Setiap dari kita mungkin pernah memimpikan sebuah peran, sebuah amanah, atau sebuah posisi yang memungkinkan kita memberi dampak lebih luas. Namun, di tengah riuhnya ambisi, seringkali kita melupakan esensi dari persiapan itu sendiri. Sebuah nasihat abadi dari para salafush shalih mengingatkan kita pada fondasi yang rapuh jika dibangun tergesa-gesa. Ini bukan sekadar tentang meraih jabatan, tetapi tentang menjadi pribadi yang pantas mengembannya. Inilah kesadaran mendalam tentang bahaya merasa cukup dengan ilmu sebelum jadi pemimpin, sebuah jebakan sunyi yang bisa meruntuhkan segalanya.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah wasiat singkat namun menggetarkan:
تفقهوا قيل إن تسودوا
Artinya, “Pelajarilah ilmu agama secara mendalam sebelum kalian diangkat menjadi pemimpin.” Pesan ini digemakan kembali dengan nada yang lebih tegas oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah: “Pelajarilah ilmu sebelum engkau memimpin. Sebab, jika engkau telah menjadi pemimpin, maka tidak ada lagi jalan bagimu untuk mempelajarinya.”
Mengapa Ilmu Harus Mendahului Kepemimpinan?
Nasihat agung di atas bukanlah sekadar anjuran, melainkan sebuah formula strategis untuk membangun kepemimpinan yang kokoh dan tercerahkan. Ketika seseorang telah berada di puncak, pintu untuk belajar seringkali tertutup oleh dua penghalang besar: kesibukan dan kesombongan. Jadwal yang padat, rapat yang tak berkesudahan, dan tanggung jawab yang menumpuk membuat waktu untuk duduk tafakur di hadapan seorang guru menjadi barang mewah. Lebih berbahaya lagi adalah penghalang kedua, yakni gengsi. Hati bisa tergelincir pada perasaan “saya sudah pemimpin, untuk apa lagi belajar?” Inilah titik awal dari kejatuhan yang tidak disadari.
Kepemimpinan tanpa ilmu laksana kapal tanpa kompas. Ia mungkin berlayar dengan gagah, namun arahnya tak menentu, mudah terombang-ambing oleh badai kebingungan dan ombak syubhat. Seorang pemimpin akan dihadapkan pada ribuan keputusan, dan setiap keputusan membutuhkan landasan ilmu agar tidak terjerumus dalam kezaliman atau kesalahan fatal. Ilmu adalah cahaya yang menuntunnya membedakan antara yang hak dan yang batil, antara maslahat dan mafsadat. Tanpa cahaya itu, ia hanya akan meraba-raba dalam kegelapan.
Jebakan Terbesar: Bahaya Merasa Cukup dengan Ilmu Sebelum Jadi Pemimpin
Musuh terbesar seorang penuntut ilmu bukanlah kesulitan materi pelajaran, melainkan perasaan “sudah sampai” di dalam dirinya. Perasaan inilah yang digambarkan sebagai bahaya merasa cukup dengan ilmu sebelum jadi pemimpin. Said bin Jubair, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in, memberikan diagnosis yang sangat akurat:
لا يزال الرجل عالمًا ما تعلم، فإذا ترك التعلم وطن أنه قد استغنى فهو اجهل ما يكون
“Seseorang akan senantiasa menjadi orang berilmu selama ia terus belajar. Namun, apabila ia berhenti belajar dan menyangka bahwa dirinya telah cukup (berilmu), maka saat itulah ia menjadi orang yang paling bodoh.”
Betapa menakutkan! Kebodohan paling pekat justru datang saat kita merasa paling pintar. Ini adalah penyakit ‘ujub, memandang diri dengan mata kesempurnaan dan merasa tidak lagi membutuhkan bimbingan para guru (masyayikh). Kitab “Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta’allimīn” mengingatkan bahwa sikap seperti ini adalah inti dari kebodohan dan sempitnya pengetahuan. Sebab, ilmu yang belum ia raih jauh lebih banyak daripada yang telah ia kumpulkan. Allah SWT mengingatkan kita untuk selalu rendah hati dalam mencari kebenaran:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl: 43).
Ayat ini adalah perintah universal untuk terus bertanya, terus merasa butuh, dan terus mencari. Ia adalah obat penawar bagi penyakit merasa cukup dengan ilmu.
Waspadai Gejala Bahaya Merasa Cukup dengan Ilmu Sebelum Jadi Pemimpin
Bagaimana kita bisa mendeteksi virus berbahaya ini dalam diri? Ada beberapa gejala awal yang patut kita waspadai. Ketika kita mulai enggan bertanya karena takut dianggap tidak tahu. Ketika kita mulai defensif saat menerima nasihat atau koreksi. Ketika kita meremehkan ilmu dari orang yang usianya lebih muda atau status sosialnya lebih rendah. Saat itulah lonceng peringatan harus berbunyi. Ini adalah tanda bahwa gelas kita mulai penuh dengan ego, bukan dengan ilmu. Kesadaran akan bahaya merasa cukup dengan ilmu sebelum jadi pemimpin harus menjadi tameng kita setiap saat.
Jalan Menuju Kematangan: Dari Belajar Menuju Bijaksana
Lalu, bagaimana jalan yang benar itu? Jalan yang benar adalah jalan kesabaran dan kerendahan hati. Prosesnya panjang: mengkaji, menelaah, dan mengulang-ulang berbagai cabang ilmu dari kitab-kitab para ulama yang masyhur. Proses ini bukan untuk mengumpulkan gelar, melainkan untuk membentuk karakter dan kedalaman berpikir.
Ketika fondasi itu telah kokoh, barulah seseorang pantas untuk naik ke tingkat selanjutnya: menyusun karya, membandingkan pendapat para ulama, dan menavigasi perbedaan pendapat (khilafiyah) dengan sikap yang adil (inshāf). Adil dalam memandang dalil, adil dalam memahami konteks, dan adil dalam menghormati pendapat yang berbeda. Inilah puncak dari ilmu, yaitu kebijaksanaan. Sebuah derajat mulia yang Allah janjikan.
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).
Pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan yang dilandasi ilmu dan ketakwaan. Ia lahir dari proses pembelajaran seumur hidup, dari kesadaran bahwa kita tidak akan pernah “selesai” belajar. Mari kita terus mengisi bejana diri kita dengan ilmu, membersihkannya dari noda kesombongan, dan memohon kepada Allah agar kita tidak termasuk orang-orang yang berhenti belajar. Karena saat kita berhenti, saat itulah kita benar-benar tertinggal.
Semoga Allah membimbing kita untuk menjadi pembelajar sejati, yang semakin berisi semakin merunduk, hingga kita layak memegang amanah apa pun yang dipercayakan kepada kita.
Bagi Anda yang terpanggil untuk memulai atau melanjutkan perjalanan mulia dalam menghafal dan memahami Al-Qur’an, Qur’an Learning Center Yogyakarta membuka pintu seluas-luasnya. Kami mendampingi Anda dengan metode yang sistematis dan lingkungan yang mendukung untuk membangun fondasi ilmu yang kokoh sebelum mengemban amanah yang lebih besar.
Daftar Referensi
- Q.S. An-Nahl: 43
- Q.S. Al-Mujadilah: 11
- Al-Husain bin al-Mansur Billah. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta’allimīn.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


