Kehidupan ini seringkali mengajarkan kita tentang nilai sebuah pemberian dan balasan. Transaksi, imbalan, dan pengakuan seolah menjadi mata uang yang tak terpisahkan dari setiap usaha. Namun, bagaimana jika ada sebuah pengabdian yang melampaui segala bentuk materi? Pengabdian yang murni, terbebas dari pamrih duniawi, semata-mata karena cinta kepada-Nya, tanpa mengharap kecuali ridha dari Sang Pemberi hidup. Inilah esensi dari keikhlasan mengabdi kepada Al-Qur’an tanpa pamrih, sebuah prinsip agung yang diwariskan dari generasi salaf. Melalui teladan mereka, kita diajak untuk menelusuri kedalaman makna berkhidmat pada Kalamullah, menjaga kemurnian niat, dan membangun fondasi spiritual yang kokoh dalam berinteraksi dengan wahyu ilahi.

Kisah-kisah para sahabat Nabi dan generasi setelahnya selalu menjadi mercusuar penerang bagi kita. Mereka adalah potret nyata bagaimana iman termanifestasi dalam tindakan, bagaimana keikhlasan menjadi penentu kualitas setiap amal. Salah satu kisah yang patut kita renungi adalah dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat mulia yang memberikan pelajaran berharga tentang hakikat pengabdian tulus kepada Al-Qur’an.

Teladan Agung Sahabat Nabi dalam Mengagungkan Kalamullah

Dalam riwayat yang terekam indah, kita dapati sebuah narasi yang menggetarkan jiwa. Diceritakan oleh Ali bin Tsabit, dari Yunus bin Abi Ishaq, dari ayahnya, bahwa:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ يُونُسَ بْنِ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَمَرَ مُصْعَبُ بْنُ الزُّبَيْرِ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ أَنْ يُصَلِّي، بِالنَّاسِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، فَلَمَّا أَفْطَرَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ بِخَمْسِمِائَةِ دِرْهَمٍ وَحُلَّةٍ، فَرَدَّهَا وَقَالَ: «مَا كُنْتُ لِآخُذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا»

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ali bin Tsabit, dari Yunus bin Abi Ishaq, dari ayahnya, ia berkata: Mush’ab bin Az-Zubair memerintahkan Abdullah bin Mughaffal untuk mengimami manusia shalat di bulan Ramadhan. Maka, ketika ia telah berbuka (selesai puasa), Mush’ab mengirimkan kepadanya lima ratus dirham dan satu set pakaian. Lalu Abdullah bin Mughaffal mengembalikannya seraya berkata: ‘Aku tidak akan mengambil upah atas Al-Qur’an’.”

Kisah ini, yang tercatat dalam Kitab Fadhail Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, memancarkan cahaya keutamaan seorang hamba yang memandang Al-Qur’an sebagai karunia tak ternilai, yang tidak pantas ditukar dengan imbalan duniawi. Abdullah bin Mughaffal dipercaya untuk memimpin shalat Tarawih, sebuah amanah besar di bulan suci Ramadhan. Setelah menunaikan tugasnya dengan sempurna, datanglah hadiah dari Mush’ab bin Az-Zubair, berupa sejumlah harta dan pakaian yang mewah. Sebuah bentuk penghargaan yang wajar menurut standar manusia.

Jawaban yang Menggetarkan Jiwa: “Aku Tidak Akan Mengambil Upah atas Al-Qur’an”

Namun, respons Abdullah bin Mughaffal sungguh di luar dugaan. Dengan penuh ketegasan dan kelembutan jiwa, ia mengembalikan semua pemberian itu, disertai dengan pernyataan yang menjadi pengingat abadi bagi kita: “Aku tidak akan mengambil upah atas Al-Qur’an.” Jawaban ini bukan sekadar penolakan hadiah, melainkan sebuah deklarasi kemurnian niat, sebuah penegasan bahwa interaksinya dengan Al-Qur’an adalah ibadah murni yang hanya dipersembahkan kepada Allah SWT.

Pernyataan ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang kedudukan Al-Qur’an. Ia bukanlah alat pencari nafkah, bukan komoditas yang bisa diperdagangkan, melainkan kalam ilahi yang agung. Mengimami shalat dengan Al-Qur’an adalah sebuah kehormatan, bukan pekerjaan yang membutuhkan gaji. Abdullah bin Mughaffal ingin memastikan bahwa pahala atas pengabdiannya kepada Al-Qur’an hanya datang dari Allah, Zat Yang Maha Kaya, bukan dari makhluk.

Mengapa Keikhlasan Mengabdi kepada Al-Qur’an Tanpa Pamrih Begitu Penting?

Prinsip keikhlasan mengabdi kepada Al-Qur’an tanpa pamrih memiliki akar yang sangat dalam dalam ajaran Islam. Ia bukan hanya tentang menolak harta, tetapi tentang memurnikan hati, meluruskan tujuan, dan meletakkan fondasi yang benar dalam setiap amal ibadah.

Menjaga Kemurnian Niat dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Niat adalah ruh dari setiap amal. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menegaskan bahwa inti dari agama adalah keikhlasan dalam beribadah. Ketika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik membacanya, menghafalnya, mengajarkannya, maupun mengamalkannya, niat kita haruslah murni karena Allah. Mencari imbalan duniawi dari Al-Qur’an dapat mengikis keberkahan, mengurangi pahala, bahkan menghilangkan makna ibadah itu sendiri. Mengabdi pada Al-Qur’an adalah sebuah kehormatan besar, sebuah jembatan menuju surga, yang keindahan pahalanya tak tertandingi oleh seluruh harta benda dunia.

Membangun Generasi Qur’ani Berjiwa Rabbani

Prinsip ini sangat krusial dalam membentuk generasi yang mencintai Al-Qur’an dengan segenap hati. Generasi Qur’ani bukan hanya yang mahir membaca atau hafal juz-juznya, tetapi mereka yang hatinya terpaut pada Allah melalui Kalam-Nya. Dengan menanamkan nilai keikhlasan mengabdi kepada Al-Qur’an tanpa pamrih, kita melahirkan pribadi-pribadi yang berjiwa rabbani, yang fokus pada keridaan Ilahi daripada pujian manusia atau keuntungan materi. Mereka akan menjadi agen perubahan yang tulus, berdakwah dengan hikmah, dan membawa cahaya Al-Qur’an ke seluruh penjuru kehidupan tanpa beban pamrih.

Menghindari Fitnah Harta dalam Pengabdian Ilmiah

Dunia ini penuh godaan, dan harta seringkali menjadi ujian terberat. Bagi para ulama, penghafal, dan pengajar Al-Qur’an, fitnah harta bisa datang dalam berbagai bentuk. Abdullah bin Mughaffal mengajarkan kita untuk waspada. Meskipun syariat memperbolehkan seorang pengajar menerima upah atas waktu dan tenaganya dalam mengajar, esensi dari hadits ini adalah peringatan agar kita tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai ‘alat’ untuk mencari penghidupan semata. Niat utama harus tetap mengajar karena Allah, sedangkan imbalan adalah sebagai sarana penopang agar bisa terus berdedikasi. Membedakan antara ‘mengambil upah atas Al-Qur’an’ (seolah Al-Qur’an adalah barang dagangan) dengan ‘mendapatkan nafkah atas waktu dan jerih payah dalam mengajarkan Al-Qur’an’ adalah kunci untuk memahami nuances dalam masalah ini. Tujuan utama tetaplah menyebarkan ilmu dan petunjuk, bukan mengumpulkan harta.

Aplikasi Praktis Keikhlasan Mengabdi kepada Al-Qur’an Tanpa Pamrih di Era Modern

Bagaimana prinsip agung ini kita terapkan dalam kehidupan kontemporer, di mana kebutuhan materi tak bisa dielakkan? Jawabannya terletak pada pembenahan niat dan prioritas.

Guru Al-Qur’an: Antara Dedikasi dan Kebutuhan Duniawi

Bagi para guru dan penghafal Al-Qur’an, pelajaran dari Abdullah bin Mughaffal sangat relevan. Niat pertama dan utama haruslah karena Allah, untuk menyebarkan ilmu-Nya, dan meraih pahala dari-Nya. Kompensasi finansial yang diterima adalah sebagai bentuk penghargaan atas waktu, tenaga, dan keahlian yang dicurahkan, serta sebagai sarana untuk melanjutkan dakwah dan pendidikan. Hal ini berbeda dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai ‘media’ untuk ‘berdagang’. Penting bagi kita untuk senantiasa mengevaluasi niat, agar keikhlasan mengabdi kepada Al-Qur’an tanpa pamrih tetap menjadi landasan utama.

Pembelajar Al-Qur’an: Memurnikan Niat Menuntut Ilmu

Tak hanya bagi pengajar, prinsip ini juga berlaku bagi para pembelajar. Kita belajar Al-Qur’an bukan sekadar untuk mendapatkan nilai bagus, ijazah, atau pujian dari orang lain. Niat kita adalah untuk memahami Kalamullah, mengamalkannya, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap huruf yang dibaca adalah investasi akhirat, setiap hafalan yang melekat adalah cahaya di hati. Dengan niat yang lurus, proses belajar akan menjadi lebih berkah dan hasilnya akan lebih mendalam, karena dorongan utama bukanlah hasil duniawi, melainkan keridaan Ilahi.

Mengajak Masyarakat Kembali kepada Ruh Al-Qur’an

Kisah ini juga menjadi seruan bagi seluruh umat untuk mendukung dan mengapresiasi para pengabdi Al-Qur’an dengan cara yang benar. Memberi dukungan adalah kebaikan, namun yang terpenting adalah menumbuhkan kesadaran bahwa Al-Qur’an adalah hidayah yang tak ternilai. Dengan demikian, kita bersama-sama menumbuhkan semangat keikhlasan mengabdi kepada Al-Qur’an tanpa pamrih, mewujudkan masyarakat yang cinta Al-Qur’an dengan segenap jiwa, bukan karena dorongan materi, melainkan karena keagungan-Nya.

Kita diajak untuk meneladani kemuliaan akhlak Abdullah bin Mughaffal. Keikhlasan beliau dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah sebuah mahkota bagi setiap hamba yang ingin meraih cinta Allah. Marilah kita jadikan Al-Qur’an sebagai tujuan tertinggi dalam hidup, bukan sebagai tangga menuju ambisi duniawi yang fana. Semoga setiap interaksi kita dengan Kalamullah senantiasa dilandasi oleh niat yang tulus, semata-mata mengharap wajah-Nya.

Jika Anda merasakan panggilan jiwa untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, meneladani para salaf dalam menghafal dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan, Qur’an Learning Center Yogyakarta dengan program Executive Tahfizh hadir sebagai jembatan. Mari bergabung, wujudkan cita-cita mulia menghafal Al-Qur’an dengan bimbingan terbaik, melatih hati untuk senantiasa ikhlas mengabdi kepada-Nya.

Daftar Referensi

  • Kitab Fadhail Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, halaman 208, bab “Al-Qari’ Yasta’kilu bil Qur’an wa Yurza’u ‘alaihil Amwal wa ma fi dzalika minal Karahah wat Tashdid” (https://shamela.ws/book/12524/329#p1).
  • Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah: 5.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,