Setiap dari kita mendambakan kehormatan. Sebuah kedudukan mulia yang membuat diri kita bernilai, tidak hanya di mata manusia, tetapi terlebih lagi di hadapan Sang Pencipta. Namun, sering kali kita keliru memaknai dari mana sumber kemuliaan itu berasal. Apakah dari garis keturunan, status sosial, atau limpahan harta? Hakikatnya, kemuliaan sejati adalah buah dari ketakwaan, yang salah satu wujud terbesarnya adalah kemampuan untuk menjauhi perbuatan tercela menurut syariat. Sebuah noda kecil akan terlihat jauh lebih jelas di atas kain putih bersih dibandingkan di atas kain yang sudah kusam. Begitulah perumpamaan perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang-orang yang dipandang terhormat di tengah masyarakat.
Cermin Kehormatan: Tanggung Jawab yang Lebih Besar
Sebuah keburukan, sekecil apa pun, akan menjadi jauh lebih buruk jika datang dari pribadi yang semestinya menjadi teladan. Inilah esensi dari nasihat agung Sayyidina Abbas radhiyallahu ‘anhu kepada putranya, Abdullah, seorang ‘alim umat ini. Beliau berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya kebohongan tidaklah lebih buruk bagi seorang pun di umat ini daripada jika ia datang dariku, darimu, dan dari keluargamu.”
Pesan ini menembus zaman, mengajarkan kita sebuah prinsip fundamental: semakin tinggi kedudukan seseorang—baik karena ilmu, nasab, maupun amanah—semakin besar pula tuntutan untuk menjaga integritas. Sebuah kebohongan dari seorang panutan tidak hanya mencoreng dirinya sendiri, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan dan menodai citra kebaikan yang ia representasikan. Nasihat ini dilanjutkan dengan sebuah wasiat yang menjadi fondasi kehidupan seorang mukmin: “Janganlah ada sesuatu pun dari ciptaan Allah yang lebih engkau cintai daripada ketaatan kepada-Nya, dan tidak ada yang lebih engkau benci daripada kemaksiatan kepada-Nya.”
Kompas Hati: Antara Iman dan Hawa Nafsu
Perjalanan hidup kita adalah medan pertempuran abadi antara dua kekuatan yang saling menarik di dalam jiwa: panggilan iman dan bisikan hawa nafsu. Kemenangan dalam pertempuran inilah yang menentukan kualitas keimanan dan keselamatan kita di akhirat. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah memberikan kita kompas yang sangat jelas untuk menavigasi pertarungan ini.
Mengapa Penting Menjauhi Perbuatan Tercela Menurut Syariat?
Beliau berkata, “Seseorang tidak akan menyempurnakan hakikat iman sampai ia lebih mendahulukan agamanya di atas syahwatnya.” Pernyataan ini adalah definisi praktis dari kesempurnaan iman. Iman bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan sebuah pilihan sadar yang kita buat setiap saat. Ketika dihadapkan pada pilihan antara yang diridhai Allah dan yang diinginkan nafsu, ke arah mana hati kita condong? Di situlah letak ujian keimanan kita. Proses menjauhi perbuatan tercela menurut syariat adalah latihan terus-menerus untuk memenangkan agama atas syahwat, memenangkan panggilan Allah atas keinginan sesaat.
Jalan Keselamatan: Konsekuensi Memilih Hawa Nafsu
Sebaliknya, Sayyidina Ali juga memberikan peringatan keras, “Dan seseorang tidak akan celaka sampai ia lebih mendahulukan syahwatnya di atas agamanya.” Inilah titik awal dari segala kebinasaan. Ketika logika dibalik, ketika standar benar dan salah digeser demi pemenuhan hasrat, maka pintu kehancuran telah terbuka lebar. Allah SWT berfirman, mengingatkan kita agar tidak mengikuti orang-orang yang telah kalah dalam pertempuran ini:
…وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Terjemahan: “…dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melewati batas.” (Q.S. Al-Kahf: 28)
Maka, jalan keselamatan (as-salamah) terbentang bagi mereka yang teguh memegang prinsip. Sebagaimana kata Sayyidina Ali, “Barang siapa melazimi istiqamah, maka keselamatan akan melaziminya.” Istiqamah dalam ketaatan adalah benteng terkuat untuk menjauhi perbuatan tercela menurut syariat.
Puncak Nasihat: Taqwa sebagai Fondasi Utama
Semua nasihat agung ini, baik dari Sayyidina Abbas maupun Sayyidina Ali, bermuara pada satu wasiat paripurna yang diwariskan oleh Rasulullah صلى الله عليه وعلى آله وسلم kepada keluarga dan seluruh umatnya: bertakwa kepada Allah dan melazimi ketaatan kepada-Nya. Takwa adalah kesadaran penuh akan pengawasan Allah yang mendorong kita untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam kesendirian maupun di tengah keramaian. Takwa adalah energi yang membuat kita mampu mendahulukan agama di atas hawa nafsu. Inilah fondasi utama untuk menjauhi perbuatan tercela menurut syariat dan meraih kemuliaan hakiki.
Allah SWT menyeru kita semua untuk membekali diri dengan takwa sebagai persiapan menuju hari akhir:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Terjemahan: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hashr: 18)
Refleksi Diri: Kekhawatiran Orang-Orang Saleh
Sebagai penutup perenungan kita, mari kita resapi ucapan Al-Hasan Al-Mutsanna ‘alaihissalam, “Dan sesungguhnya aku khawatir jika (siksaan) bagi pelaku maksiat (dari kalangan kami) dilipatgandakan.” Ucapan ini bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan puncak dari kesadaran dan rasa tanggung jawab. Ketika seseorang menyadari besarnya nikmat Allah yang ia terima—baik berupa ilmu, nasab yang mulia, atau pemahaman agama—maka rasa takutnya kepada Allah pun semakin besar. Ia khawatir jika maksiat yang dilakukannya akan dinilai lebih berat karena ia semestinya lebih tahu dan lebih mampu untuk menjauhinya.
Semoga kekhawatiran para salafus shalih ini menular kepada kita, menjadi pengingat untuk tidak pernah merasa aman dari tipu daya nafsu. Semoga kita dimampukan untuk senantiasa berjuang dalam menjauhi perbuatan tercela menurut syariat, sehingga kita layak menyandang predikat kemuliaan sejati di sisi-Nya.
Pada akhirnya, menjaga diri dari perbuatan tercela adalah cermin dari keimanan yang hidup. Ia adalah perjalanan seumur hidup yang membutuhkan bimbingan, lingkungan yang mendukung, dan komitmen yang tak pernah padam. Ini adalah jalan untuk meraih keselamatan dan kemuliaan abadi.
Jika Anda merasakan panggilan untuk memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an, menjadikannya sebagai kompas utama dalam menavigasi kehidupan dan benteng dari segala perbuatan tercela, kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi rekan perjalanan Anda. Mari bersama-sama kita hidupkan cahaya Al-Qur’an dalam setiap langkah kita.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Kahf: 28.
- Al-Qur’an, Surah Al-Hashr: 18.
- Al-Yumani, Al-Husain bin Al-Mansur Billah. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta’allimīn.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


