Membaca Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan ruhani yang tiada tara. Setiap huruf yang terucap adalah cahaya, setiap ayat yang meresap adalah petunjuk. Namun, pernahkah kita merenungkan, adakah waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan lebih dalam menyelesaikan bacaan mulia ini? Para ulama dan sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum telah memberikan kita pedoman berharga, tidak hanya tentang bagaimana membaca, melainkan juga kapan waktu terbaik khatam Al-Quran agar keberkahannya semakin melimpah.

Khatam Al-Qur’an bukanlah sekadar perlombaan kecepatan. Al-Qur’an adalah samudera hikmah yang membutuhkan penyelaman mendalam. Sebuah riwayat masyhur mengingatkan kita:

لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ.

Yang artinya, “Tidaklah memahami orang yang membaca Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i). Imam Tirmidzi berkata, hadits ini hasan shahih. Ini adalah isyarat tegas bahwa kecepatan harus diimbangi dengan pemahaman. Namun, bagaimana dengan orang yang mampu mengkhatamkan lebih sering, atau memiliki siklus mingguan? Di sinilah kita akan mengkaji waktu terbaik khatam Al-Quran menurut ulama dan sahabat.

Hikmah di Balik Siklus Khatam Mingguan

Para sahabat Nabi, dengan kedalaman ilmu dan pemahaman mereka, seringkali menetapkan siklus mingguan untuk khatam Al-Qur’an. Ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah bentuk pengaturan spiritual agar Al-Qur’an senantiasa membersamai hari-hari mereka, sekaligus memberikan jeda untuk merenung dan mengamalkan. Memahami waktu terbaik khatam Al-Quran menurut ulama dan sahabat akan membimbing kita untuk meniru pola-pola kebaikan ini.

Diriwayatkan dari Abu Dawud, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memiliki kebiasaan istimewa. Beliau memulai bacaan Al-Qur’an pada malam Jumat dan menyelesaikannya pada malam Kamis. Pola ini menunjukkan sebuah keistiqamahan yang luar biasa, menjadikan seluruh pekan beliau terbingkai dalam kemuliaan kalamullah. Sebuah teladan nyata tentang bagaimana kita dapat menjadikan Al-Qur’an sebagai poros kehidupan.

Panduan Imam Al-Ghazali: Khatam Siang dan Malam

Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah, seorang ulama besar dengan kedalaman spiritual yang mendalam, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, menyarankan sebuah strategi yang lebih optimal lagi. Beliau berpendapat, yang paling utama adalah mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali di malam hari dan satu kali di siang hari. Ini menunjukkan betapa beliau sangat menganjurkan kita untuk senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dalam terang maupun gelapnya waktu.

Secara lebih spesifik, Imam Al-Ghazali menyarankan agar khatam Al-Qur’an di siang hari dilakukan pada hari Senin, baik saat shalat dua rakaat fajar atau setelahnya. Sementara itu, khatam Al-Qur’an di malam hari beliau anjurkan pada malam Jumat, baik saat shalat dua rakaat Maghrib atau setelahnya. Hikmahnya adalah untuk menyambut awal siang dan akhir siang dengan Al-Qur’an, sekaligus menyucikan hati di hari-hari yang penuh keberkahan.

Keutamaan Khatam di Awal Malam dan Awal Siang

Bukan hanya para sahabat dan ulama besar, para tabi’in pun memiliki perhatian khusus terhadap waktu terbaik khatam Al-Quran menurut ulama dan sahabat. Ibn Abi Dawud meriwayatkan dari Umar bin Murrah rahimahullah, seorang tabi’i, bahwa mereka (para sahabat dan tabi’in) menyukai untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di awal malam atau di awal siang. Ini menunjukkan sebuah konsensus spiritual mengenai pentingnya memulai atau mengakhiri hari dengan Al-Qur’an.

Talhah bin Musarrif rahimahullah, tabi’i mulia lainnya, juga menegaskan keutamaan ini. Beliau berkata, “Siapa saja yang mengkhatamkan Al-Qur’an pada jam berapa pun di siang hari, para malaikat akan bershalawat untuknya sampai sore. Dan pada jam berapa pun di malam hari, para malaikat akan bershalawat untuknya sampai pagi.” Pendapat serupa juga disampaikan oleh Mujahid rahimahullah.

Keberkahan shalawat malaikat ini adalah motivasi yang luar biasa bagi kita. Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam musnadnya dengan sanad dari Sa’d bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Jika khatam Al-Qur’an bertepatan dengan awal malam, para malaikat akan bershalawat untuknya sampai pagi. Dan jika khatam Al-Qur’an bertepatan dengan akhir malam, para malaikat akan bershalawat untuknya sampai sore.” Ad-Darimi menilai riwayat ini sebagai hadits yang hasan dari Sa’d.

Bahkan, Habib bin Abi Thabit rahimahullah, seorang tabi’i, memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an sebelum rukuk dalam shalatnya. Ibn Abi Dawud menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga berpendapat serupa. Ini menunjukkan betapa para salaf berusaha memaksimalkan setiap kesempatan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, bahkan di waktu-waktu yang sempit sekalipun.

Merajut Kebiasaan Mulia untuk Keberkahan Hidup

Dari uraian di atas, kita dapat memetik pelajaran berharga. Waktu terbaik khatam Al-Quran menurut ulama dan sahabat bukanlah sekadar dogma, melainkan sebuah panduan praktis untuk mengoptimalkan interaksi kita dengan Kalamullah. Ini tentang bagaimana kita menata waktu, mendisiplinkan diri, dan menanamkan cinta pada Al-Qur’an dalam setiap episode kehidupan.

Marilah kita merenungi dan mulai mengaplikasikan pedoman-pedoman mulia ini. Bukan hanya tentang seberapa sering kita khatam, tetapi seberapa berkualitas interaksi kita dengannya. Jadikanlah setiap khatam sebagai momentum introspeksi, peningkatan pemahaman, dan penguatan iman. Semoga setiap usaha kita dalam mendekat kepada Al-Qur’an akan mendatangkan keberkahan, ketenangan, dan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bagi Anda yang ingin merasakan bimbingan mendalam dan intensif dalam menghafal dan memahami Al-Qur’an dengan metode yang telah teruji, kami mengundang Anda untuk bergabung dengan Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sana, Anda akan menemukan lingkungan yang kondusif dan pendampingan yang profesional untuk meraih impian Anda bersama Al-Qur’an.

Daftar Referensi

  • HR. Abu Dawud No. 1390, Kitab Ramadhan, Bab Fil Hizbi min Al-Qur’an
  • HR. Tirmidzi No. 2949, Kitab Qira’at, Bab Ma Ja’a fi Annahu la Yafqahu man Qara’al Qur’an fi Aqallu min Tsalatsin
  • HR. An-Nasa’i No. 1394, Kitab Qiyamul Lail wa Tathawwu’an Nahar, Bab Qira’atul Qur’an fi Tsalatsi Ayam
  • Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
  • Ad-Darimi, Musnad Ad-Darimi

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,