Dua Anugerah Agung yang Sering Terlupakan

Dalam hiruk pikuk pencarian kebahagiaan, seringkali kita terpaku pada capaian-capaian duniawi. Sebuah rumah yang megah, kedudukan yang terpandang, atau harta yang melimpah. Kita lupa bahwa sumber kebahagiaan sejati telah Allah anugerahkan, namun acap kali kita lalaikan. Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungi makna fadhl dan rahmat Allah yang paling hakiki? Jauh melampaui materi, ada dua anugerah yang menjadi pangkal segala kebaikan, yang tanpanya, seluruh isi dunia tak akan pernah sanggup mengisi kekosongan jiwa.

Perintah untuk Bergembira dengan Karunia-Nya

Allah ‘Azza wa Jalla tidak melarang kita bergembira. Justru, Dia memerintahkan kita untuk merayakan anugerah-Nya. Namun, bukan sembarang anugerah. Ada kegembiraan yang sifatnya fana, dan ada pula sukacita yang abadi. Allah menunjukkan kita pada sumber sukacita yang sejati dalam firman-Nya:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan karunia Allah (fadhlullah) dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Yunus: 58)

Ayat ini adalah undangan dari Sang Pencipta untuk merasakan kebahagiaan. Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan “karunia Allah” (fadhl) dan “rahmat-Nya” (rahmah) dalam ayat tersebut? Para ulama salaf telah memberikan kita sebuah kunci emas untuk memahaminya, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam dalam kitabnya, Fadha’ilul Qur’an.

Hilal bin Yasaf, seorang tabi’in, menjelaskan makna agung di balik ayat ini. Beliau berkata: “Fadhlullah (karunia Allah) adalah Islam, dan Rahmatuhu (rahmat-Nya) adalah Al-Qur’an.”

Islam: Karunia Pemandu Jalan (Fadhlullah)

Mari kita renungkan betapa dalamnya penafsiran ini. Islam disebut sebagai fadhl, sebuah karunia atau anugerah utama. Mengapa? Karena Islam adalah cahaya yang mengeluarkan kita dari kegelapan kebodohan menuju terang benderang ilmu dan iman. Ia adalah kompas yang memberi arah pada kehidupan yang tak tentu. Tanpa Islam, kita akan tersesat dalam rimba syahwat dan keraguan. Islam memberikan kita identitas termulia sebagai hamba Allah, tujuan hidup yang jelas, serta janji kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Inilah makna fadhl dan rahmah Allah yang pertama: sebuah petunjuk yang menyelamatkan.

Al-Qur’an: Rahmat Penyejuk Jiwa (Rahmatuhu)

Jika Islam adalah jalannya, maka Al-Qur’an adalah pelita sekaligus bekal yang menerangi jalan tersebut. Al-Qur’an disebut sebagai rahmah, wujud kasih sayang Allah yang paling nyata. Di saat hati kita gersang, ayat-ayat-Nya menjadi penyejuk. Di kala kita rapuh dan berputus asa, firman-Nya menjadi penguat. Di kala kita bingung, petunjuk-Nya menjadi pembeda antara yang hak dan yang batil. Al-Qur’an adalah surat cinta dari Allah yang tak pernah lekang oleh waktu, sebuah bukti betapa besar rahmat-Nya kepada kita. Membaca, mentadaburi, dan menghafalnya adalah cara kita menyambut dan merasakan curahan rahmat tak terhingga itu. Memahami Al-Qur’an adalah inti dari pemahaman tentang makna fadhl dan rahmah Allah.

Sudahkah Kita Bergembira dengan Keduanya?

Maka, tanyakan pada diri kita: Apa yang paling membuat kita gembira hari ini? Apakah kenaikan jabatan? Pujian dari manusia? Atau keuntungan materi? Atau, sudahkah kita merasakan getar kebahagiaan saat dapat menyelesaikan shalat dengan khusyuk sebagai wujud keislaman kita? Sudahkah hati kita berbunga-bunga saat berhasil menambah satu ayat hafalan Al-Qur’an? Ayat di atas mengingatkan bahwa kegembiraan kita atas Islam dan Al-Qur’an haruslah melampaui kegembiraan kita atas segala hal yang kita kumpulkan di dunia ini. Inilah standar kebahagiaan seorang mukmin. Memahami makna fadhl dan rahmah Allah bukan sekadar pengetahuan, melainkan sebuah rasa yang harus kita perjuangkan untuk hadir dalam kalbu.

Mari kita kembali menata prioritas kebahagiaan kita. Mari jadikan Islam sebagai identitas yang kita banggakan, dan Al-Qur’an sebagai sahabat yang tak pernah kita tinggalkan. Sebab di sanalah sumber kebahagiaan sejati, yang lebih baik dari seluruh dunia dan isinya.

Kesimpulan

Riwayat dari Hilal bin Yasaf memberikan kita sebuah perspektif yang sangat mendalam tentang makna fadhl dan rahmah Allah dalam Surah Yunus ayat 58. Karunia terbesar adalah hidayah Islam, dan rahmat terindah adalah kitab suci Al-Qur’an. Maka, berbahagialah dengan keduanya, karena kebahagiaan inilah yang akan membawa kita pada ketenangan di dunia dan keselamatan di akhirat. Langkah awal untuk merasakan manisnya rahmat Allah adalah dengan mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Mulailah perjalanan indah Anda bersama Al-Qur’an hari ini.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Yunus: 58.
  • Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadha’ilul Qur’an. Dar Ibnu Katsir.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,