Dalam riuhnya kehidupan yang kerap menuntut perhatian kita pada berbagai hal, pernahkah kita merenung sejenak tentang ke mana sebenarnya energi dan waktu kita tercurah? Setiap detik, setiap tarikan napas, adalah anugerah tak ternilai yang seyogianya kita manfaatkan secara optimal. Namun, tanpa kesadaran yang mendalam, kita bisa saja terjebak dalam pusaran aktivitas yang sejatinya tidak mengantarkan kita pada tujuan hakiki, bahkan mengikis ketenangan jiwa dan mengaburkan pandangan akan esensi keberadaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala, melalui lisan Nabi-Nya yang mulia, telah mengajarkan sebuah prinsip fundamental yang jika kita selami dan amalkan, akan menghadirkan keindahan dan kesempurnaan dalam berislam. Sebuah petuah yang menuntun kita untuk menyaring setiap interaksi, setiap perkataan, dan setiap perbuatan yang kita lakukan. Hadits yang dimaksud adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”

Hadits yang dikategorikan sebagai hadits hasan oleh Imam At-Tirmidzi ini, meskipun para ulama memiliki diskusi tentang jalur periwayatannya, namun maknanya adalah sebuah permata kebijaksanaan yang tak terbantahkan kebenarannya. Ia mengajarkan kita tentang bagaimana merajut pribadi muslim yang berkualitas, yang tak hanya shalih secara ritual, tetapi juga berdaya guna dalam setiap aspek kehidupannya.

Memahami Makna “Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat”

Frasa “ما لا يعنيه” atau “hal yang tidak bermanfaat” memiliki spektrum makna yang luas. Ia tidak hanya merujuk pada hal-hal yang terang-terangan haram atau makruh, melainkan juga mencakup segala sesuatu yang mubah (boleh) namun tidak memberikan nilai tambah, baik bagi dunia maupun akhirat kita. Ini bisa berupa perkataan sia-sia, obrolan kosong yang tak berujung, terlalu banyak bertanya tentang hal yang tidak perlu, mencari tahu aib orang lain, atau bahkan larut dalam hiburan yang melalaikan dari kewajiban.

Mari kita refleksikan, berapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk sekadar menggulir layar media sosial, menyimak gosip yang tak berfaedah, atau sibuk mengurusi urusan orang lain yang bukan menjadi tanggung jawab kita? Setiap menit yang terbuang itu sebenarnya bisa kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menambah ilmu, atau berbuat kebaikan yang nyata. Meninggalkan yang tidak bermanfaat adalah sebuah langkah awal untuk menjaga kemurnian hati dan kejernihan pikiran, membebaskan diri dari belenggu distraksi yang menguras energi dan mengikis fokus.

Mengapa Penting Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat?

Ada sebuah keutamaan meninggalkan yang tidak bermanfaat dan fokus pada yang penting yang luar biasa. Ketika kita memutuskan untuk tidak ikut campur dalam perkara yang bukan urusan kita, atau menahan lisan dari ucapan yang tak berfaedah, kita sejatinya sedang melindungi diri dari potensi dosa, permusuhan, dan penyesalan. Ini adalah bentuk penjagaan diri yang sangat luhur, sebuah perisai yang menjaga kehormatan dan martabat kita sebagai seorang muslim.

Di sisi lain, praktik ini melatih kita untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana, yang mampu memilah antara prioritas dan hal sekunder, antara yang substansial dan yang remeh-temeh. Kita menjadi lebih selektif dalam memilih teman bicara, bahan bacaan, dan tontonan, sehingga lingkungan kita pun turut menjadi lebih positif dan mendukung pertumbuhan spiritual.

Fokus pada yang Penting: Kunci Meraih Keberkahan

Jika satu sisi koin adalah “meninggalkan yang tidak bermanfaat”, maka sisi lainnya yang tak kalah penting adalah “fokus pada yang penting”. Setelah kita membersihkan diri dari hal-hal yang sia-sia, maka ruang yang kosong itu harus diisi dengan perkara-perkara yang mendatangkan manfaat. Inilah esensi dari keutamaan meninggalkan yang tidak bermanfaat dan fokus pada yang penting: mengubah pola pikir dan tindakan kita secara total.

Lantas, apa saja yang termasuk dalam kategori “yang penting” itu? Tentu saja, puncaknya adalah segala bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah, menuntut ilmu syar’i, membaca dan menghafal Al-Qur’an, berzikir, serta melakukan amal shalih yang dampaknya terasa bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Allah berfirman dalam Surah Al-Asr:

وَالْعَصْرِ ۙ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۙ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۙ﴿٣﴾

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-Asr: 1-3)

Surah yang singkat namun padat makna ini menegaskan bahwa waktu adalah modal yang sangat berharga, dan kerugian akan menimpa siapa saja yang tidak mengisinya dengan keimanan, amal shalih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ini adalah seruan untuk sungguh-sungguh mengisi setiap jengkal kehidupan dengan hal yang produktif dan bernilai ukhrawi.

Membangun Kebiasaan Produktif

Menerapkan prinsip ini membutuhkan latihan dan kesungguhan. Kita bisa mulai dengan mengidentifikasi “penguras waktu” terbesar dalam keseharian kita, kemudian secara bertahap mengurangi atau menghilangkannya. Gantilah dengan kebiasaan positif, seperti meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, mempelajari tafsirnya, mendengarkan ceramah agama, atau melakukan kegiatan yang mengembangkan potensi diri.

Ketika kita mengalihkan fokus dari hal-hal yang tidak penting kepada yang substansial, kita akan merasakan kedamaian batin, peningkatan kualitas hidup, dan keberkahan dalam setiap aktivitas. Kita menjadi lebih hadir (present) dalam setiap momen, tidak lagi mudah terdistraksi oleh hiruk pikuk duniawi yang tak ada habisnya. Inilah keutamaan meninggalkan yang tidak bermanfaat dan fokus pada yang penting yang akan membawa kita pada tangga kesuksesan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

Marilah kita bersama-sama melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih selektif, lebih fokus, dan lebih bermakna. Jadikan setiap detik sebagai peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah, menambah pahala, dan memberikan kontribusi terbaik bagi sesama. Karena sesungguhnya, kebaikan Islam kita tercermin dari sejauh mana kita mampu menahan diri dari yang sia-sia dan memilih untuk berjuang di jalan kebaikan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk memahami dan mengamalkan setiap ajaran Rasulullah ﷺ, agar hidup kita senantiasa dipenuhi keberkahan dan senantiasa berada dalam ridha-Nya. Untuk Anda yang bertekad kuat dalam mewujudkan impian menghafal Al-Qur’an dan mendalami Islam, mari bergabung bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta, sebuah wadah untuk menempa diri menjadi generasi Qur’ani yang berilmu dan berakhlak mulia.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Hadits Riwayat At-Tirmidzi (No. 2318) dan Ibnu Majah (No. 3976) dari Abu Hurairah.
  • Al-Qur’an Surah Al-Asr, Ayat 1-3.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,