Kerap kali, kita menyaksikan fenomena yang membingungkan: manusia yang dianugerahi akal dan fitrah suci, namun justru terjerumus dalam kelalaian yang mendalam, bahkan terhadap Rabb-nya yang Maha Pengasih. Adakah sesuatu yang begitu kuat hingga mampu mengaburkan pandangan hati, membuat kita lupa akan hakikat diri dan Pencipta? Mari kita selami sebuah perenungan mendalam dari sabda Rasulullah ﷺ yang menyingkap tabir di balik misteri ini, sebuah renungan tentang Kebodohan yang Menipu Manusia dari Tuhan Yang Maha Pemurah.

Dalam sebuah riwayat yang sampai kepada kita dari Abu Ubaid, Katsir bin Hisyam, Ja’far bin Burqan, dari Shalih bin Mismar, diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melantunkan sebuah ayat yang penuh dengan teguran sekaligus kasih sayang:

{يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ} [الانفطار: ٦]

Artinya: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (sehingga durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?” (QS. Al-Infitar: 6)

Kemudian, dengan pandangan yang menembus kedalaman jiwa, beliau memberikan jawaban yang begitu singkat namun sarat makna: «جَهْلُهُ» “Kebodohannya.” Jawaban ini adalah sebuah kunci, sebuah pencerahan yang membuka wawasan kita tentang akar permasalahan banyak penyimpangan dan kelalaian manusia.

Menguak Tabir Kebodohan yang Menipu Manusia dari Tuhan Yang Maha Pemurah

Mengapa kebodohan menjadi faktor utama yang membuat manusia terperdaya oleh hal-hal fana, lupa akan kebesaran dan kemurahan Allah Yang Maha Pemurah? Kebodohan di sini bukanlah semata ketiadaan informasi, melainkan ketidaktahuan yang melahirkan kesalahpahaman fatal tentang hakikat kehidupan, tujuan penciptaan, dan terutama, siapa Allah itu. Manusia seringkali melupakan atau bahkan tidak pernah mengenal seberapa besar kemuliaan (Al-Karim) yang Allah miliki, yang mana kemurahan-Nya meliputi setiap hembusan napas, setiap nikmat yang tak terhingga.

Kebodohan tentang sifat-sifat Allah adalah tirai pertama yang menggelapkan hati. Kita mungkin tahu bahwa Allah Maha Pemberi, tetapi kita tidak benar-benar memahami implikasinya. Kita menerima segala karunia, namun tak jarang kita mengira itu adalah hasil dari usaha semata, atau bahkan hak kita. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang Al-Karim, kita cenderung meremehkan anugerah, melupakan Sang Pemberi, dan akhirnya, terperdaya oleh kesenangan sesaat. Inilah esensi dari Kebodohan yang Menipu Manusia dari Tuhan Yang Maha Pemurah.

Manifestasi Kebodohan dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagaimana Kebodohan yang Menipu Manusia dari Tuhan Yang Maha Pemurah ini termanifestasi dalam perilaku kita? Ia muncul dalam berbagai rupa:

  • Kesombongan dan Angkuh: Merasa diri mampu melakukan segala sesuatu tanpa bantuan Ilahi, lupa bahwa semua kekuatan dan kemampuan berasal dari-Nya.
  • Kecenderungan untuk Menunda Ibadah: Merasa bahwa waktu masih panjang, seolah-olah umur ada di tangan kita, padahal kematian bisa datang kapan saja, mengakhiri semua kesempatan.
  • Terlena dengan Duniawi: Menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, mengejar materi dan pangkat tanpa batas, hingga melupakan tujuan utama penciptaan diri sebagai hamba-Nya.
  • Tidak Bersyukur: Mengambil semua nikmat sebagai hal yang biasa, tidak merasakan getaran hati untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta yang tak pernah berhenti mengalirkan karunia-Nya.
  • Berputus Asa: Ketika ditimpa musibah, merasa sendiri dan tidak memiliki harapan, seakan Allah tidak ada, lupa bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang dan peningkatan derajat dari-Nya.

Semua ini adalah buah dari ketidaktahuan, kebodohan yang menyelimuti hati dan pikiran, menghalangi kita dari melihat kebenaran yang hakiki.

Menyikap Tirai Kebodohan dengan Cahaya Ilmu

Lantas, bagaimana kita dapat melepaskan diri dari jeratan Kebodohan yang Menipu Manusia dari Tuhan Yang Maha Pemurah ini? Jawabannya telah disingkap oleh Rasulullah ﷺ sendiri: dengan memahami dan mengikis kebodohan. Ini berarti kembali kepada sumber ilmu yang paling otentik: Al-Qur’an dan Sunnah.

Mempelajari Al-Qur’an bukan sekadar membaca, melainkan merenungi setiap ayatnya, memahami maknanya, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Ayat-ayat Allah adalah lentera yang menerangi jalan, membimbing kita untuk mengenal Allah, mengenal diri, dan mengenal dunia sebagaimana mestinya. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini dengan tegas membedakan antara mereka yang berilmu dan mereka yang tidak. Ilmu adalah cahaya yang menyingkap kebodohan, memberikan kita perspektif yang benar tentang realitas dan hakikat keberadaan. Dengan ilmu, kita akan semakin mengenal betapa Maha Pemurahnya Allah, betapa luasnya rahmat-Nya, dan betapa kecilnya diri kita di hadapan-Nya. Pemahaman ini akan menumbuhkan rasa syukur, rendah hati, dan ketaatan yang tulus.

Proses mengenali Allah dan memahami Al-Qur’an adalah perjalanan seumur hidup. Ia membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan bimbingan yang tepat. Ketika kita secara aktif mencari ilmu, merenungi ciptaan-Nya, dan berusaha memahami firman-Nya, sedikit demi sedikit tirai kebodohan akan tersingkap. Kita akan mulai melihat keindahan hikmah di balik setiap takdir, merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta, dan hidup dengan tujuan yang jelas. Inilah cara kita membebaskan diri dari belenggu kebodohan yang menipu.

Mari kita jadikan hadits Rasulullah ﷺ ini sebagai alarm pengingat, sebuah panggilan untuk introspeksi diri. Apakah kita selama ini terpedaya oleh Kebodohan yang Menipu Manusia dari Tuhan Yang Maha Pemurah? Sudah saatnya kita bangkit, menimba ilmu, dan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, agar hati kita senantiasa terang benderang dengan cahaya hidayah dan kebijaksanaan-Nya.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • QS. Al-Infitar: 6
  • QS. Az-Zumar: 9
  • Kitab Fadhail Al-Qur’an, Abu Ubaid, Bab: Ma Yustahabb li Qari’il Qur’an min Al-Jawab Inda Al-Ayah wa Asy-Syahadah Laha, halaman 151.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,