Ada banyak hal yang membuat hati manusia berbunga-bunga. Sebuah pencapaian karir, keuntungan materi, atau pujian dari orang lain. Kita seringkali bergembira atas capaian-capaian duniawi yang fana. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, atas dasar apa Allah memerintahkan kita untuk benar-benar merasakan kegembiraan yang hakiki? Ternyata, sumber kebahagiaan sejati itu bukanlah harta atau takhta, melainkan sesuatu yang jauh lebih agung, yakni saat kita menyadari apa sesungguhnya karunia terbesar menjadi ahli Quran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, sebuah perintah untuk bergembira yang spesifik dan terarah:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Q.S. Yunus: 58)
Ayat ini adalah sebuah undangan ilahi untuk merasakan sukacita. Bukan sembarang sukacita, melainkan kebahagiaan yang berlandaskan pada dua pilar utama: Fadhlillah (karunia Allah) dan Rahmatihi (rahmat-Nya). Lantas, apakah wujud nyata dari karunia dan rahmat tersebut? Mari kita renungkan tafsir indah dari seorang sahabat yang paling memahami Al-Qur’an, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu.
Al-Qur’an Adalah Wujud Karunia (Fadhlillah)
Dalam sebuah riwayat yang berharga, Ibnu Abbas menyingkap tabir makna di balik ayat agung ini. Ketika menafsirkan firman Allah tersebut, beliau memberikan penjelasan yang begitu menyentuh dan mencerahkan.
فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ﴾ قَالَ: «الْقُرْآنُ»، ﴿وَبِرَحْمَتِهِ﴾ قَالَ: «أَنْ جَعَلَكُمْ مِنْ أَهْلِهِ»
Mengenai firman Allah Ta’ala: (Katakanlah dengan karunia Allah), Ibnu Abbas berkata: “(Maksudnya) adalah Al-Qur’an.” Dan mengenai firman-Nya: (dan dengan rahmat-Nya), beliau berkata: “(Maksudnya) adalah Dia menjadikan kalian sebagai ahlinya (Ahli Qur’an).” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam dalam Fadhailul Qur’an)
Penjelasan Ibnu Abbas ini membuka mata hati kita. Karunia (Fadhl) terbesar yang Allah anugerahkan kepada semesta alam ini tiada lain adalah Al-Qur’an itu sendiri. Ia bukan sekadar buku, melainkan cahaya yang membelah kegelapan, petunjuk yang meluruskan kebengkokan, dan obat (syifa) bagi segala penyakit jiwa yang bersemayam di dalam dada. Inilah anugerah yang nilainya melampaui seluruh isi dunia yang kita kumpulkan.
Dijadikan Ahlinya Adalah Puncak Rahmat-Nya
Jika Al-Qur’an adalah karunia-Nya, lantas apa wujud rahmat-Nya? Ibnu Abbas melanjutkan dengan kalimat yang menggetarkan: “Dia menjadikan kalian sebagai ahlinya.” Subhanallah. Inilah titik renungan kita yang paling dalam.
Rahmat Allah yang sesungguhnya bukanlah sekadar diturunkannya Al-Qur’an, melainkan ketika hati kita dipilih oleh-Nya untuk terpaut pada Al-Qur’an. Rahmat itu adalah ketika lisan kita dimudahkan untuk melantunkannya, akal kita dibimbing untuk memahaminya, dan jiwa kita digerakkan untuk mengamalkannya. Menjadi Ahlul Qur’an—keluarga Al-Qur’an—adalah manifestasi tertinggi dari kasih sayang Allah kepada seorang hamba. Inilah sesungguhnya karunia terbesar menjadi ahli Quran yang patut kita syukuri dan banggakan melebihi apapun.
Mengapa Ini Karunia Terbesar Menjadi Ahli Quran?
Mari kita satukan kedua makna ini. Allah memberikan karunia berupa Al-Qur’an. Namun, tidak semua orang menyambut karunia itu. Banyak yang mendengarnya, tetapi telinganya seolah tersumbat. Banyak yang melihatnya, tetapi matanya seolah tertutup. Di sinilah letak rahmat-Nya yang istimewa.
Ketika kita merasakan getaran di hati untuk membuka mushaf, kerinduan untuk menghafal ayat-ayat-Nya, dan ketenangan saat mendengarkannya, itu bukanlah semata-mata kekuatan kita. Itu adalah rahmat-Nya yang sedang menyapa dan menarik kita untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya. Itulah mengapa karunia terbesar menjadi ahli Quran menjadi lebih baik dari apapun yang dikumpulkan manusia. Harta bisa lenyap, jabatan bisa berakhir, tetapi status sebagai Ahlul Qur’an akan menjadi syafaat dan kemuliaan abadi hingga di yaumil akhir kelak.
Maka, bergembiralah. Jika hari ini kita sedang berjuang menghafal, muraja’ah, atau sekadar belajar membaca dengan terbata-bata, berbahagialah! Sebab, kita sedang menyelami lautan karunia dan rahmat-Nya. Perjuangan inilah wujud nyata bahwa Allah telah memilih kita. Jangan pernah merasa lelah, karena jalan ini adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Inilah bukti cinta-Nya, inilah anugerah yang tak ternilai, sebuah karunia terbesar menjadi ahli Quran.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surat Yunus: 58.
- Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. (Cet. Dar Ibn Katsir, 1995 M/1415 H).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

