Setiap interaksi kita dengan Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan ruhani. Bagi seorang pembimbing Al-Qur’an, perjalanan itu memiliki dimensi yang lebih dalam: sebuah amanah untuk tidak hanya mengajarkan huruf dan hukum bacaan, tetapi juga untuk mewujudkan kemuliaan Al-Qur’an dalam setiap helaan napas dan tindakannya. Kemuliaan ini terwujud dalam sebuah konsep agung yang disebut izzah, yaitu kehormatan dan harga diri yang bersumber dari Allah. Inilah mahkota tak kasat mata yang harus senantiasa kita jaga, sebab ia lebih berharga dari apa pun yang ditawarkan oleh dunia.

Memurnikan Niat, Menjaga Kehormatan

Imam Al-Ajurri dalam kitabnya yang ringkas namun sarat makna, Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an, memberikan sebuah nasihat yang menembus jantung kesadaran kita. Beliau mengingatkan bahwa seorang pengajar Al-Qur’an yang mendedikasikan ilmunya untuk Allah semata, hendaknya menjaga jiwanya dari meminta-minta atau memanfaatkan muridnya untuk kepentingan pribadi. Sekecil apa pun itu, entah meminta tolong untuk sebuah urusan, atau menjadikan mereka sebagai perantara untuk memenuhi hajat duniawi.

Pesan ini bukanlah sekadar etika biasa, melainkan sebuah benteng pertahanan bagi niat. Ketika kita mulai terbiasa meminta bantuan dari murid, sadar atau tidak, sebuah celah halus mulai terbuka. Celah ini berpotensi mengotori keikhlasan, mengubah relasi suci antara guru dan murid menjadi hubungan transaksional yang terselubung. Proses mulia mengajarkan Kalamullah bisa ternodai oleh harapan-harapan duniawi. Inilah mengapa menjaga izzah guru Qur’an dari kepentingan duniawi adalah pondasi utama dalam memuliakan Al-Qur’an itu sendiri.

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan di bawah adalah orang yang meminta.

(H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi cermin bagi kita. Posisi seorang guru adalah posisi “tangan di atas”, tangan yang menebar ilmu, cahaya, dan kebaikan. Ketika tangan itu mulai menengadah untuk meminta sesuatu dari muridnya, martabat dan kehormatannya secara perlahan bisa terkikis.

Adab Agung: Solusi Mengetuk Pintu Langit

Lalu, bagaimana jika seorang guru memiliki kebutuhan mendesak? Apakah ia harus memendamnya seorang diri? Imam Al-Ajurri tidak meninggalkan kita dalam kebingungan. Beliau memberikan solusi yang sangat indah dan mengangkat derajat seorang mukmin.

Pertama: Pintu Langit Selalu Terbuka

Langkah pertama dan utama adalah menengadahkan tangan kepada Sang Pemilik segala kebutuhan, Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah esensi dari tauhid dan puncak dari penghambaan. Dengan meminta langsung kepada-Nya, kita sedang menegaskan keyakinan bahwa hanya Allah-lah tempat bergantung. Inilah wujud nyata dari ikrar yang selalu kita ucapkan dalam shalat.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (Q.S. Al-Fatihah: 5)

Mengamalkan ayat ini adalah bentuk paling murni dari menjaga izzah guru Qur’an dari kepentingan duniawi. Kita menjaga kehormatan diri dari merendah di hadapan makhluk, dan sebagai gantinya, kita bersimpuh di hadapan Al-Khaliq.

Kedua: Memilih Perantara yang Tepat

Jika memang harus meminta bantuan manusia, Imam Al-Ajurri menyarankan untuk meminta kepada orang lain yang bukan murid kita. Mengapa demikian? Karena ini adalah upaya preventif untuk menjaga kemurnian hubungan ilmu. Dengan cara ini, tidak ada potensi rasa sungkan, beban, atau perasaan “berhutang budi” dari pihak murid yang dapat mengganggu proses belajarnya. Guru tetap menjadi sumber ilmu yang murni, dan murid tetap menjadi pencari ilmu yang tulus.

Indahnya Syukur Saat Bantuan Datang Tanpa Diminta

Ada kalanya, tanpa kita meminta, Allah menggerakkan hati hamba-hamba-Nya untuk membantu kita. Seseorang dari murid atau kolega kita datang menawarkan solusi atas kesulitan yang mungkin tidak pernah kita utarakan. Di sinilah letak keindahan adab berikutnya yang diajarkan oleh Imam Al-Ajurri.

Ketika ini terjadi, urutan syukurnya sangatlah penting:

  1. Bersyukur kepada Allah. Ucapkan hamdalah karena dua nikmat besar. Pertama, Allah telah menjaga kita dari kehinaan meminta-minta kepada manusia. Kedua, Allah telah memudahkan urusan kita melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Inilah bukti kasih sayang-Nya yang nyata.
  2. Bersyukur kepada Manusia. Setelah bersyukur kepada Allah, wajib bagi kita untuk berterima kasih kepada orang yang telah menjadi perantara kebaikan tersebut. Mengucapkan “terima kasih” atau “jazakallah khairan” adalah bentuk pengakuan atas kebaikannya dan wujud dari akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah. Tidak berterima kasih kepada manusia adalah tanda kurangnya rasa syukur kepada Allah.

Sikap ini menunjukkan kedewasaan spiritual yang luar biasa. Kita mengakui bahwa segala pertolongan hakikatnya datang dari Allah, namun kita juga menghargai wasilah (perantara) kebaikan yang Allah kirimkan. Inilah puncak dari seni menjaga izzah guru Qur’an dari kepentingan duniawi: tetap mulia saat membutuhkan dan tetap rendah hati saat menerima.

Pada akhirnya, kemuliaan seorang guru Al-Qur’an tidak diukur dari seberapa banyak fasilitas dunia yang ia dapatkan dari profesinya. Kemuliaan sejatinya terletak pada kemampuannya menjaga kehormatan diri, memurnikan niat hanya untuk Allah, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya bagi dirinya sebelum menjadi cahaya bagi orang lain. Dengan inilah, keberkahan ilmu akan mengalir deras, bukan hanya di lisan, tetapi meresap hingga ke dalam sanubari.

Memahami dan mengamalkan adab mulia ini adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan kita bersama Al-Qur’an. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami meyakini bahwa menghafal Al-Qur’an adalah sebuah proses membangun karakter, bukan sekadar menumpuk hafalan. Mari bersama-sama menumbuhkan akhlak Qur’ani yang sejati dalam setiap interaksi kita dengan Kalamullah.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Fatihah: 5.
  • Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Hakim bin Hizam.
  • Al-Ajurri, Muhammad bin al-Husain. Mukhtashar Akhlaq Hamalatil Qur’an. Dar Ibnul Jauzi.

 

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri