Al-Qur’an, kalam ilahi yang menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia, menyimpan kemukjizatan yang tak pernah usang dimakan zaman. Salah satu aspek paling menakjubkan dari kemukjizatan ini adalah keistimewaan susunan bahasa Al-Qur’an yang tiada banding. Ia bukan sekadar deretan kata-kata indah, melainkan sebuah mahakarya yang menembus batas-batas kemampuan linguistik dan retoris manusia.
Para ulama sepanjang sejarah telah mengkaji dan merenungkan fenomena ini. Qadhi Abu Bakar, seorang cendekiawan Muslim terkemuka, menjelaskan bahwa inti kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada tatanan, komposisi, dan penyusunannya (nazhm, ta’lif, tarshif). Al-Qur’an hadir dengan struktur yang benar-benar berbeda dari segala bentuk tatanan kebahasaan yang biasa dikenal dalam pidato dan sastra Arab saat itu. Gaya bahasanya memisahkan diri dari semua kaidah retorika umum yang digunakan oleh para ahli bahasa Arab, sehingga mereka tidak mampu untuk menandinginya.
Qadhi Abu Bakar lebih lanjut menegaskan bahwa kita tidak akan pernah menemukan kemukjizatan Al-Qur’an melalui jenis-jenis seni bahasa (badi’) yang biasa mereka sisipkan dalam syair. Mengapa demikian? Karena seni-seni bahasa tersebut, seperti metafora atau analogi, bukanlah sesuatu yang luar biasa hingga melampaui kebiasaan. Ia masih dapat dipelajari, dilatih, dan bahkan dibuat-buat, persis seperti seseorang belajar mengarang syair, menyusun khutbah, menciptakan surat, atau menguasai balaghah (ilmu retorika). Semua itu memiliki jalan yang bisa ditempuh dan metode yang bisa diikuti.
Namun, dalam hal tatanan dan keistimewaan susunan bahasa Al-Qur’an, tidak ada contoh yang bisa ditiru, tidak ada panutan yang bisa diikuti. Mustahil bagi manusia untuk menghasilkan karya serupa, bahkan secara kebetulan sekalipun. Beliau meyakini bahwa kemukjizatan ini mungkin lebih tampak jelas pada sebagian ayat Al-Qur’an, dan pada sebagian lainnya, ia tersembunyi lebih dalam dan lebih halus, menuntut perenungan yang lebih mendalam untuk mengungkapnya.
Mengapa Keistimewaan Susunan Bahasa Al-Qur’an Begitu Penting?
Perspektif lain datang dari Imam Fakhruddin Ar-Razi, yang mengemukakan bahwa wajah kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada kefasihan (fasahah) yang memukau, keunikan gaya bahasanya (gharabah al-uslub), serta keselamatannya dari segala bentuk cacat dan kekurangan. Kedua pandangan ulama besar ini saling melengkapi, menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar buku, melainkan tanda kebesaran Ilahi yang tak tertandingi.
Mengapa pemahaman tentang keistimewaan susunan bahasa Al-Qur’an ini krusial bagi kita? Pertama, ia adalah bukti tak terbantahkan akan asal-usul Ilahi Al-Qur’an. Jika manusia, dengan segala kecerdasannya, tidak mampu menciptakan sesuatu yang setara dengannya, maka jelaslah bahwa Al-Qur’an datang dari Dzat yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui. Kedua, pengkajian terhadap kemukjizatan bahasa ini akan memperdalam keimanan kita, membuka pintu-pintu hikmah, dan membantu kita merasakan getaran keagungan Ilahi di setiap ayatnya. Ia mengubah cara kita membaca, dari sekadar melafalkan huruf menjadi menyelami samudra makna yang tak bertepi.
Al-Qur’an sendiri menantang manusia dan jin untuk menghasilkan sesuatu yang serupa dengannya:
قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Artinya: “Katakanlah, ‘Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'” (Q.S. Al-Isra: 88)
Ayat ini secara gamblang menunjukkan betapa Al-Qur’an bukanlah karya manusia. Ia berdiri sendiri, unik, dan tak tertandingi dalam segala aspeknya, terutama dalam keistimewaan susunan bahasa Al-Qur’an.
Menyelami Kedalaman Bahasa Ilahi
Untuk benar-benar merasakan dan memahami kemukjizatan ini, kita dituntut untuk tidak berhenti pada tataran membaca saja. Kita perlu berusaha memahami setiap kata, frasa, dan susunan kalimatnya, sebagaimana para ulama dahulu bersungguh-sungguh mengkaji. Dengan mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa setiap pilihan kata, setiap urutan kalimat, dan setiap ritme Al-Qur’an memiliki tujuan dan hikmah yang luar biasa. Ini bukan hanya tentang kefasihan, tetapi tentang presisi ilahi yang menempatkan setiap huruf pada posisi terbaiknya.
Allah SWT juga berfirman, menantang para peragu:
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Artinya: “Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah (saja) yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Q.S. Al-Baqarah: 23)
Ayat ini adalah undangan terbuka untuk menyingkap tabir keraguan. Tantangan untuk membuat “satu surah saja” seperti Al-Qur’an adalah bukti nyata betapa luar biasa dan tak tertandinginya keistimewaan susunan bahasa Al-Qur’an. Bukan hanya tentang konten, tetapi juga tentang bentuk, ritme, gaya, dan kedalaman makna yang terkandung dalam setiap lafazhnya.
Maka, mari kita tingkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an, tidak hanya dengan membaca dan menghafalnya, tetapi juga dengan memahami dan merenungkan kemukjizatan bahasanya. Dengan begitu, kita akan menemukan sumber kekuatan spiritual, ketenangan batin, dan petunjuk hidup yang tak ternilai harganya. Al-Qur’an, dengan segala keagungannya, adalah hadiah terindah dari Allah untuk kita.
Mengagumi keistimewaan susunan bahasa Al-Qur’an bukan hanya sebuah latihan intelektual, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang akan membawa kita lebih dekat kepada Sang Pencipta. Ini adalah bukti nyata bahwa Al-Qur’an adalah kalam ilahi yang tak lekang oleh zaman, selalu relevan, dan senantiasa menyingkapkan rahasia-rahasia baru bagi mereka yang bersedia menyelaminya.
Jika Anda rindu untuk menyelami dan menghafal Al-Qur’an dengan pemahaman mendalam akan keagungan bahasanya, Qur’an Learning Center Yogyakarta menawarkan program Executive Tahfizh yang dirancang khusus untuk Anda. Bersama para pengajar berkompeten, Anda akan dibimbing untuk bukan sekadar menghafal, tetapi juga menghayati setiap makna dan kemukjizatan yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surat Al-Isra: 88
- Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 23
- As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an.

