Di setiap perjalanan meniti kemuliaan, tak jarang kita menemukan kerikil-kerikil kecil yang berpotensi menghambat langkah. Salah satunya adalah perasaan iri, bahkan dalam lingkungan yang seharusnya paling suci, seperti halaqah tahfizh Qur’an. Ketika melihat teman seperjuangan lebih cepat dalam muraja’ah, lebih lancar dalam setoran, atau lebih indah tilawahnya, terkadang ada secuil getaran di hati yang sukar kita namai selain iri. Namun, apakah perasaan ini selalu negatif? Bagaimana kita mengelolanya agar justru menjadi pendorong kebaikan?

Hakikat Perasaan Iri: Manusiawi atau Merusak?

Perasaan iri adalah fitrah manusia. Sejak dahulu kala, manusia telah diuji dengan kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Dalam konteks penghafal Qur’an, iri bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mungkin kita iri dengan kemampuan teman yang dengan mudah menghafal satu lembar dalam sehari, sementara kita berjuang mati-matian untuk beberapa baris saja. Atau kita iri dengan kelancaran setoran teman yang seolah tanpa cela, sementara kita masih sering tersendat.

Jika dibiarkan tanpa kendali, perasaan iri ini bisa menjelma menjadi “hasad” yang dilarang dalam Islam. Hasad adalah keinginan agar nikmat yang ada pada orang lain itu hilang, berpindah kepada kita, atau bahkan sekadar menghilang saja. Ini adalah penyakit hati yang merusak, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi keharmonisan sebuah komunitas. Hasad dapat memicu permusuhan, melahirkan prasangka buruk, dan mengikis keikhlasan dalam beramal. Padahal, kita bersama-sama mengemban misi mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui Al-Qur’an.

Perbedaan antara Hasad dan Ghilbah

Penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara hasad (iri dengki yang merusak) dan ghilbah (iri yang diperbolehkan). Ghilbah, atau lebih tepatnya hasad mahmud, adalah keinginan untuk memiliki kebaikan serupa yang dimiliki orang lain, tanpa sedikit pun mengharapkan hilangnya kebaikan tersebut dari orang lain. Justru, kita termotivasi untuk mengejar kebaikan itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا حَسَدَ إلَّا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتاهُ اللَّهُ القُرْآنَ فَهو يَقُومُ به آناءَ اللَّيْلِ وآناءَ النَّهارِ، ورَجُلٌ آتاهُ اللَّهُ مالًا فَهو يُنْفِقُهُ آناءَ اللَّيْلِ وآناءَ النَّهارِ.

Artinya: “Tidak ada iri hati (yang terpuji) kecuali pada dua hal: (Pertama) seseorang yang dianugerahi Allah (kemampuan membaca dan menghafal) Al-Qur’an, lalu ia membacanya di waktu malam dan siang, (Kedua) seseorang yang dianugerahi Allah harta, lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan siang.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa kita boleh merasa “iri” atau termotivasi untuk meniru kebaikan orang lain, khususnya dalam hal menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an, serta dalam berinfak. Inilah jenis iri yang membangun, yang mengubah getaran negatif menjadi energi positif untuk berpacu dalam kebaikan.

Mengubah Iri Menjadi Energi Positif

Bagaimana caranya mengubah kecenderungan iri menjadi pendorong kebaikan dalam perjalanan tahfizh kita? Ada beberapa langkah praktis yang bisa kita terapkan:

1. Introspeksi dan Luruskan Niat

Langkah pertama adalah kembali kepada niat awal kita menghafal Al-Qur’an. Apakah murni karena Allah, mengharapkan ridha-Nya, ataukah ada tendensi untuk dipuji manusia atau mengungguli teman? Seringkali, iri muncul karena niat kita belum sepenuhnya lurus. Mari renungkan, “Untuk siapa aku menghafal?” Jika jawabannya adalah karena Allah, maka keberhasilan teman seharusnya tidak mengurangi pahala kita, bahkan justru bisa menjadi penyemangat. Sucikan niat, dan perasaan iri akan perlahan sirna digantikan keikhlasan.

2. Sadari Hikmah di Balik Karunia Allah

Setiap orang memiliki takdir dan karunia yang berbeda-beda dari Allah. Ada yang dianugerahi kecepatan menghafal, ada yang dianugerahi ketekunan, ada yang dianugerahi pemahaman yang mendalam, ada yang dianugerahi suara indah. Semua adalah pemberian dari Allah, sesuai hikmah dan keadilan-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisa: 32)

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak iri atas kelebihan orang lain, melainkan untuk berusaha meraih karunia-Nya dan memohon kepada-Nya. Setiap dari kita memiliki porsi dan peran masing-masing. Fokuslah pada potensi dan kelebihan yang Allah anugerahkan kepada kita, lalu maksimalkanlah.

3. Fokus pada Perjalanan Diri Sendiri

Setiap santri tahfizh memiliki “trek” dan kecepatan yang berbeda. Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, fokuslah pada progres diri sendiri. Bandingkanlah diri kita hari ini dengan diri kita kemarin. Apakah ada peningkatan? Adakah istiqamah? Ini akan lebih produktif daripada terpaku pada pencapaian teman. Rayakan setiap kemajuan kecil yang kita raih, sekecil apa pun itu. Penghafal Qur’an sejati memahami bahwa ini adalah marathon, bukan sprint.

4. Ubah Kompetisi Menjadi Kolaborasi

Lingkungan halaqah idealnya adalah tempat saling mendukung, bukan arena persaingan yang tidak sehat. Ketika melihat teman berhasil, jadikan itu sebagai bukti bahwa keberhasilan itu mungkin terjadi. Kita bisa bertanya, “Apa rahasianya?” Belajar dari strategi teman yang efektif, jadikan mereka inspirasi, bukan saingan. Kita bisa berdiskusi, saling menguji hafalan, atau bahkan membentuk kelompok belajar kecil untuk saling menguatkan.

5. Kekuatan Doa dan Dukungan Bersama

Ketika perasaan iri muncul, ubahlah menjadi doa. Doakan kebaikan bagi teman yang kita “iri” padanya. Doakan agar Allah memberkahinya dan menambah ilmunya. Mendoakan kebaikan untuk orang lain adalah salah satu cara terbaik untuk membersihkan hati dari hasad. Selain itu, doakan juga diri kita sendiri agar diberi kemudahan, ketekunan, dan keikhlasan dalam menghafal. Doa adalah senjata mukmin yang paling ampuh. Dengan saling mendoakan, kita membangun ikatan ukhuwah yang kuat dan lingkungan yang penuh berkah.

Membangun Budaya Halaqah yang Saling Mendukung

Untuk menghindari penyakit hati seperti iri, penting bagi setiap halaqah untuk menumbuhkan budaya saling mendukung dan menghargai. Para pengajar perlu berperan aktif dalam membimbing santri untuk memahami pentingnya keikhlasan dan persaudaraan. Setiap keberhasilan santri, sekecil apapun, patut diapresiasi. Hal ini akan memupuk rasa percaya diri dan mengurangi keinginan untuk membandingkan diri secara negatif. Mari kita ciptakan suasana di mana setiap anggota halaqah merasa aman, nyaman, dan termotivasi untuk berproses bersama menuju ridha Allah.

Kesimpulan: Bersama Meraih Mahkota Kemuliaan

Perjalanan menghafal Al-Qur’an adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Ia adalah jalan menuju kemuliaan di dunia dan akhirat. Jangan biarkan kerikil kecil bernama iri menghalangi langkah kita. Dengan introspeksi, meluruskan niat, memahami hikmah Allah, fokus pada diri, dan saling mendoakan, kita bisa mengubah setiap getaran iri menjadi energi positif. Mari kita terus bersemangat, menginspirasi, dan saling mendoakan dalam setiap langkah hafalan kita. InsyaAllah, kita semua akan meraih mahkota kemuliaan Al-Qur’an dan menjadi generasi Qur’ani yang bermanfaat bagi umat.

Jika Anda merasakan panggilan hati untuk mendalami Al-Qur’an secara intensif dengan bimbingan terbaik, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi rumah Anda. Mari bergabung dan rasakan pengalaman belajar yang penuh kehangatan dan motivasi.

Daftar Referensi

  • Q.S. An-Nisa: 32
  • H.R. Bukhari No. 7525 (Kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah, Bab Al-Ightibath fi Ilmu wal Hikmah)

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,