi-Nya. Ketika kita benar-benar tulus, keberkahan akan menyelimuti setiap sudut kehidupan kita, dan apa yang kita ajarkan akan menjadi cahaya yang tak padam.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi para pengajar Al-Qur’an yang murni niatnya, yang senantiasa menjaga keikhlasan dalam setiap bait ayat yang kita sampaikan, dan yang selalu menghindari imbalan dunia saat mengajar Al-Qur’an demi meraih ridha-Nya yang abadi.
Ingin mendalami Al-Qur’an dengan bimbingan terbaik dan niat yang lurus? Bergabunglah bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat Anda dapat mempelajari Al-Qur’an dengan metode yang teruji dan lingkungan yang kondusif untuk membentuk pribadi yang Qur’ani. Mari kita bersama-sama mewujudkan generasi penghafal Al-Qur’an yang ikhlas dan berakhlak mulia.
Daftar Referensi
- Kitab Fadhail Al-Qur’an oleh Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Bab: Al-Qari’ Yasta’kilu bil Qur’an wa Yarza’u ‘alaihil Amwal wa ma fi dzalika minal Karahah wat Tashdid, halaman 206. Diakses dari sumber di Perpustakaan Islam Shamela
- Q.S. Al-Furqan: 57
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

