Dalam bentangan luas perjalanan spiritual kita, ada sebuah kerinduan yang mendalam untuk meraih kedekatan sejati dengan Sang Pencipta. Setiap sujud, setiap untaian doa, setiap langkah menuju kebaikan, adalah manifestasi dari hasrat tersebut. Namun, seringkali, semangat yang membara ini dapat terdistorsi jika tidak dibarengi dengan pemahaman yang kokoh tentang bagaimana cara beribadah yang benar dan diterima. Di sinilah urgensi untuk menghindari amalan bid’ah yang tidak sesuai ajaran Nabi menjadi krusial, sebuah prinsip fundamental yang akan menjaga kemurnian niat dan amal kita dari segala bentuk penyimpangan.

Pernahkah kita merenung, mengapa Rasulullah ﷺ, sang teladan agung, begitu menekankan pentingnya mengikuti jejaknya? Bukan sekadar tentang mengikuti, melainkan tentang menjaga otentisitas ajaran yang beliau bawa. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama ini melalui beliau, tanpa celah sedikit pun untuk penambahan atau pengurangan. Justru, upaya untuk “memperindah” atau “menyempurnakan” sesuatu yang sudah sempurna, seringkali berakhir pada praktik yang tidak diakui dalam syariat.

Mari kita selami lebih dalam sebuah sabda mulia yang menjadi fondasi dalam memahami perkara ini. Dari Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada perintah kami kepadanya, maka ia tertolak.”

Memahami Prinsip “Raddun”: Amalan yang Tertolak

Dua riwayat hadits ini memberikan pemahaman yang sangat mendasar tentang prinsip “raddun”, yaitu tertolaknya suatu amalan. Kalimat “mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya” secara jelas merujuk pada praktik bid’ah. Bid’ah adalah inovasi atau hal baru dalam agama yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Ini bisa berupa menambah amalan, mengubah tata cara yang sudah ada, atau menetapkan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh beliau.

Lalu, apa makna “tertolak” itu? Artinya, amal tersebut tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan bisa jadi mendatangkan dosa. Ini adalah sebuah kerugian besar bagi seorang hamba yang telah mengerahkan waktu, tenaga, bahkan hartanya, namun amalannya tidak bernilai di sisi Allah. Oleh karena itu, kesadaran untuk menghindari amalan bid’ah yang tidak sesuai ajaran Nabi haruslah tertanam kuat dalam diri setiap Muslim, sebagai bentuk menjaga kualitas dan kuantitas ibadah yang kita persembahkan.

Dimensi Praktis Menghindari Amalan Bid’ah

Seringkali, bid’ah muncul dari niat yang baik, seperti ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah, ingin berbuat lebih banyak, atau ingin menampakkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Namun, niat baik saja tidak cukup. Dalam Islam, setiap amalan harus memenuhi dua syarat utama agar diterima: ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Niat baik yang tidak dibarengi dengan kesesuaian syariat justru dapat menjerumuskan kita pada apa yang Rasulullah ﷺ peringatkan.

Kita perlu memahami bahwa ajaran Islam adalah sebuah kesatuan yang sempurna, bagaikan bangunan kokoh yang setiap batanya telah terpasang rapi. Menambah atau mengubahnya sama dengan merusak bangunan tersebut. Contoh praktisnya bisa beragam, dari ritual keagamaan yang tidak ada dasarnya, tata cara zikir yang baru, hingga perayaan-perayaan tertentu yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat.

Untuk menghindari amalan bid’ah yang tidak sesuai ajaran Nabi, kita memerlukan ilmu. Ilmu adalah pelita yang menerangi jalan, membimbing kita untuk membedakan mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Tanpa ilmu, kita mudah terseret arus tradisi atau pemahaman yang keliru, yang pada akhirnya menjauhkan kita dari hakikat ibadah yang benar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)

Ayat ini menegaskan bahwa kunci meraih cinta Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah ﷺ. Mengikuti beliau berarti menjalankan apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan apa yang beliau larang, termasuk dalam hal beribadah. Ini adalah manifestasi cinta sejati, bukan hanya klaim semata. Dengan mengikuti jejaknya, kita tidak hanya dijauhkan dari bid’ah, tetapi juga dijanjikan ampunan dan cinta dari Allah.

Membangun Kesadaran dan Keteladanan

Membangun kesadaran dalam diri dan keluarga tentang pentingnya menghindari amalan bid’ah yang tidak sesuai ajaran Nabi adalah sebuah perjalanan yang memerlukan ketekunan. Ini dimulai dari keinginan yang tulus untuk belajar agama dari sumber yang otentik, yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Mencari ilmu syar’i, menghadiri majelis ilmu, serta berguru kepada para ulama yang memahami manhaj (metode) beragama yang benar, adalah langkah-langkah konkret yang harus kita tempuh.

Kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita. Dengan menunjukkan konsistensi dalam menjalankan ibadah sesuai Sunnah, kita secara tidak langsung turut mendakwahkan kebenaran. Ini bukan tentang menghakimi atau merendahkan orang lain, melainkan tentang berbagi ilmu dan mengajak kepada jalan yang lurus dengan penuh hikmah dan kelembutan.

Pada akhirnya, keindahan Islam terletak pada kesederhanaan dan kemurnian ajarannya. Kita tidak memerlukan tambahan atau inovasi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Cukuplah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, karena di dalamnya terdapat segala kebaikan dan keberkahan. Marilah kita terus berupaya menjaga kemurnian agama ini, dengan senantiasa berpegang teguh pada tuntunan Nabi ﷺ dan menjauhkan diri dari segala bentuk bid’ah. Semoga Allah menerima setiap amal ibadah kita.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • H.R. Bukhari No. 2697
  • H.R. Muslim No. 1718/17
  • H.R. Muslim No. 1718/18
  • Q.S. Ali ‘Imran: 31
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,