Dalam riuh rendahnya kehidupan modern, seringkali kita tergoda oleh kilau keuntungan instan dan kemudahan finansial yang ditawarkan. Namun, sebagai insan beriman, kita diamanahi sebuah peta jalan yang terang dari Sang Pencipta, yang tak hanya menuntun pada keberkahan materi, tetapi juga ketenteraman jiwa. Salah satu rambu peringatan yang amat tegas dalam peta tersebut adalah larangan terhadap riba. Bukan sekadar aturan ekonomi semata, riba adalah gerbang menuju kegoncangan jiwa yang dampaknya melampaui batas dunia fana, bahkan hingga kepada hukuman pemakan riba di hari kiamat yang amat mengerikan.
Mari kita selami lebih dalam sebuah gambaran yang diabadikan dari perkataan sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud, sebuah cermin yang merefleksikan hakikat batin para pelaku riba di hadapan Allah:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sebuah deskripsi yang sarat makna. Mereka yang mengonsumsi riba tidak akan bangkit (dari kubur) kecuali seperti bangkitnya orang yang kesurupan setan karena penyakit gila pada hari kiamat. Ini adalah visualisasi sebuah kehinaan, kegelisahan, dan hilangnya kendali diri yang ekstrem, bukan sekadar siksaan fisik, melainkan penjelmaan dari kekacauan spiritual yang mereka pilih di dunia.
Riba: Ketika Keberkahan Terenggut, Jiwa Merana
Mengapa riba digambarkan dengan sedemikian rupa? Karena pada dasarnya, riba adalah tindakan eksploitatif yang merobek jalinan kasih sayang dan keadilan dalam masyarakat. Ia menumbuhkan keserakahan, menumpulkan empati, dan menjadikan harta sebagai tujuan akhir, melupakan bahwa segala rezeki berasal dari Allah dan harus diperoleh dengan cara yang diridai-Nya. Keuntungan yang didapat dari riba, seolah-olah ‘melukai’ keberkahan dan meracuni jiwa pelakunya secara perlahan.
Keterikatan Jiwa dengan Duniawi yang Semu
Orang yang terjerumus dalam riba seringkali mengalami keterikatan yang kuat pada keuntungan materi. Mereka merasa bahwa kekayaan adalah tolok ukur kesuksesan, bahkan jika itu harus dicapai dengan cara yang haram. Keterikatan ini membuat jiwa mereka gersang dari nilai-nilai spiritual, jauh dari ketenangan hakiki yang hanya bisa didapat dengan mendekatkan diri kepada Allah. Kondisi “kesurupan setan” di akhirat adalah manifestasi dari kegoncangan jiwa yang telah lama mereka rasakan di dunia, sebuah keadaan tanpa kedamaian, meskipun mungkin dikelilingi harta melimpah.
Ancaman Ilahi: Perang Melawan Kezaliman Riba
Allah SWT telah dengan tegas mengharamkan riba dan menyatakan perang terhadapnya. Ini bukan ancaman main-main, melainkan bentuk perlindungan bagi hamba-Nya dari kezaliman yang bisa ditimbulkannya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ۚ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279). Ayat ini adalah peringatan keras yang tak bisa dianggap enteng. Bagaimana mungkin kita bisa menang dalam perang melawan Allah dan Rasul-Nya? Renungan ini harusnya cukup untuk menyadarkan kita dari bahaya riba dan hukuman pemakan riba di hari kiamat.
Membayangkan Kengerian Hukuman Pemakan Riba di Hari Kiamat
Gambaran orang yang bangkit dalam keadaan “dikoyak setan” pada hari kiamat adalah sebuah visualisasi penderitaan batin yang luar biasa. Di hari itu, ketika setiap jiwa mendambakan ketenangan dan cahaya, para pemakan riba justru muncul dalam kondisi paling memalukan dan mengerikan. Mereka tidak hanya menderita secara fisik, tetapi juga secara mental dan spiritual. Ini adalah aib yang dipertontonkan di hadapan seluruh makhluk, sebuah konsekuensi nyata dari perbuatan mereka di dunia.
Hilangnya Martabat dan Kendali Diri
Kondisi seperti orang gila atau kesurupan mencerminkan hilangnya martabat dan kendali diri. Di dunia, mereka mungkin merasa berkuasa dengan harta riba, namun di akhirat, mereka adalah hamba yang paling rendah, kehilangan akal sehat dan arah. Gambaran ini sungguh menusuk kalbu, mengingatkan kita betapa berharganya kehormatan dan martabat di sisi Allah. Tidak ada harta dunia yang sebanding dengan kehilangan kehormatan di hari pembalasan.
Peringatan untuk Mengubah Arah
Peringatan tentang hukuman pemakan riba di hari kiamat ini bukanlah untuk menakut-nakuti tanpa tujuan, melainkan untuk membangkitkan kesadaran dan memotivasi kita untuk melakukan perubahan. Ini adalah seruan agar kita memeriksa kembali sumber-sumber penghasilan kita, memastikan bahwa setiap rezeki yang masuk ke dalam tubuh dan keluarga kita adalah dari jalan yang halal dan berkah. Kekayaan yang didapat dari riba, meskipun tampak banyak, sejatinya kosong dari keberkahan dan hanya akan membawa kesengsaraan.
Jalan Keluar: Menuju Kehidupan yang Halal dan Berkah
Menghindari riba mungkin terasa seperti berenang melawan arus di lautan ekonomi modern. Namun, Allah tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Ada banyak jalan keluar dan alternatif halal yang telah disediakan dalam syariat Islam, asalkan kita mau mencari, belajar, dan bertekad kuat.
Memperdalam Ilmu Ekonomi Syariah
Langkah pertama adalah memperdalam pemahaman kita tentang ekonomi syariah. Ini bukan hanya tentang menghindari yang haram, tetapi juga memahami filosofi di baliknya: keadilan, kemitraan, dan pertanggungjawaban sosial. Produk-produk keuangan syariah, seperti murabahah (jual beli), ijarah (sewa), mudharabah (bagi hasil), dan musyarakah (usaha patungan), menawarkan solusi yang sesuai syariat dan tetap mampu memenuhi kebutuhan finansial kita. Dengan ilmu, kita akan lebih yakin dan mantap dalam melangkah.
Memohon Kekuatan dan Keistiqamahan kepada Allah
Perjalanan menjauhi riba membutuhkan kekuatan batin dan keistiqamahan. Ada saatnya kita merasa terdesak, ada saatnya godaan datang menghampiri. Di sinilah peran doa dan tawakal kepada Allah menjadi sangat penting. Mintalah kepada-Nya agar diberi petunjuk, kekuatan, dan kesabaran untuk tetap berada di jalan yang halal. Ingatlah, bahwa keberkahan sejati bukan pada banyaknya harta, melainkan pada ketenangan hati dan ridha Allah SWT.
Mari kita renungkan kembali Hadits Ibnu Mas’ud ini sebagai pengingat abadi. Jangan sampai jiwa kita tergoncang di hadapan Allah karena pilihan-pilihan finansial yang keliru di dunia. Pilihlah jalan yang halal, meskipun terasa lebih berliku, karena di sana terhampar ketenangan jiwa dan jaminan keselamatan dari hukuman pemakan riba di hari kiamat yang mengerikan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Hadits Riwayat dari Ibnu Mas’ud, tentang gambaran pemakan riba di hari kiamat (sanad: Abu Al-Yaman, dari Abu Bakr bin Abdullah bin Abi Maryam, dari Dhamrah bin Habib, dari seorang anak Abdullah bin Mas’ud, dari Ibnu Mas’ud).
- Q.S. Al-Baqarah: 278-279
