Dalam perjalanan hidup, seringkali kita melihat fenomena manusia berkumpul dalam berbagai kelompok. Ada yang bersatu padu dalam visi, namun tak jarang pula kita menyaksikan kelompok-kelompok yang tercerai-berai, seolah berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas. Fenomena ini, dalam konteks Al-Qur’an, memiliki makna mendalam yang patut kita renungkan, terutama ketika Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya dengan istilah ‘izin’.
Kata ‘izin’ disebutkan dalam firman-Nya dalam Surah Al-Ma’arij ayat 37. Para mufasir menjelaskan bahwa ‘izin’ merujuk pada sekelompok orang yang tercerai-berai, membentuk lingkaran atau kelompok-kelompok kecil, baik di sebelah kanan maupun kiri, menjauh dari jalan utama. Seperti yang dijelaskan oleh para ulama terdahulu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkannya sebagai “الحلق الرفاق” (al-halaq ar-rifaq), yaitu kumpulan atau lingkaran yang terpisah-pisah. Gambaran ini diperkuat dengan contoh dari syair seorang penyair jahiliyah, Ubaid bin Al-Abras, yang menggambarkan orang-orang berkerumun membentuk lingkaran-lingkaran di sekitar mimbar.
عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ
Artinya: “(yang datang) dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok.” (Q.S. Al-Ma’arij: 37)
Ayat ini menggambarkan orang-orang kafir Makkah yang datang mengerumuni Rasulullah ﷺ dari segala arah, namun dengan hati yang terpecah, tidak dalam satu barisan keimanan. Mereka datang berbondong-bondong, tetapi bukan untuk menerima kebenaran, melainkan untuk mencibir, mengejek, atau menentang. Ini adalah gambaran visual tentang perpecahan dan ketidakharmonisan, bahkan ketika berada dalam satu tempat atau tujuan fisik. Namun, makna ‘izin’ melampaui sekadar kerumunan fisik; ia mencerminkan kondisi spiritual dan mental yang terpecah-belah.
Bahaya Perpecahan Hati dan Jalan yang Tersebar
Dalam kehidupan spiritual kita, bahaya terbesar dari ‘izin’ adalah ketika hati dan pikiran kita tercerai-berai dari jalan lurus Allah. Kita mungkin sibuk dengan berbagai aktivitas, mengejar banyak ambisi, atau bahkan terlibat dalam berbagai kelompok, tetapi jika semua itu tidak berlandaskan pada satu tujuan dan satu kebenaran, maka kita telah terjatuh ke dalam kondisi ‘izin’ spiritual. Hati kita tidak lagi fokus pada Allah dan Rasul-Nya, melainkan tercerai-berai mengikuti hawa nafsu atau ajakan yang menyesatkan.
Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan kita jalan yang lurus, jalan yang satu dan terang. Dia berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-An’am: 153)
Ayat ini dengan tegas memperingatkan kita untuk tidak mengikuti jalan-jalan lain yang bisa memecah belah kita dari jalan Allah yang lurus. Ketika kita memilih untuk mengikuti berbagai “jalan” yang berbeda, baik itu ideologi, pemahaman, atau kelompok, tanpa kembali pada sumber utama Al-Qur’an dan Sunnah, maka kita akan menjadi ‘izin’, tercerai-berai dan kehilangan kekuatan. Kekuatan umat Islam terletak pada persatuan di atas kebenaran, bukan pada jumlah yang banyak namun terpecah belah.
Fondasi Persatuan: Mengikat Hati dengan Tali Allah
Sebaliknya, Islam mengajarkan kita untuk bersatu. Bukan persatuan semu yang hanya mengumpulkan fisik, tetapi persatuan hati yang diikat oleh tali Allah. Persatuan sejati lahir dari keimanan yang kokoh, dari pemahaman yang benar akan Al-Qur’an dan Sunnah, serta dari niat tulus untuk beribadah hanya kepada Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini adalah seruan yang amat kuat untuk persatuan. Tali Allah adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Ketika kita berpegang teguh padanya, hati kita akan menyatu, dan kita akan terhindar dari perpecahan yang menyesatkan. Allah mengingatkan kita tentang nikmat persaudaraan, bagaimana Dia menyatukan hati yang dulunya bermusuhan, dan menyelamatkan kita dari jurang neraka dengan karunia-Nya.
Mengatasi ‘izin’ dalam Diri: Refleksi dan Perbaikan
Untuk menghindari menjadi ‘izin’, kita perlu mulai dari diri sendiri. Pertama, adalah dengan melakukan introspeksi mendalam. Apakah hati kita benar-benar terfokus pada Allah? Ataukah ia telah terpecah-pecah mengikuti berbagai ajakan duniawi? Mengkaji ulang prioritas hidup, membersihkan niat, dan memperbanyak zikir dapat membantu menyatukan kembali fokus hati.
Kedua, mendalami ilmu agama dengan benar. Belajar Al-Qur’an dan memahami maknanya, serta mempelajari hadits-hadits shahih, adalah pondasi untuk memiliki pemahaman yang utuh dan tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai pandangan. Ilmu yang benar akan menjadi cahaya penuntun yang menyatukan pemikiran kita pada kebenaran yang hakiki.
Kekuatan dalam Kebersamaan yang Benar
Setelah menguatkan diri secara individu, langkah selanjutnya adalah mencari lingkungan yang mendukung persatuan di atas kebenaran. Bergabung dengan komunitas yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, akan menjaga kita dari terperosok ke dalam ‘izin’ sosial. Dalam kebersamaan yang benar, kita akan menemukan kekuatan, dukungan, dan ketenangan.
Menghindari ‘izin’ berarti secara sadar menolak segala bentuk perpecahan, baik dalam pemahaman maupun tindakan. Itu berarti kita harus selalu merujuk kembali kepada Al-Qur’an sebagai pedoman utama dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan. Dengan demikian, kita akan membentuk barisan yang kokoh, bukan kumpulan yang tercerai-berai, dan bersama-sama meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
Marilah kita senantiasa menjaga hati dan langkah kita agar tidak menjadi bagian dari ‘izin’ yang tercerai-berai. Sebaliknya, mari kita berupaya menjadi hamba-hamba Allah yang bersatu padu di atas kebenaran, saling menguatkan, dan berjuang bersama di jalan-Nya. Dengan persatuan hati, kita akan menjadi umat yang kokoh, menebarkan rahmat ke seluruh alam, dan mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Persatuan di atas Al-Qur’an adalah kunci keberkahan dan kekuatan kita sebagai umat.
Jika kita ingin memperkuat fondasi keimanan dan persatuan ini dengan mendalami Al-Qur’an secara intensif, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi rumah bagi perjalanan spiritual kita. Bergabunglah dalam program Executive Tahfizh untuk menyatukan hati dalam kecintaan dan penghafalan Kalamullah.
Daftar Referensi
- Q.S. Al-Ma’arij: 37
- Q.S. Al-An’am: 153
- Q.S. Ali ‘Imran: 103
- Kitab Tafsir Shamela.ws: Al-Itqan fi Ulumil Qur’an oleh Imam As-Suyuthi dan sumber tafsir lainnya yang menjelaskan makna ‘izin’.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

