Saat manusia menempuh satu jalan dan Al-Qur’an jalan lain, di mana kita berdiri? Sebuah dialog kuno mengingatkan kita tentang janji agung untuk hidup dan mati bersama Al-Qur’an. Ini bukan sekadar pilihan, melainkan penegasan seluruh eksistensi: untuk siapa jantung kita berdenyut, dan ke mana arah pulang kita tuju. Di tengah arus zaman yang deras, pertanyaan ini menjadi lebih relevan dari sebelumnya.
Sebuah Pertanyaan di Tengah Keramaian
Ada kalanya, keramaian justru melahirkan kesunyian. Riuh rendah suara manusia bisa saja menenggelamkan bisikan kebenaran. Inilah yang mungkin dirasakan oleh sahabat mulia, Hudzaifah ibn al-Yaman, seorang pemegang rahasia Rasulullah ﷺ. Suatu hari, beliau melihat manusia dalam jumlah besar, lalu hatinya tergerak untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang menggetarkan kepada seorang tabi’in bernama ‘Amir bin Mathar. Pertanyaan itu bukanlah tentang dunia, melainkan tentang sebuah persimpangan paling hakiki.
رَأَى حُذَيْفَةُ مِنَ النَّاسِ كَثْرَةً فَقَالَ: «يَا عَامِرَ بْنَ مَطَرٍ، كَيْفَ أَنْتَ إِذَا أَخَذَ النَّاسُ طَرِيقًا، وَأَخَذَ الْقُرْآنُ طَرِيقًا، مَعَ أَيِّهِمَا تَكُونُ؟» قُلْتُ: أَكُونُ مَعَ الْقُرْآنِ؛ أَمُوتُ مَعَهُ، وَأَحْيَا مَعَهُ، قَالَ: «فَأَنْتَ إِذًا أَنْتَ، فَأَنْتَ إِذًا أَنْتَ»
Hudzaifah melihat orang banyak, lalu beliau berkata: “Wahai ‘Amir bin Mathar, bagaimana sikapmu jika manusia menempuh satu jalan, sementara Al-Qur’an menempuh jalan yang lain. Bersama siapakah engkau akan berada?” Aku (‘Amir) menjawab: “Aku akan bersama Al-Qur’an. Aku mati bersamanya dan hidup bersamanya.” Hudzaifah berkata: “Jika begitu, maka engkau adalah engkau (pemenang sejati), jika begitu, maka engkau adalah engkau.” (Atsar diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadha’il al-Qur’an)
Pertanyaan Hudzaifah menembus ruang dan waktu. Ia tidak bertanya tentang tren mana yang sedang diikuti, atau opini mayoritas mana yang paling populer. Beliau memotret sebuah skenario yang sangat mungkin terjadi: saat jalan yang ditempuh umat manusia secara kolektif berseberangan dengan jalan yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an. Di persimpangan inilah loyalitas sejati kita diuji.
Ikrar Agung: Hidup dan Mati Bersama Al-Qur’an
Jawaban ‘Amir bin Mathar adalah sebuah permata. “Aku akan bersama Al-Qur’an; aku mati bersamanya, dan aku hidup bersamanya.” Ini adalah sebuah ikrar, sebuah sumpah setia yang melampaui kata-kata. Janji untuk hidup dan mati bersama Al-Qur’an adalah puncak dari kecintaan dan keyakinan seorang hamba.
Apa maknanya bagi kita?
- Hidup bersama Al-Qur’an
Menjadikannya kompas dalam setiap langkah. Saat dunia menawarkan gemerlap fatamorgana, cahayanya menjadi pembeda antara hak dan batil. Saat jiwa dirundung gelisah, lantunannya menjadi penawar yang menenangkan. Saat akal buntu mencari solusi, ayat-ayatnya membentangkan jalan keluar. - Mati bersama Al-Qur’an
Menghembuskan napas terakhir dengan syahadat yang terhunjam di kalbu, dengan prinsip-prinsip Qur’ani yang tak pernah lekang dari perbuatan. Sebuah penutupan yang indah, berharap kelak di hari kebangkitan, Al-Qur’an datang sebagai syafaat yang membela pemiliknya.
Inilah esensi dari komitmen sejati. Bukan sekadar membaca, tetapi meresapi. Bukan hanya menghafal, tetapi mengamalkan. Komitmen inilah yang menegaskan bahwa pilihan kita untuk hidup dan mati bersama Al-Qur’an adalah keputusan final yang tak bisa ditawar.
Penegasan Identitas Sejati: “Maka Engkaulah Dirimu”
Mendengar jawaban yang begitu mantap, Hudzaifah memberikan pujian yang luar biasa: “Maka engkau, adalah engkau. Maka engkau, adalah engkau.”
Ini bukan sekadar kalimat persetujuan. Ini adalah sebuah pengakuan identitas. Hudzaifah seolah berkata, “Dengan memilih Al-Qur’an, engkau telah menemukan jati dirimu yang sejati. Engkau telah menjadi versi terbaik dari dirimu.” Di saat banyak orang kehilangan arah, melebur dalam kerumunan tanpa identitas, orang yang memilih jalan Al-Qur’an justru menemukan esensi keberadaannya. Ia menjadi pribadi yang utuh, teguh, dan dikenali oleh langit meski tak populer di bumi. Keputusannya untuk hidup dan mati bersama Al-Qur’an telah memahat karakternya yang abadi.
Pertanyaan Hudzaifah kini sampai kepada kita. Di simpang jalan kehidupan kita hari ini—saat jalan “kebanyakan orang” menawarkan kemudahan, popularitas, dan pembenaran—dan jalan Al-Qur’an menuntut kesabaran, istiqamah, dan pengorbanan, di manakah kita akan menancapkan telapak kaki?
Semoga kita mampu menjawab dengan keyakinan yang sama seperti ‘Amir bin Mathar. Semoga ikrar untuk hidup dan mati bersama Al-Qur’an bukan hanya terucap di lisan, tetapi bersemayam di relung hati terdalam dan terwujud dalam setiap helaan napas.
Perjalanan mulia ini tentu membutuhkan bimbingan, teman seperjuangan, dan lingkungan yang senantiasa menguatkan. Sebab, berpegang pada Al-Qur’an di akhir zaman laksana menggenggam bara api. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami hadir untuk menjadi sahabat Anda dalam perjalanan menjaga bara api itu agar tetap menyala, menerangi jalan menuju keridhaan-Nya.
Daftar Referensi
- Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubayd. Fadha’il al-Qur’an. (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1995).
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


