Getaran Hati yang Hilang
Ada kalanya kita begitu tekun menimba ilmu, membaca ayat demi ayat, menelaah hadits demi hadits. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: ke manakah perginya semua pengetahuan itu? Mengapa hati terasa biasa saja, kering, dan tak kunjung bergetar saat menyentuh firman-Nya?
Mungkin kita merasa sudah cukup banyak tahu, tetapi ada sebuah kekosongan yang terasa. Para salafus shalih telah memberikan kita sebuah cermin untuk berkaca, sebuah parameter untuk mengukur sejauh mana ilmu telah meresap ke dalam jiwa, bukan sekadar singgah di kepala. Ini adalah tentang sebuah tangisan; tangisan kesadaran sebelum terlambat.
Meratapi Diri Sebelum Hari Kiamat Tiba
Dalam sebuah riwayat yang menembus kalbu, kita diajak untuk merenungi sebuah peristiwa yang disaksikan oleh Ka’ab al-Ahbar, seorang tabi’in yang bijaksana. Beliau mendengar seseorang larut dalam bacaan Qur’an, doa, atau tangisannya, lalu beliau berlalu sambil menggumamkan kalimat yang menusuk jiwa.
وَاهًا لِلْنَوَّاحِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Alangkah baiknya (atau celakanya) bagi orang-orang yang meratapi diri mereka sendiri sebelum datangnya hari Kiamat.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Pesan ini begitu dalam. Tangisan yang didengar Ka’ab bukanlah tangisan cengeng, melainkan sebuah “ratapan produktif”. Itu adalah tangisan kesadaran, pengakuan atas segala alpa dan dosa di hadapan keagungan Allah. Beliau seolah berkata, inilah tangisan yang seharusnya, tangisan yang lahir dari muhasabah, yang dilakukan di dunia saat pintu taubat masih terbuka lebar. Sebab, meratap di akhirat kelak tiada lagi gunanya. Inilah tangisan yang lahir dari ilmu tentang siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
Ketika Ilmu Tak Membuat Menangis, Apa Manfaatnya?
Lalu, bagaimana jika ilmu yang kita miliki justru membuat hati semakin keras dan mata semakin kering? Abdul A’la at-Taimi memberikan sebuah kaidah emas yang seharusnya menjadi barometer bagi setiap penuntut ilmu. Sebuah standar yang membedakan antara ilmu yang bermanfaat dengan tumpukan informasi yang sia-sia.
مَنْ أُوتِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَا يُبْكِيهِ فَلَيْسَ بِخَلِيقٍ أَنْ يَكُونَ أُوتِيَ عِلْمًا يَنْفَعُهُ
“Barangsiapa yang diberi ilmu yang tidak membuatnya menangis, maka sesungguhnya ia tidak layak untuk disebut telah diberi ilmu yang bermanfaat.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Pernyataan ini menampar kita dengan lembut. Ternyata, tolok ukur ilmu yang bermanfaat bukanlah pada banyaknya hafalan atau luasnya wawasan, melainkan pada dampaknya terhadap hati. Hati yang tersentuh, jiwa yang bergetar, dan air mata yang menetes karena takut dan cinta kepada Allah. Ketika kita memiliki ilmu yang tidak membuat menangis, bisa jadi ada yang salah dengan cara kita belajar atau niat di dalam hati kita.
Abdul A’la tidak berhenti di situ. Beliau menyandarkan argumennya pada firman Allah Ta’ala yang menggambarkan potret para ulama sejati:
إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (Q.S. Al-Isra’: 107)
Lihatlah, betapa Allah memuji mereka yang ilmunya termanifestasi dalam bentuk ketundukan fisik (sujud) dan getaran emosional (tangisan). Inilah buah dari ilmu yang berkah. Sebuah ilmu yang tidak membuat menangis adalah ilmu yang mandul, yang berhenti di akal dan gagal meresap ke dalam ruh.
Sudahkah Hati Kita Melembut?
Mari kita tanyakan pada diri ini. Mengapa mata ini sulit basah saat nama-Nya disebut? Mengapa jiwa ini tak bergetar saat ayat-ayat-Nya dibacakan? Mungkin, ilmu kita baru sebatas di lisan, belum turun menyentuh dasar hati. Mungkin kita terlalu sibuk dengan kulit luar, dan lupa merawat isi.
Memiliki ilmu yang tidak membuat menangis adalah sebuah pertanda bahaya. Ia menandakan hati yang mulai membatu. Padahal, air mata yang jatuh karena Allah adalah pemadam api neraka, pelembut hati yang keras, dan penyubur taman keimanan. Jangan pernah meremehkan tangisan seorang hamba di keheningan malamnya; itu adalah bukti terindahnya ilmu yang bermanfaat.
Maka, tujuan kita dalam belajar bukanlah sekadar untuk tahu, melainkan untuk takut (khasyah). Bukan sekadar untuk hafal, melainkan untuk tunduk. Inilah saatnya kita kembali menata niat, mendekat pada Al-Qur’an bukan hanya untuk membacanya, tetapi untuk merasakannya, hingga setiap sel dalam tubuh kita ikut bergetar dan bersujud.
Semoga Allah menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat, yang melembutkan hati, membasahi mata, dan mendekatkan kita pada-Nya. Karena sungguh, ilmu yang tidak membuat menangis adalah sebuah kerugian yang teramat besar.
Mungkin, inilah saatnya kita kembali mendekat pada Al-Qur’an secara lebih mendalam, tidak hanya untuk membacanya, tetapi untuk merasakannya, menyerap cahayanya hingga ia menjadi penuntun bagi hati yang gersang. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kita belajar bersama untuk menemukan kembali getaran itu, menggapai pemahaman yang melahirkan tangisan kerinduan pada-Nya.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Isra’: 107.
- Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, Fadhailul Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


