Di tengah lautan informasi yang tak bertepi, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: di manakah letak kemuliaan ilmu yang sesungguhnya? Sering kali, kita melihat ilmu diperlakukan layaknya barang dagangan, ditawarkan ke sana kemari demi secercah pengakuan atau materi. Namun, para ulama salaf telah mewariskan sebuah prinsip agung yang menjadi benteng penjaganya, yaitu keharusan untuk menjaga kemuliaan ilmu dengan tidak merendahkannya di hadapan pesona dunia yang fana.
Marwah Ilmu: Permata yang Tak Ternilai
Ilmu, dalam pandangan para pendahulu kita yang saleh, bukanlah sekadar kumpulan data atau teori. Ia adalah cahaya dari Allah, sebuah kehormatan (`izzah`) dan kemuliaan (`sharaf`) yang dititipkan kepada para pewaris nabi. Karena statusnya yang begitu tinggi, maka ia harus dijaga dari segala noda ketamakan dan ambisi duniawi. Menjaganya berarti tidak mengotorinya dengan membawanya kepada mereka yang tidak berhak, atau merendahkannya dengan mendatangi para pembesar dunia tanpa ada kebutuhan yang mendesak.
Prinsip ini bukanlah tentang kesombongan, melainkan tentang menjaga martabat sumber dari segala ilmu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah sendiri yang mengangkat derajat para pemilik ilmu, sebagaimana firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“…Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).
Ketika Allah telah memuliakannya, maka tugas kita adalah melanjutkan kemuliaan tersebut dalam adab dan sikap kita, baik sebagai penuntut maupun pengajar.
Ketegasan Para Salaf dalam Memuliakan Ilmu
Sejarah telah mengabadikan kisah-kisah agung tentang bagaimana para ulama terdahulu memegang teguh prinsip ini. Sikap mereka menjadi cermin bagi kita tentang bagaimana seharusnya ilmu diperlakukan.
Imam Malik: “Ilmu Itu Didatangi, Bukan Mendatangi”
Kisah Imam Malik bin Anas, sang imam Dar al-Hijrah, adalah contoh paling masyhur. Suatu ketika, Khalifah Al-Mahdi memanggilnya untuk mengajarkan kedua putranya. Dengan penuh hormat namun tegas, Imam Malik berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ilmu itu lebih pantas untuk didatangi dan dihormati.” Dalam riwayat lain, beliau menegaskan, “Ilmu itu diziarahi (dikunjungi), bukan menziarahi. Ia didatangi, bukan mendatangi.”
Di kesempatan lain, Khalifah Harun Ar-Rasyid memintanya untuk datang ke istana dan membacakan kitab Al-Muwaththa’ khusus untuk putra-putranya. Jawaban Imam Malik kembali menggetarkan jiwa:
“Semoga Allah memuliakanmu, wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya ilmu ini bersumber dari kalian (keluarga Nabi). Jika kalian memuliakannya, maka ia akan mulia. Namun, jika kalian merendahkannya, maka ia akan menjadi rendah. Dan ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.”
Mendengar jawaban tersebut, sang Khalifah tersadar dan berkata, “Engkau benar. Keluarlah kalian (putra-putraku) ke masjid, agar kalian bisa mendengar sebagaimana orang lain mendengar.” Inilah puncak dari adab, di mana seorang penguasa tunduk pada kemuliaan ilmu.
Mengapa Penting Menjaga Kemuliaan Ilmu dengan Tidak Merendahkannya?
Sikap para ulama ini bukanlah tanpa alasan. Terdapat hikmah mendalam di baliknya yang sangat relevan untuk kita renungkan hari ini. Dengan memahami pentingnya menjaga kemuliaan ilmu dengan tidak merendahkannya, kita akan menemukan kembali keberkahan yang hilang.
Pertama, ia menanamkan rasa rendah hati pada penuntut ilmu. Ketika seseorang harus berjuang, berjalan, dan berkorban untuk mendapatkan ilmu, ia akan lebih menghargainya. Perjalanan mencari ilmu adalah bagian dari proses tarbiyah (pendidikan) jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R. Muslim).
Kata “menempuh jalan” (سَلَكَ طَرِيقًا) menunjukkan adanya usaha aktif dari pencari, bukan pasif menanti untuk didatangi.
Kedua, ia melindungi niat sang pengajar dari godaan duniawi. Ketika seorang alim tidak silau dengan status atau kekayaan muridnya, ilmunya akan tetap murni dan tulus. Ia mengajar karena Allah, bukan karena mengharap imbalan atau kedudukan dari manusia.
Refleksi bagi Kita: Pentingnya Menjaga Kemuliaan Ilmu dengan Tidak Merendahkannya
Lalu, bagaimana kita menerapkan prinsip mulia ini di zaman modern? Tentu bukan berarti kita harus menjadi pribadi yang kaku dan sulit diakses. Konteksnya adalah tentang menjaga prinsip dasar dan marwah ilmu itu sendiri.
Bagi Penuntut Ilmu
Bagi kita yang sedang belajar, mari tanamkan dalam diri semangat untuk “mendatangi” ilmu. Datangilah majelis-majelis taklim dengan niat tulus, hormati guru-guru kita, dan jangan pernah merasa lebih tinggi dari ilmu itu sendiri. Kerendahan hati kita di hadapan ilmu adalah kunci terbukanya pintu pemahaman dan keberkahan.
Bagi Pengajar Ilmu
Bagi kita yang diamanahi untuk mengajar, mari kita jaga niat. Fokus kita adalah menyebarkan cahaya Al-Qur’an dan Sunnah, bukan mencari popularitas atau keuntungan materi. Dengan konsisten menjaga kemuliaan ilmu dengan tidak merendahkannya, kita tidak hanya mengajar materi, tetapi juga menanamkan adab dan karakter mulia kepada para murid.
Pada akhirnya, kemuliaan ilmu akan tetap terjaga jika para pengembannya—baik guru maupun murid—sama-sama memuliakannya. Ia adalah warisan berharga yang cahayanya tidak akan pernah padam selama kita menjaganya sesuai dengan tuntunan para ulama terdahulu yang saleh.
Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi penjaga-penjaga ilmu yang amanah, yang senantiasa memuliakannya di atas segala pesona dunia. Karena sesungguhnya, ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.
Bagi Anda yang merindukan sebuah lingkungan belajar Al-Qur’an di mana adab dan kemuliaan ilmu menjadi prioritas utama, kami mengajak Anda untuk mengenal lebih dekat program-program di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sini, kita bersama-sama berusaha menghidupkan kembali spirit para salaf dalam menuntut dan menjaga ilmu Kalamullah.
Daftar Referensi
- Al-Husain bin Al-Mansur Billah Al-Qasim. (n.d.). Ādāb al-ʿUlamāʾ wa al-Mutaʿallimīn.
- Al-Qur’an, Surah Al-Mujadilah: 11.
- Hadits Riwayat Muslim.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


