Kaya dengan Qur’an, Bukan Kaya dari Qur’an

Pernahkah kita membayangkan sebuah wajah di Hari Kiamat? Wajah yang hanya tersisa tulang belulang. Tanpa daging sedikit pun. Kering. Penuh kengerian. Gambaran yang begitu dahsyat ini bukanlah untuk seorang pembunuh atau pendosa besar dalam pandangan umum. Ancaman ini ditujukan untuk mereka yang membaca Al-Qur’an, tetapi dengan niat yang salah.

Sebuah niat untuk “memakan” manusia. Menjadikan Kalamullah sebagai alat untuk meraup keuntungan duniawi.

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ لِيَسْتَأْكِلَ النَّاسَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ عَظْمٌ لَيْسَ عَلَيْهِ لَحْمٌ

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an untuk mencari makan dari manusia, ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah berupa tulang belulang tanpa daging.” (Diriwayatkan dari Zazan)

Betapa beratnya peringatan ini. Para salafus shalih, generasi terbaik umat ini, memahami betul akan hal ini. Mereka menjaga kemuliaan Al-Qur’an lebih dari apapun. Lihatlah bagaimana sikap Abdullah bin Mughaffal saat diamanahi menjadi imam shalat di bulan Ramadhan. Setelah tugasnya selesai, Mush’ab bin Zubair mengirimkan hadiah untuknya. Lima ratus dirham dan satu setel pakaian. Jumlah yang tidak sedikit.

Apa jawabannya? Beliau menolaknya. Beliau berkata, “Aku tidak akan mengambil upah atas Al-Qur’an.”

Subhanallah. Kehormatan dirinya, kemuliaan Al-Qur’an dalam hatinya, jauh lebih berharga daripada ratusan dirham. Ini bukan sekadar cerita. Ini adalah prinsip. Prinsip yang juga dipegang teguh oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Ketika beliau mendengar Sa’ad memberikan upah kepada para pembaca Al-Qur’an, beliau murka. “Uffan, uffan!” serunya. Sebuah ekspresi kejijikan. “Apakah Kitabullah ‘Azza wa Jalla diberi upah?”

Memahami Makna Sejati “Yataghanna bil Qur’an”

Lalu, bagaimana kita memahami sebuah hadits yang sangat populer? Sebuah sabda dari lisan mulia Rasulullah ﷺ yang seringkali diartikan sebatas melagukan bacaan.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak ‘yataghanna’ dengan Al-Qur’an.” (Diriwayatkan dari Sa’ad)

Banyak yang memahami ‘yataghanna’ sebagai ‘taghanni’ yang berarti melagukan atau memperindah suara. Tentu, memperindah suara saat membaca Al-Qur’an adalah sebuah anjuran. Namun, seorang ulama besar, Abu ‘Ubayd, memberikan sebuah penafsiran yang begitu dalam, yang menyatukan semua riwayat di atas menjadi sebuah permadani makna yang indah.

Beliau menjelaskan, makna ‘yataghanna’ di sini bukanlah soal suara. Bukan soal nada.

Ia adalah tentang al-istighna’. Tentang merasa cukup.

Abu ‘Ubayd berkata, makna ‘yataghanna’ adalah merasa cukup dan menjaga kehormatan diri (ta’affuf) dari meminta-minta kepada manusia dengan perantara Al-Qur’an. Menjadi seorang yang di dalam jiwanya telah merasa kaya dengan membawa Al-Qur’an, sekalipun hartanya tidak ada.

Allahu Akbar. Renungkanlah.

Jadi, makna hadits yataghanna bil Qur’an yang sesungguhnya adalah tentang mentalitas. Tentang jiwa seorang penghafal Qur’an. Bahwa Al-Qur’an yang ada di dalam dadanya sudah menjadi kekayaan terbesar. Harta yang membuatnya tidak lagi silau dengan dunia. Kehormatan yang membuatnya terlalu tinggi untuk menadahkan tangan kepada makhluk.

Inilah yang membedakan. Antara mereka yang menjadikan Qur’an sebagai kekayaan jiwa, dengan mereka yang menjadikan Qur’an sebagai alat mencari kekayaan dunia. Yang pertama akan mulia di dunia dan akhirat. Yang kedua, datang dengan wajah tanpa daging.

Kekayaan sejati seorang ahlul Qur’an bukanlah amplop yang ia terima, bukan pula pujian yang ia dapatkan. Kekayaan sejatinya adalah ketenangan saat membacanya, kemuliaan saat menjaganya, dan rasa cukup yang Allah tanamkan di dalam hatinya. Inilah esensi dari makna hadits yataghanna bil Qur’an.

Memahami kedalaman makna seperti inilah yang menjadi pondasi dalam perjalanan menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an. Sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang lisan, tapi tentang jiwa yang kaya. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami meyakini bahwa proses menghafal adalah proses membangun karakter mulia ini, karakter ahlul Qur’an yang sejati.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam, Fadhail Al-Qur’an. Riwayat-riwayat di atas dinukil dari kitab tersebut.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri