Pernahkah kita merasakan satu kerinduan yang begitu dalam, sebuah hasrat untuk mendekat kepada Dzat yang paling kita cintai? Kita mungkin mencoba berbagai cara, menempuh banyak jalan, berharap setiap langkah membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Namun, seringkali kita bertanya, di antara semua jalan itu, manakah yang paling lurus dan paling disukai oleh-Nya? Ada sebuah wasiat abadi yang menyingkap rahasia ini, sebuah petunjuk tentang cara mendekat kepada Allah yang paling dicintai.

Wasiat ini datang bukan dari sembarang orang, melainkan dari lisan mulia seorang sahabat Nabi, Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu ‘anhu. Melalui tetangganya, Farwah bin Naufal, sebuah pesan menyentuh hati diabadikan dalam kitab agung “Fadha’il Al-Qur’an” karya Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Pesan yang seolah menjadi kompas bagi setiap jiwa yang merindukan Rabb-nya.

يَا هَنَاهْ، تَقَرَّبْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مَا اسْتَطَعْتَ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَسْتَ تَتَقَرَّبُ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ هُوَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ كَلَامِهِ

“Wahai anakku (panggilan kasih sayang), mendekatlah kepada Allah Ta’ala semampumu. Dan ketahuilah, sesungguhnya engkau tidak akan pernah bisa mendekat kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih Ia cintai daripada Kalam-Nya (Al-Qur’an).” (Atsar riwayat Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il Al-Qur’an)

Amalan yang Lahir dari Cinta-Nya

Mari kita renungi kalimat indah ini sejenak. “Engkau tidak akan pernah bisa mendekat kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih Ia cintai daripada Kalam-Nya.” Mengapa demikian? Karena Al-Qur’an bukanlah sekadar buku. Ia adalah Kalamullah, firman-Nya, untaian kata-kata yang berasal langsung dari Dzat Yang Maha Agung. Saat kita membacanya, kita sedang menyimak pesan cinta-Nya. Saat kita merenunginya, kita sedang menyelami kedalaman ilmu dan kasih-Nya.

Bayangkan kita menerima surat dari orang yang sangat kita kasihi. Tidakkah kita akan membacanya berulang kali? Tidakkah kita akan mencoba memahami setiap katanya? Begitulah seharusnya interaksi kita dengan Al-Qur’an. Ia adalah surat cinta terpanjang dari Allah untuk kita, hamba-Nya. Maka, berinteraksi dengannya adalah cara mendekat kepada Allah yang paling dicintai, karena kita menggunakan media yang paling Ia cintai: firman-Nya sendiri.

“Mendekatlah Semampumu”: Sebuah Pelukan Kasih

Bagian lain dari wasiat ini yang tak kalah menyentuh adalah frasa “taqarrab… mā istaṭa’ta” (mendekatlah semampumu). Kalimat ini adalah sebuah oase di tengah padang pasir kelemahan kita sebagai manusia. Seringkali, kita merasa tidak pantas atau terbebani dengan target-target ibadah yang tinggi. Namun, pesan ini melegakan jiwa.

Allah tidak menuntut kesempurnaan, tetapi Ia menghargai kesungguhan. “Semampumu” berarti mulailah dari apa yang kita bisa. Mungkin satu ayat per hari. Mungkin satu halaman. Mungkin hanya mendengarkan murottal dalam perjalanan. Apapun itu, sekecil apapun usaha kita untuk mendekat melalui Kalam-Nya, itu adalah langkah yang sangat berharga di sisi-Nya. Konsistensi dalam membersamai Al-Qur’an, meski sedikit, adalah kunci untuk membuka pintu kedekatan dengan-Nya.

Wujud Nyata Mendekat dengan Al-Qur’an

Mendekatkan diri pada Allah melalui Kalam-Nya memiliki banyak dimensi. Ini adalah sebuah perjalanan yang indah, yang setiap tahapnya menambah kedekatan kita kepada Sang Pencipta. Perjalanan ini meliputi:

  • Tilawah (Membaca): Menyambungkan lisan kita dengan firman-Nya, meraih pahala dari setiap huruf yang terucap.
  • Tadabbur (Merenungi): Menyambungkan akal dan hati kita dengan makna-maknanya, menemukan petunjuk dan ketenangan.
  • Tahfizh (Menghafal): Mematrikan Kalam-Nya di dalam dada, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari diri kita.
  • Al-‘Amal (Mengamalkan): Menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup, cerminan dalam akhlak dan setiap keputusan.

Setiap langkah ini adalah bagian dari proses agung menemukan cara mendekat kepada Allah yang paling dicintai. Ini adalah perjalanan seumur hidup, sebuah dialog tanpa henti antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Mulailah Dialog Terindah Itu Hari Ini

Wasiat Khabbab bin Al-Aratt adalah pengingat bagi kita semua. Di tengah kesibukan dunia, jangan sampai kita kehilangan arah. Jalan pulang, jalan untuk mendekat kepada Allah, telah terbentang jelas di hadapan kita, yaitu melalui Kalam-Nya.

Mari kita buka kembali mushaf kita, bukan sebagai rutinitas, tetapi sebagai upaya tulus untuk menyapa-Nya. Mari kita jadikan setiap ayat yang kita baca, kita hafal, dan kita renungi sebagai wasilah terindah untuk meraih cinta dan kedekatan dengan-Nya. Karena sungguh, tiada jalan yang lebih indah dan lebih dicintai-Nya selain jalan kembali melalui firman-Nya sendiri.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadha’il Al-Qur’an. Dar Ibnu Katsir.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,