Dalam setiap interaksi sosial, kita seringkali dihadapkan pada godaan untuk menilai, bahkan terkadang merendahkan orang lain. Fenomena mengolok-olok atau dalam istilah Islam disebut sukhriyyah, adalah perbuatan yang secara terang-terangan dilarang. Ini bukan sekadar candaan ringan, melainkan perilaku yang berpotensi merusak harga diri seseorang, memecah belah persatuan, dan pada akhirnya, mendatangkan murka Allah SWT. Mari kita selami lebih dalam hakikat sukhriyyah ini, dampaknya, serta bagaimana kita dapat menjaga diri dan lingkungan dari perilaku tercela ini.

Hakikat Sukhriyyah dan Dampaknya

Definisi dan Bentuk-bentuknya

Sukhriyyah merujuk pada tindakan merendahkan, menghina, atau memperolok orang lain, baik melalui perkataan, isyarat, mimik wajah, atau bahkan dengan menirukan gaya bicara atau tingkah laku seseorang untuk tujuan mengejek. Perbuatan ini seringkali dilandasi oleh perasaan superioritas palsu, menganggap diri lebih baik dari orang lain, atau sekadar ingin mencari hiburan dari penderitaan atau kekurangan orang lain. Dampaknya sangat luas dan merusak. Bagi korban, ia bisa menyebabkan luka batin yang mendalam, rasa malu, hilangnya kepercayaan diri, hingga timbulnya dendam. Dalam skala yang lebih besar, sukhriyyah dapat merusak tatanan sosial, memicu permusuhan, dan melemahkan ikatan persaudaraan sesama muslim.

Mengapa Islam Melarangnya?

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi martabat manusia. Setiap individu, tanpa memandang ras, suku, status sosial, atau fisik, memiliki kehormatan yang harus dijaga. Allah SWT menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan menganugerahi akal serta fitrah kemuliaan. Mengolok-olok seseorang berarti mengingkari anugerah tersebut, seolah-olah kita lebih berhak menentukan nilai seseorang dibandingkan Sang Pencipta. Larangan ini juga bertujuan untuk menjaga persatuan umat. Ketika seseorang diolok-olok, ia akan merasa tersingkir, tidak dihargai, dan ini adalah awal dari perpecahan. Islam menginginkan masyarakat yang harmonis, saling menghormati, dan tolong-menolong dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan.

Dalil-dalil Larangan Mengolok-olok

Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW secara tegas melarang perbuatan sukhriyyah. Larangan ini bukan tanpa alasan, melainkan karena dampak negatifnya yang sangat besar bagi individu maupun masyarakat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena boleh jadi) mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok); dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan-perempuan lain (karena boleh jadi) perempuan-perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan-perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Ayat ini dengan sangat jelas melarang mengolok-olok dan mencela, baik antara laki-laki maupun perempuan, serta melarang memanggil dengan gelar-gelar buruk. Pesan utamanya adalah bahwa kita tidak pernah tahu siapa yang lebih baik di sisi Allah. Penilaian manusia seringkali terbatas pada tampilan lahiriah, sedangkan kemuliaan sejati ada pada ketakwaan dan keimanan.

Selain itu, Rasulullah SAW juga telah memberikan peringatan keras terhadap perilaku merendahkan sesama muslim. Beliau bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya sesama muslim.”

(HR. Muslim no. 2564)

Hadits ini menunjukkan betapa besar dosa merendahkan atau menghina sesama muslim. Perbuatan ini sudah cukup menjadi bukti keburukan seseorang, terlepas dari amal ibadah lainnya. Ini adalah cerminan dari hati yang tidak bersih dan jiwa yang kurang menghargai ciptaan Allah.

Menjaga Lisan dan Hati: Solusi Praktis

Menghindari sukhriyyah bukanlah perkara mudah, sebab terkadang ia muncul dari kebiasaan atau lingkungan yang kurang kondusif. Namun, dengan kesadaran dan usaha, kita dapat melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Introspeksi Diri

Langkah pertama adalah melakukan introspeksi mendalam. Sebelum kita terbersit untuk mengolok-olok orang lain, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah aku lebih baik darinya? Apa jaminannya aku tidak memiliki kekurangan yang sama, atau bahkan lebih buruk?” Fokus pada kekurangan diri sendiri akan menyadarkan kita bahwa setiap manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh dosa. Dengan menyadari kelemahan diri, kita akan lebih mudah berempati dan menahan diri dari menghakimi orang lain.

Menumbuhkan Empati

Cobalah untuk menempatkan diri pada posisi orang yang diolok-olok. Bagaimana perasaan kita jika berada dalam posisi tersebut? Betapa sakitnya hati ketika kehormatan dan martabat kita direndahkan. Dengan menumbuhkan empati, kita akan lebih peka terhadap perasaan orang lain dan secara otomatis akan menghindari perkataan atau perbuatan yang menyakitkan.

Memperkuat Iman

Keyakinan yang kuat akan adanya pengawasan Allah SWT dan hari pembalasan adalah benteng terkuat. Setiap perkataan dan perbuatan kita akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban. Mengingat bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui setiap isi hati, akan membuat kita lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan berinteraksi. Kita senantiasa berusaha untuk berbuat kebaikan, termasuk dalam menjaga lisan dari hal-hal yang merusak.

Lingkungan yang Positif

Lingkungan memainkan peran penting dalam membentuk karakter kita. Bergaul dengan orang-orang yang senantiasa menjaga lisan, saling menasihati dalam kebaikan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islami akan membantu kita terhindar dari perbuatan sukhriyyah. Sebaliknya, menjauhi lingkungan yang gemar menggunjing dan mengolok-olok adalah tindakan bijak untuk melindungi diri dari pengaruh negatif.

Membangun Masyarakat Beradab

Larangan mengolok-olok bukan hanya perintah individual, melainkan juga fondasi untuk membangun masyarakat yang beradab dan harmonis. Ketika setiap individu menjaga lisannya, menghargai sesama, dan berinteraksi dengan penuh kasih sayang, maka terciptalah lingkungan yang penuh kedamaian. Ini adalah cita-cita Islam: menciptakan umat yang bersatu, saling menguatkan, dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Mari kita bersama-sama menjadi agen perubahan, dimulai dari diri sendiri, untuk menciptakan komunitas yang bebas dari sukhriyyah.

Perjalanan menjaga lisan dan hati memang tidak mudah, namun ia adalah investasi abadi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Mengapa tidak memulainya sekarang? Dengan memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran luhur Al-Qur’an, kita akan menemukan kedamaian sejati dan keberkahan dalam hidup. Untuk mendalami lebih jauh tentang Al-Qur’an dan menguatkan pondasi agama, bergabunglah dengan program pembelajaran Al-Qur’an kami. Sebuah langkah kecil yang akan membawa perubahan besar dalam hidup kita.

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Hujurat: 11
  • H.R. Muslim No. 2564

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,