Kala Tilawah Lebih Utama dari Puasa Sunnah
Ada kalanya hati kita dihadapkan pada persimpangan ibadah. Di satu sisi, ada amalan yang tampak agung di mata manusia. Di sisi lain, ada amalan yang mungkin tak terlihat, namun getarannya menyentuh langsung ke relung jiwa terdalam. Pilihan di antara keduanya bukanlah tentang mana yang benar dan salah, melainkan tentang mana yang lebih menghidupkan ruhani kita, mana yang menjadi detak jantung cinta kita kepada-Nya.
Kisah agung dari seorang sahabat yang paling memahami Al-Qur’an setelah Rasulullah ﷺ, Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, memberikan kita sebuah cermin untuk berkaca. Beliau, dengan kedalaman ilmunya, mengajarkan sebuah kebijaksanaan tentang prioritas membaca Al-Qur’an yang melampaui rutinitas ibadah semata. Mari kita resapi hikmah dari atsar berikut:
قِيلَ لِعَبْدِ اللَّهِ: إِنَّكَ لَتُقِلُّ الصَّوْمَ؟ قَالَ: «إِنَّهُ يُضْعِفُنِي عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ»
Dikatakan kepada Abdullah (ibn Mas’ud), “Sungguh, engkau sangat jarang berpuasa?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya puasa melemahkanku dari membaca Al-Qur’an, dan membaca Al-Qur’an lebih aku cintai daripadanya (puasa sunnah).” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il al-Qur’an)
Fiqh Cinta dan Prioritas Ibadah
Jawaban Abdullah ibn Mas’ud bukanlah sebuah pembenaran untuk meremehkan ibadah puasa sunnah. Sama sekali bukan. Ini adalah pelajaran tingkat tinggi tentang fiqh al-awlawiyat, ilmu tentang prioritas yang lahir dari kedalaman cinta. Beliau memahami betul kondisi fisiknya. Baginya, energi yang terbatas adalah amanah yang harus dialokasikan untuk amalan yang paling dicintainya dan paling mendekatkannya kepada Allah: interaksi bersama Al-Qur’an.
Puasa sunnah memang mulia, namun jika ia menjadi sebab lemahnya lisan untuk bertilawah, lesunya akal untuk mentadabburi, maka menepi sejenak darinya demi menjaga kualitas interaksi dengan Kalamullah menjadi sebuah pilihan yang bijaksana. Ini menunjukkan bahwa prioritas membaca Al-Qur’an bagi beliau bukanlah sekadar amalan, melainkan sebuah kebutuhan jiwa yang tak tergantikan.
Menemukan “Amalan Hati” Kita
Setiap dari kita memiliki “pintu” ibadah yang paling mudah membuka getaran hati. Ada yang hatinya lapang saat bersedekah, ada yang jiwanya tenang dalam sujud-sujud panjang di malam hari, dan ada pula yang seperti Ibnu Mas’ud, menemukan puncak kenikmatan ruhani saat lisan dan hatinya menyatu dengan ayat-ayat suci.
Pesan dari kisah ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: “Amalan apakah yang paling menghidupkan hatiku? Ibadah apakah yang jika aku tinggalkan, terasa ada kekosongan yang besar dalam jiwaku?” Jika jawabannya adalah Al-Qur’an, maka kita telah menemukan sebuah permata. Menjadikan prioritas membaca Al-Qur’an berarti kita merawat permata itu agar kilaunya tak pernah padam, bahkan jika harus mengelola ibadah sunnah lainnya agar ia tetap bersinar terang.
Kualitas Interaksi di Atas Segalanya
Abdullah ibn Mas’ud tidak ingin membaca Al-Qur’an dalam kondisi lemah dan tidak fokus. Beliau menginginkan kualitas interaksi terbaik. Beliau ingin setiap huruf yang diucap, setiap ayat yang direnungi, dilakukan dengan energi dan kesadaran penuh. Ini adalah pelajaran berharga di zaman ketika kuantitas seringkali lebih dipuja daripada kualitas.
Memilih untuk tidak berpuasa demi menjaga stamina tilawah adalah bukti bahwa bagi beliau, Al-Qur’an bukanlah sekadar bacaan, melainkan dialog agung bersama Sang Pencipta. Dialog ini menuntut kehadiran hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan fisik yang prima. Sungguh, sebuah teladan luar biasa dalam memuliakan Kalamullah dan menjadikan prioritas membaca Al-Qur’an sebagai napas kehidupan.
Semoga Allah menganugerahkan kita kecintaan terhadap Al-Qur’an sebagaimana yang dirasakan oleh para sahabat mulia. Semoga kita pun dimampukan untuk mengenali dan menata prioritas ibadah kita, sehingga setiap amal yang kita lakukan benar-benar lahir dari pemahaman dan cinta yang mendalam, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.
Daftar Referensi
- Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadha’il al-Qur’an. Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk. Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1995.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

