Bagaimana Mengatasi Rasa “Iri” Saat Melihat Kecepatan Hafalan Orang Lain?

Saya tahu rasanya. Ada semacam gemuruh di dada yang sulit dijelaskan.

Kita sudah berjuang mati-matian, menyisihkan waktu di sela kesibukan, dan berusaha fokus di tengah rasa lelah, namun progres hafalan terasa begitu lambat. Lalu, kita melihat teman—atau bahkan anak kecil—yang baru sebentar mulai menghafal, tiba-tiba posisinya sudah jauh di depan. Ia seolah melesat tanpa hambatan.

Perasaan itu—campuran antara kekaguman, kejutan, dan sedikit rasa tertekan—itulah yang sering kita sebut sebagai rasa iri dalam menghafal Al-Qur’an. Sejujurnya, perasaan ini manusiawi. Namun, jika tidak dikelola, ia bisa menjadi tembok penghalang yang membuat kita berhenti.

Mari kita ubah perasaan ini menjadi bahan bakar yang sehat. Yuk, kita bahas, Sahabat Qur’an.

Mengapa Kita Merasa Tertinggal?

Saat membandingkan diri, sering kali yang kita lihat hanyalah hasil akhir orang lain: jumlah juz yang sudah mereka hafal. Kita jarang melihat proses di baliknya—air matanya, malam-malam tanpa tidurnya, atau pengorbanan waktu yang ia lakukan bertahun-tahun sebelum kita mengenalnya.

Perasaan “iri” ini sebetulnya adalah sinyal. Sinyal bahwa kita punya potensi dan keinginan untuk melakukan hal yang sama. Dalam Islam, ada jenis iri yang justru dianjurkan, yang disebut Ghibthah. Ini adalah keinginan untuk memiliki kebaikan yang dimiliki orang lain, tanpa mengharapkan nikmat itu hilang dari mereka. Ini adalah cemburu yang konstruktif.

\n

لا حَسَدَ إلَّا علَى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتاهُ اللَّهُ القُرْآنَ فَهو يَقُومُ به آناءَ اللَّيْلِ وآناءَ النَّهارِ، ورَجُلٌ آتاهُ اللَّهُ مالًا فَهو يُنْفِقُهُ آناءَ اللَّيْلِ وآناءَ النَّهارِ.

\n

\”Tidak boleh ada hasad (iri) kecuali terhadap dua hal: (pertama) seorang yang diberi Allah Al-Qur’an lalu ia membacanya siang dan malam, dan (kedua) seorang yang diberi Allah harta lalu ia menginfakkannya siang dan malam.\” (HR. Bukhari)

\n

Perhatikan, hadis ini menggunakan kata Hasad, yang biasanya berkonotasi negatif, tetapi dalam konteks ini bermakna keinginan kuat (ghibthah). Artinya, jika Anda merasa cemburu melihat seseorang lancar berinteraksi dengan Al-Qur’an, itu adalah tanda bahwa hati Anda hidup. Itu adalah fitrah yang seharusnya menjadi motivasi terbesar.

“Dia Kok Cepat Banget Hafalnya? Susah Gak Sih?”

Pertanyaan ini sering kali menghantui benak kita. Kita cenderung menganggap kecepatan hafalan sebagai indikator utama keberhasilan. Padahal, menghafal Al-Qur’an itu ibarat lari maraton, bukan lari sprint.

Faktor yang membuat seseorang terlihat ‘cepat’ sangat kompleks:

  • Mungkin ia memiliki daya ingat luar biasa (karunia Allah).
  • Mungkin ia meluangkan waktu jauh lebih banyak dari kita.
  • Mungkin ia sangat disiplin dalam Muraja’ah (pengulangan).
  • Atau, mungkin ia sudah menguasai dasar tajwid dan bahasa Arab sejak lama.

Intinya, kecepatan orang lain sering kali adalah “ilusi” yang tercipta karena kita tidak melihat proses di belakang layar. Jangan fokus pada kecepatan orang lain, tetapi fokuslah pada konsistensi kita sendiri.

Kualitas Jauh Lebih Penting daripada Kecepatan

Sahabat Qur’an, saat berhadapan dengan rasa iri ini, kembalilah pada tujuan awal: bukan sekadar “khatam” 30 juz, tetapi menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup.

Bagi kita yang memiliki kesibukan kerja, mengurus keluarga, atau tanggung jawab lainnya, kunci utamanya bukanlah kecepatan, melainkan Istiqamah. Satu ayat yang diulang seratus kali jauh lebih baik daripada satu halaman yang hanya diulang dua kali lalu terlupakan esok hari.

Cobalah definisikan ulang arti kesuksesan. Sukses itu bukan “berapa banyak yang kita hafal hari ini”, tapi “apakah kita membaca Qur’an hari ini?”. Istiqamah kecil, meski hanya lima belas menit sehari, akan membangun gunung pahala di masa depan. Fokuslah pada kualitas hafalan (Mutqin) daripada sekadar kuantitas.

Hargai Setiap Langkah Kecil (Pahala Ganda)

Setiap orang punya ‘jatah’ ujiannya masing-masing. Mungkin Allah memperlambat kecepatan hafalan kita bukan karena kita kurang cerdas, melainkan karena Dia ingin kita lebih menghargai proses, lebih banyak berdoa, dan lebih sering merenungkan makna ayat tersebut. Perjalanan tahfizh adalah sekolah kesabaran.

Ingatlah kabar gembira dari Rasulullah ﷺ bagi mereka yang terbata-bata. Jika teman kita yang lancar mendapatkan pahala bacaan, maka kita yang masih berjuang dan tersendat, insya Allah mendapatkan dua pahala:

  1. Pahala membaca.
  2. Pahala atas kesulitan/kesungguhan yang kita hadapi.

Bukankah ini justru keuntungan bagi kita?

Ubah Perbandingan Menjadi Doa

Langkah paling praktis ketika rasa iri itu menyeruak adalah segera mengubahnya menjadi doa.

Ketika melihat seorang Sahabat Qur’an memiliki hafalan yang kokoh, angkat tangan (atau ucapkan dalam hati): “Ya Allah, berkahilah dia, dan anugerahkanlah aku juga kemampuan serta istiqamah sepertinya.”

Selain mendoakan, jadikan mereka inspirasi. Daripada iri, tanyakan: “Bagaimana cara muraja’ahmu?” atau “Apa rutinitas yang kamu jaga?”. Pelajari strategi mereka dan sesuaikan dengan kondisi kita.

Penutup: Kita Berlari di Lintasan Kita Sendiri

Perjalanan menghafal adalah perjalanan personal (privat) antara kita dengan Allah SWT. Jangan biarkan standar atau kecepatan orang lain mencuri kenikmatan dan pahala yang sedang kita raih.

Teruslah melangkah, walau selambat siput. Kecepatan mungkin terlihat menarik, tetapi konsistensi adalah kekuatan super yang sesungguhnya. Semoga Allah senantiasa menguatkan hati kita dan menjadikan setiap huruf yang kita baca sebagai cahaya di hari Kiamat kelak.

Daftar Referensi

  • Shahih Al-Bukhari, Kitabul Ilmi, Hadits No. 73

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

\nFlyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh\n
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,