Jangan Jadikan Qur’an Bantal: Pesan Rasulullah ﷺ
Di sudut ruangan yang sunyi, mungkin tersimpan sebuah mushaf Al-Qur’an yang indah. Terbungkus sampul beludru, diletakkan di tempat tertinggi sebagai tanda penghormatan. Namun, kapan terakhir kali kita membukanya, bukan sekadar untuk mengusap debunya, melainkan untuk menyerap cahayanya? Fenomena ini menyentuh sebuah pesan mendalam dari Rasulullah ﷺ, sebuah peringatan agar kita tidak lalai. Inilah saatnya kita merenungi dengan tulus apa sejatinya makna jangan jadikan Al-Qur’an bantal dalam kehidupan kita.
Peringatan ini bukanlah sekadar kiasan tanpa bobot. Ia terekam dalam sebuah atsar berharga yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam dalam kitab monumentalnya, Fadha’il al-Qur’an.
يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، لَا تَوَسَّدُوا الْقُرْآنَ، وَاتْلُوهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَتَغَنَّوْهُ، وَتَقَنَّوْهُ، وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai Ahlul Qur’an, janganlah kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal. Bacalah ia dengan sebenar-benar bacaan di waktu malam dan siang. Jadikanlah ia sebagai kekayaanmu, milikilah ia sebagai hartamu, dan ingatlah (pelajari) apa yang ada di dalamnya, semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (Diriwayatkan dari Muhashir bin Habib)
Hadis ini, meskipun mursal, membawa untaian nasihat emas yang menampar kesadaran kita. Mari kita urai satu per satu wasiat agung ini.
Makna Jangan Jadikan Al-Qur’an Bantal (لَا تَوَسَّدُوا الْقُرْآنَ)
Frasa ini adalah inti dari peringatan Rasulullah ﷺ. Tentu, larangan ini bukanlah tentang fisik, seolah kita dilarang tidur berbantalkan mushaf. Maknanya jauh lebih dalam. Menjadikan Al-Qur’an bantal adalah kiasan untuk sikap ghaflah atau kelalaian. Ia adalah simbol dari:
- Sikap Pasif: Membiarkan Al-Qur’an hanya sebagai pajangan, ornamen spiritual, atau benda keramat yang hanya dibuka pada momen-momen tertentu. Ia ada, namun tak berinteraksi.
- Mengabaikan Petunjuk: Tidur di atas bantal adalah aktivitas istirahat, tidak berbuat apa-apa. Demikian pula orang yang “berbantalkan” Al-Qur’an, ia seolah tertidur lelap dari petunjuk, hukum, dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
- Meninggalkan Interaksi: Bantal adalah benda mati. Menjadikan Qur’an bantal berarti memperlakukannya seperti benda mati, bukan sebagai Kalamullah yang hidup dan relevan sepanjang masa. Memahami makna jangan jadikan Al-Qur’an bantal adalah langkah awal untuk menghidupkan kembali ruh interaksi kita dengan-Nya.
Obat Penawar: Tilawah Siang dan Malam
Segera setelah larangan itu, Rasulullah ﷺ memberikan solusinya: “…dan bacalah ia dengan sebenar-benar bacaan (haqqa tilawatih) di waktu malam dan siang.” Ini adalah antitesis dari kelalaian. Interaksi yang terus-menerus, menjadikannya bagian dari ritme harian kita, bukan beban musiman.
Haqqa tilawatih sendiri memiliki dimensi yang luas. Bukan sekadar melafalkan huruf Arab, melainkan memenuhinya haknya: membaca dengan tartil, memahami maknanya, merenungi (tadabbur) isinya, hingga puncaknya adalah mengamalkan ajarannya.
Qur’an Sebagai Kekayaan & Harta Sejati (تَغَنَّوْهُ وَتَقَنَّوْهُ)
Di sinilah keindahan nasihat ini mencapai puncaknya. Imam Abu ‘Ubaid memberikan penjelasan yang begitu menyentuh hati mengenai dua kata ini.
- Taghannawhu (تَغَنَّوْهُ): Beliau menjelaskan, “Jadikanlah ia kekayaanmu dari kemiskinan.” Artinya, Ahlul Qur’an adalah orang yang paling kaya. Hatinya merasa cukup dengan firman Allah. Ia tidak akan pernah merasa miskin atau rendah diri meski dunia tak dalam genggaman, sebab di dalam dadanya tersimpan harta karun yang tak ternilai.
- Taqannawhu (تَقَنَّوْهُ): Beliau melanjutkan, “Milikilah ia sebagaimana engkau memiliki harta.” Sebagaimana kita berjuang keras mencari, mengumpulkan, dan menjaga harta dunia, seharusnya semangat yang sama—bahkan lebih besar—kita kerahkan untuk “memiliki” Al-Qur’an. Menghafalkannya, memahaminya, dan menjaganya dalam jiwa kita.
Maka, pertanyaan reflektif bagi kita adalah: sudahkah kita memandang Al-Qur’an sebagai aset paling berharga yang melebihi portofolio investasi atau tabungan kita? Inilah esensi dari makna jangan jadikan Al-Qur’an bantal, yaitu mengubah perspektif dari objek pajangan menjadi aset kebahagiaan.
Kunci Keberuntungan Abadi
Sebagai penutup wasiat, Rasulullah ﷺ mengarahkan kita pada tujuan akhir: “…dan ingatlah (pelajari) apa yang ada di dalamnya, semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung (tuflihun).”
Keberuntungan (falah) yang dijanjikan bukanlah kesuksesan semu di mata manusia. Ia adalah kemenangan hakiki di dunia dan akhirat. Kunci untuk meraihnya adalah dengan mengingat—mempelajari, merenungi, dan mengaplikasikan—isi kandungan Al-Qur’an. Tanpa proses ini, tilawah dan hafalan kita menjadi ruh tanpa jasad.
Sahabat, pesan ini adalah cermin bagi kita semua. Sudah berapa lama Al-Qur’an menjadi “bantal” dalam hidup kita? Sudah saatnya kita membangunkannya, memeluknya, dan menjadikannya sebagai kekayaan sejati. Pemahaman yang utuh tentang makna jangan jadikan Al-Qur’an bantal menuntun kita pada satu kesimpulan: Al-Qur’an bukanlah warisan yang disimpan, melainkan panduan hidup yang harus diperjuangkan.
Jika hati kita terpanggil untuk menjawab seruan agung ini, inilah saatnya mengambil langkah nyata. Mari kita ubah Al-Qur’an dari sekadar “bantal” menjadi kompas yang memandu setiap langkah menuju keberuntungan abadi. Program Executive Tahfizh hadir untuk membersamai perjalanan Anda dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai harta terindah dalam hidup.
Daftar Referensi
- Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubaid. Fadha’il al-Qur’an. (Damaskus: Dar Ibn Kathir, 1995).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

